PARIWISATA "Masin Lulik": Aroma Minarai, Destinasi Wisata Alam dan Daya Magis 05 Nov 2026 18:32
Di puncaknya, terdapat kawah yang mengeluarkan lumpur beraroma minyak tanah, warga menyebutnya dengan nama Minarai.
Oleh: Oktaf M. Klau, S.Fil*
Di pesisir selatan Kabupaten Malaka, tepatnya di kawasan Wemasa, perbatasan Motamasin, terdapat sebuah tempat yang sungguh unik dan sakral -- Masin Lulik. Namanya berasal dari bahasa Tetun: "Masin" yang berarti garam atau rasa asin, dan "Lulik" yang berarti suci, keramat, sakral. Sebuah nama yang menceritakan dua hal sekaligus: lokasinya yang dikelilingi air laut yang asin, dan keberadaannya yang dihormati sebagai tempat keramat oleh masyarakat sekitar.
Masin Lulik: "Rumah Para Leluhur"
Bagi masyarakat setempat, Masin Lulik bukan sekadar nama di peta. Ia diyakini sebagai rumah abadi bagi para leluhur. Setiap orang yang berpulang, diyakini akhirnya menuju dan menetap di Masin Lulik.
Para pelaut yang pernah bermalam di area ini menceritakan pengalaman yang membuat bulu kuduk meremang: pada saat senja, terdengar suara-suara seolah ada kehidupan di sana. Ada suara orang memanggil babi dengan seruan "oh oh oh...", terdengar denting gong, bahkan irama tarian Likurai -- seolah-olah di sana sedang berlangsung penyambutan meriah bagi jiwa yang baru saja tiba di rumah para leluhur.
Bukit Putih yang Mengeluarkan Aroma Minyak Tanah
Keunikan Masin Lulik tidak hanya dari kisah spiritualnya, tetapi juga fenomena alamnya yang luar biasa.
Terdapat tiga bukit kecil berwarna putih, satu berdiri sendiri dan dua lainnya berdampingan.
Di puncaknya, terdapat kawah yang mengeluarkan lumpur beraroma minyak tanah, warga menyebutnya dengan nama Minarai.
Terdapat lumpur yang meleleh ke bawah perlahan mengering terkena panas matahari, mengeras, dan berubah menjadi warna putih pucat.
Secara geologis, fenomena ini menunjukkan adanya indikasi sumber minyak bumi di dalam perut bumi kawasan ini.
Masin Lulik: Destinasi Wisata Alam
Keindahan alam di sekitar Masin Lulik sungguh menenangkan jiwa: dikelilingi hutan bakau yang rimbun, hijau, dan lurus menjulang.
Selain itu, letaknya tak jauh dari muara laut lepas yang airnya tenang berkilauan.
Saat senja, matahari terbenam memancarkan warna kuning keemasan yang menakjubkan di atas permukaan air.
Dengan suasananya yang sepi, tenang, dan kadang terasa dingin dan sakral, Masin Lulik mengajak siapa pun yang datang untuk berhati-hati dan menghormati tempat ini.
Bagi wisatawan yang hendak mengunjungi tempat ini, sekitar 30 menit menempuh perjalanan dari jalan raya umum dengan kendaraan roda empat, atau sekitar 25 menit dengan kendaraan roda dua. Para wisatawan semakin banyak yang datang beekunjung pada hari Minggu atau hari libur untuk menikmati keindahan sekaligus keunikan tempat ini
Masin Lulik adalah pertemuan indah antara alam yang menakjubkan dan keyakinan yang diwariskan leluhur. Semoga keindahannya tetap terjaga, kesakralannya tetap dihormati, dan generasi mendatang tetap bisa menikmati keajaiban yang Tuhan ciptakan di tanah Malaka ini.
* Penulis adalah Pengelola Rumah Literasi Kefamenanu.
Komentar