Breaking News

KOLOM “Aku Heran Yang Benar Disingkirkan” (Mengenang Musik Pembebasan Frangky Sahilatua) 20 Apr 2017 12:00

Article image
Musisi Indonesia almaruhum Frangky Sahilatua. (Foto: ist)
Franky telah pergi namun rohnya harus tetap hidup untuk Indonesia. Di tengah situasi bangsa penuh kekerasan, ia mengajarkan kita untuk mencintai damai.

Oleh Gazpar Araja

Siapa tidak kenal lagu “Kemesraan” yang dinyanyikan Iwan Fals itu? Itu hanya satu dari sekian banyak lagu ciptaan musisi legendaris Indonesia, Franky Sahilatua. Musisi ini meninggal di Jakarta, 20 April 2011 lalu, pada umur 57 tahun. Franky,  lahir 16 Agustus 1953,  adalah penyanyi balada kelahiran Surabaya. Namanya dikenal publik sejak dekade 1970-an, ketika ia berduet bersama adiknya, Jane Sahilatua, dengan nama “Franky & Jane”. Duet ini sempat menghasilkan lima belas album.

Awalnya, lirik lagu Franky, pada masa “Franky & Jane”, cenderung merefleksikan pemujaan pada alam, misalnya lagu Musim Bunga dan Kepada Angin dan Burung. Namun, Franky gemar pula "bercerita" mengenai kehidupan orang sehari-hari, seperti lagu Perjalanan atau Bis Kota. Sejak tahun 1990-an, Franky banyak terlibat dalam aksi-aksi panggung bertema sosial dan nasionalisme. Ia juga terlibat aktif dalam masa peralihan politik dari Orde Baru menuju Reformasi, serta dalam gerakan anti globalisasi. Beberapa albumnya seperti Terminal, Orang Pinggiran, Menangis, dan Perahu Retak, berisikan kegelisahanya pada Indonesia yang sedang sakit, serta teriakannya untuk keadilan bagi orang-orang kecil.

Frangky bukan musisi yang terobsesi mengumbar glora asmara dalam lagu-lagunya. Ia musisi rakyat, musisi sosial, seorang musisi yang selalu peduli pada persoalan masyarakat. Baginya musik bukan hanya perkara nada, tapi juga rangkaian nada dan lirik yang membawa pesan pembebasan. Roh inilah yang membuat Franky menjadi seorang musisi yang produktif serta selalu peduli dengan realitas sosial politik yang tidak adil.

Musik dan pembebasan

Di mana-mana kita bisa mendengarkan musik. Namun, musik cenderung dilihat sebagai sarana penghibur semata. Kita dapat menyaksikan tayangan media, khususnya televisi, yang selalu menampilkan musik-musik hiburan disertai latar tari dan panggung yang menakjubkan. Event-event musik pun hanya sekadar untuk menghibur para penonton agar bisa berdansa dan melompat-lompat. Apakah musik hanya sebatas itu?

Adalah Adorno, filsuf besar Jerman yang berbicara soal musik. Menurutnya, musik (seni) mengandung dua muatan sekaligus, yaitu unsur pengalaman estetis (keindahan) dan mimesis (kebenaran). Unsur estetis tampak dalam kehendak seniman untuk mengangkat pengalaman estetisnya yang mendalam ke dalam karya seni agar dapat ditangkap oleh penikmat seni. Sedangkan unsur mimesis tampak dalam usaha seniman untuk mengangkat nilai kebenaran, yaitu realitas masyarakat yang ada. Adorno menekankan bahwa unsur mimesis ini haruslah bersifat transformatif. Maka Adorno memproklamasikan “seni untuk masyarakat”.

Adorno menulis: “Dalam seni kita tidak semata-mata berhadapan dengan permainan-permainan (playthings) menyenangkan dan berguna. Seni terutama adalah pewahyuan kebenaran.” Musik dengan demikian bersifat mesianistik, yakni membebaskan manusia dari segala belenggu ideologis yang meliputinya.

Frangky menjalankan misi pembebasan seperti itu. Lagu-lagunya seakan manantang jargon ‘seni untuk seni’ sebagaimana pernah dikumandangkan para proklamator ‘manifes kebudayaan’ pada era 60-an. Ia, seperti Adorno, beropsi pada seni yang membawa pembebasan dan transformasi sosial. ‘Seni bukan hanya untuk seni, seni juga untuk masyarakat.’ Lirik-lirik lagunya sederhana, namun menyentuh kenyataan. Ia gelisah dan serentak berhasil menangkap kegelisahan masyarakat yang kerap sulit terkatakan kepada penguasa. Ia gelisah akibat gelombang ketidakadilan yang terus merenggut bangsanya. Lagu “Perahu Retak” menjadi salah satu yang bersuara bagi keadilan di pertiwi Indonesia.

“Aku heran yang salah dipertahankan, aku heran yang benar disingkirkan. Aku heran satu kenyang, seribu kelaparan, aku heran keserakahan diagungkan”.

Franky berteriak mengungkapkan keheranan dan keprihatinannya akan “perahu Indonesia” yang sedang retak namun tak dipedulikan banyak orang. Indonesia sudah ‘oleng’ diterba gelombang ketakadilan, namun juga telah kehilangan “budaya heran”. Adalah biasa jika yang salah dibenarkan dan yang benar dipenjarakan. Adalah biasa bila panggung politik jadi medan atraksi keserakahan dan pasar jual beli martabat rakyat kecil. Pembiasaan seperti itulah yang membiangi kemiskinan dan pemiskinan yang menjadi-jadi juga memunculkan ancaman serius disintegrasi bangsa. Karenanya Franky berpekik kepada seluruh bangsa Indonesia lewat nada dan syairnya “Di bawah Tiang Bendera”: “Pada tanah yang sama kita berdiri, pada air yang sama kita berjanji, karena darah yang sama jangan bertengkar, karena tulang yang sama jangan berpencar Indonesia.”

Dari NTT untuk Indonesia

“Franky Sahilatua, delapan hari lalu masih meminta merasakan daging ikan paus dari Lamalera. Tiga hari lalu kami memutuskan merebus sekerat kulit ikan paus dengan daun bunga papaya. Dua minggu lalu ia berbicara di telpon karena ingin mendengar lagu ‘Namaku Bolelebo’ yang ia ciptakan untuk aku nyanyikan. Lagu pertamanya bernuansa etnis adalah lagu ‘E Wada’, menjelang kejatuhan Soeharto. Ia suka senandungkan lagu ‘Mai Fali e’. Ia juga menulis lagu ‘Ikan dan Kelapa’ dalam bahasa Ende. Kami sama-sama turun ke jalan bersuara untuk Tibo dan ia menulis lagunya”.

Demikianlah kisah singkat yang ditulis Ivan Nestorman, seorang musisi asal Manggarai, Flores yang sudah berkarya bersama Frangky. Kisah ini ditulisnya pada Rabu 20 April 2011 sebagai status pada akun facebook di grup “Keluarga Seniman Flobamora”.

Franky, lahir di Jawa, namun hatinya juga ada di Timur Indonesia; Flobamorata. Kisah singkat Ivan Nestorman menjadi saksi betapa Franky dekat dengan NTT. Franky juga mau bersuara dari dan untuk Indonesia Timur. Ada beberapa lagu yang Franky nyanyikan bersama Ivan; Lagu “Ewada”, yang sebagian liriknya juga ditulis dalam bahasa Manggarai, merupakan sebuah doa mohon Tuhan turun tangan atas nasib bangsa Indonesia; karena Dia adalah pemilik kehidupan. “Ewada, Ewada cau le Mori mese (Ewada, Tuhanlah pemilik kehidupan).

Ia juga prihatin akan nasib Tibo yang tak bersalah namun dihukum mati. Ia ikut merasakan, menangis dan berteriak, melagukan kepedihan yang dirasakan oleh “saudarannya” Tibo. Salah satu verse-nya menunjukkan bahwa orang-orang kecil selalu menjadi korban: Tibo, hanya orang kecil, tapi besar jiwanya. Mengapa harus ada yang selalu dikorbakan. Mengapa harus ada yang selalu dikalahkan.

Ia berkarya dari NTT untuk Indonesia.  Kedekatan dengan orang NTT menjadi tanda bahwa bagi Frangky, tidak ada perbedaan antara aku dan kau. Kita semua adalah “keluarga Indonesia”, karena itu kita harus berjuang untuk kebaikan Indonesia. Keterbukaan untuk berkarya dengan orang dari budaya lain dengan menggunakan bahasa orang lain menunjukkan bahwa yang lebih penting bagi Frangky adalah Indonesia, bukan aku, bukan keluargaku dan bukan budayaku semata. Kecintaanya pada “keluarga Indonesia” ia tuangkan dalam lagunya “Kita semua sama”: kita diciptakan semua sama adanya. Kita semua adalah sama tanpa harta apakah ada keangkuhan. Kita semua adalah sama. Tanpa jabatan apakah ada wibawa.”

Frangky telah pergi namun rohnya harus tetap hidup untuk Indonesia. Di tengah situasi bangsa penuh kekerasan, ia mengajarkan kita untuk mencintai damai. Perlawanan tidak harus dengan jalan kekerasan. Kekerasan melawan kekerasan justru akan menimbulkan kekerasan baru yang sulit berujung. Perlawanan tanpa kekerasan (ahimsa ala Mahatma Gandi) menjadi kebajikan yang ia tinggalkan untuk Indonesia. Musik bukan hanya sekadar nada yang bernyanyi, tapi juga kata yang berbicara demi kebenaran dan pembebasan bagi orang-orang kecil. Selamat jalan Frangky!           

 

Penulis adalah musisi dan pencinta budaya, tinggal di Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags:
Kolom

Komentar