OPINI Paskah: Pemulihan Hati dan Akal Budi 20 Apr 2025 08:01
Perayaan paskah mengajak umat Kristiani untuk bangkit dan menjadi sumber terang bagi yang lain.
Oleh Yoseph P. Seran
Perayaan askah kali ini sedikit berbeda. Umat Kristiani merayakannya dalam bingkai tahun Yubelium; tahun pembebasan dari hukuman dosa, sebuah jalan menuju pertobatan sejati. Paskah bagi umat Kristiani merupakan perayaan spiritual; sebuah pemulihan atas penderitaan.
Paskah bagi umat Kristiani juga dimaknai sebagai perayaan atas wafat, penderitaan dan kebangkitan. Itu berarti, perayaan Paskah memberi harapan baru, dan penghidupan yang layak bagi setiap insan dari kotak keterpurukan yang terkunci lama.
Tahun ini, saya merayakan Paskah bersama keluarga di Ruteng, Manggarai. Dalam perjalanan panjang dari Pulau Timor menuju Pulau Flores, saya mengamati secara seksama hampir di setiap titik lintasan trans Timor menuju Kota Kupang, ada banyak salib yang terpajang kokoh dilengkapi dengan pancaran lampu warna-warni.
Begitu pun ketika saya menginjakkan kaki di Pulau Flores. Ada sejumlah titik terpasang salib di pinggir jalan. Tidak sebanyak yang ada di Timor. Sebuah fenomena spiritual yang sedikit bergeser dari sebelumnya.
Muncul pertanyaan di benak saya, apakah salib yang terpajang adalah simbol serimonial paskah atau sebuah pemaknaan terdalam atas kesadaran nurani umat manusia?
Pemulihan Hati dan Logika
Perayaan Paskah yang dirayakan umat Kristiani di NTT harus menjadi sebuah perayaan pemulihan hati dan pola pikir - kesempatan untuk menjernihkan hati dan pikiran. Bukan sebuah perayaan serimonial ke-agama-an.
Paskah menjadi perayaan hati dan akal budi. Artinya, semua umat Kristen manjadi medium untuk bertindak dan berpikir secara jernih dalam pemulihan hidup. Bangkit dari keterpurukan hidup.
Perayaan paskah menjadi perayaan kesadaran untuk pemulihan luka penindasan, pemulihan atas kemiskinan, konflik, pemulihan atas luka ekologis.
Paskah menjadi peristiwa iman yang memampukan setiap orang untuk memutus mata rantai mafia human trafficking, pelecehan seksual, bunuh diri, dan persoalan kemanusiaan lainnya yang masih menjamur di NTT.
Bangkit dan Menjadi Terang Bagi 'Yang Lain'
NTT merupakan salah satu daerah dengan jumlah umat Kristen (Katolik dan Protestan) terbanyak di Indonesia. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, 90,56% penduduk NTT beragama Kristen (53,74% Katolik dan 36,82% Protestan). Sisanya merupakan pemeluk agama lainnya (Islam, Budha dan Hindu).
Dengan presentasi jumlah penduduk terbesar di NTT, seyogyanya tidak lagi ada alasan NTT masih menabung banyak kejahatan.
Perayaan paskah mengajak umat Kristiani untuk bangkit dan menjadi sumber terang bagi yang lain. Dan itu menjadi tugas setiap orang. Tidak hanya tugas tokoh rohaniawan.
Menjadi lebih menarik, jumlah kepala daerah se-NTT sebagian besar lahir dari agama Kristen, tumbuh dan dibentuk dalam kotak pedagogik kristiani, tetapi menjadi sangat miris melihat realitas yang terjadi di NTT.
Umat Kristen, terutama para pemimpin di NTT harus menjadi 'terang' bagi yang lain. Harus menjadi suluh di tengah kegelapan yang paling gelap di NTT.
Semoga perayaan paskah tahun ini, dan simbol salib yang terpajang di tepi jalan Trans-timor, hingga sejumlah titik di Pulau Flores, bukan sekedar hiasan di saat Paskah, tetapi menjadi simbol kesadaran spiritual - yang bertolak dari nurani dan akal budi umat Kristiani untuk kembali dan bangkit dari keterpurukan hidup. Selamat Pesta Paskah. ***
Penulis adalah jurnalis, tinggal di Malaka, Nusa Tenggara Timur
Komentar