Breaking News

REFLEKSI “Pertanggungjawaban Kebebasan” (Menjadi Pribadi Bermakna-3) 18 Dec 2015 04:25

Article image
“Tahu dan sadar tentang apa yang seharusnya dilakukannya, tetapi tidak melakukannya juga."

SECARA umum, ada dua arti kebebasan. Ada kebebasan sosial politik yang terdiri dari kebebasan rakyat dan kemerdekaan. Ada juga kebebasan individual yang terdiri dari kesewenang-wenangan, kebebasan fisik, kebebasan yuridis, kebebasan psikologis, kebebasan moral, dan kebebasan eksistensial.

Kebebasan yang diperkenalkan oleh psikolog Austria Viktor Emil Frankl adalah kebebasan eksistensial, karena Frankl memperkenalkan kebebasan untuk memilih suatu cara bersikap terhadap situasi tertentu. Hal ini sepadan dengan arti kebebasan eksistensial yang berarti kebebasan yang mencakup seluruh eksistensi manusia karena kehendak bebas yang ada dalam dirinya.

Filosof Franz Magnis-Suseno (Etika Dasar, 1987, hlm. 40) menambahkan bahwa kebebasan eksistensial adalah kebebasan untuk mengambil sikap, bertanggung jawab menentukan diri sendiri sebagai pribadi yang otonom. Pribadilah yang bertanggung jawab atas sikap dan tindakannya.

Manusia sebagai pribadi yang mempunyai kebebasan eksistensial mesti selalu bisa mempertanggungjawabkan kebebasannya. Seorang pribadi yang mampu mengatasi dirinya sendiri mampu mempertanggungjawabkan kebebasan dan pilihannya. Sikap dan tindakan mesti dapat dipertanggungjawabkan di hadapan nilai-nilai kemanusiaan universal, status dirinya, dan harapan pribadi-pribadi lain.

Kebebasan dalam arti ini tidak pernah berarti memilih apa saja seenaknya. Pribadi yang bertanggung jawab adalah pribadi yang mampu menguasai dirinya. Dia tidak ditaklukan oleh perasaan-perasaan sesaat, letupan emosi yang situasional, dan tekanan dari luar. Semakin ia bertanggung jawab, semakin ia bebas menunjukkan dan memenuhi makna hidupnya.

Sebaliknya, orang yang tidak bertanggungjawab adalah orang yang “tahu dan sadar tentang apa yang seharusnya dilakukannya, tetapi tidak melakukannya juga,” kata Magnis-Suseno

Orang tidak bertanggung jawab biasanya disebabkan oleh beberapa hal yaitu kemalasan, takut, tidak menerima penderitaan yang ada, lemas, emosional, sentimen, atau dikuasai oleh hawa nafsu. Menolak untuk bertanggung jawab berarti mengkhianati diri sendiri karena tidak memilih dan bertindak apa yang sebenarnya dinilainya sendiri sebagai yang paling baik. Jadi, orang yang tidak bertanggung jawab sebenarnya tidak bebas untuk menentukan dirinya.

Lebih jauh, seorang pribadi yang mampu mengatasi dirinya adalah pengemban sejati tanggung jawab kebebasan eksistensial. Dia mestilah pribadi yang “mencapai taraf otonomi, kedewasaan, otentisitas, kematangan rohani. Orang yang sungguh-sungguh bebas dapat mewujudkan eksistensinya secara kreatif”(Kees Bertens, etikawan)

Pribadi yang bebas secara eksistensial selalu memperhatikan tanggungjawabnya untuk berbuat baik, karena orientasi hidupnya selalu terarah kepada kebaikan dan tanggung jawab objektif yang memaknai hidupnya. Pribadi yang mampu mengatasi diri adalah pribadi yang selalu menguasai dirinya dan menentukan pilihannya dengan penuh tanggung jawab. Dia tidak pernah tenggelam dalam massa.

Hal ini memang sulit karena kebudayaan manusia sekarang sedang ditandai oleh suatu mass culture, budaya massa. Semua orang tenggelam dalam massa, mengikuti apa saja yang sedang trendy dan yang sedang in. Inilah suatu kondisi yang dikatakan oleh Frankl sebagai suatu penyakit sosial yang bernama neurosis kolektif.

Pada akhirnya patut digarisbawahi lagi bahwa menjadi pribadi yang mampu mengatasi diri selalu berarti menjadi pribadi yang bertanggung jawab, yang mempunyai keutamaan keberanian untuk menentukan pilihan dan sikap bagi diri sendiri. Sementara itu, manusia yang tidak bertanggung jawab adalah mereka yang tidak mengembankan kebebasannya dan yang tenggelam dalam budaya massa. Dua kelompok ini sebenarnya belum mempunyai kesadaran diri untuk bermakna dan memaknai hidupnya. (bersambung)

---