Breaking News

INDUSTRI Andi Gani Nena Wea Diangkat Jadi Komisaris Utama PT PP 01 May 2016 20:13

Article image
Andi Gani Nena Wea. (Foto: Ist)
RUPST juga menyepakati pembagian dividen ini setara 20% dari perolehan laba bersih perseroan tahun buku 2015 yang sebesar Rp 740 miliar.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahunan 2015 PT PP (Persero) Tbk (PTPP) memutuskan perubahan besar-besarn untuk jajaran direksi dan komisaris. RUPST pada Jumat (29/4) lalu memberhentikan empat direksi termasuk direktur utama perseroan.

Pergantian empat direktur perseroan, yaitu pemberhentian Bambang Triwibowo dari jabatan direktur utama (Dirut) dan tiga direktur lainnya, Ketut Dermawan, Harry Nugroho dan I Wayan Karioka.

Selanjutnya Tumiyana yang sebelumnya menjabat sebagai direktur keuangan diangkat menjadi Direktur Utama menggantikan Bambang Triwibowo. Sedangkan anggota dewan direksi lainnya ditempati oleh M. Aprindi, Abdul Haris Tatang, M.Toha Fauzi dan Agus Purbianto.

Tumiyana mengatakan perubahan dewan direksi dan komisaris tersebut merupakan kewenangan dari kementerian BUMN selaku pemilik saham mayoritas di PTPP. "Namun perlu diketahui direksi yang baru masuk ini juga bukan orang yang baru di PP," katanya di Jakarta, Jumat (29/4).

Oleh karena itu, Tumiyana yakin perubahan direksi tersebut tidak akan mengganggu kinerja maupun strategi bisnis perseroan ke depan.

Di jajaran Komisaris, terjadi perubahan di pucuk pimpinan yakni Andi Gani Nena Wea diangkat menjadi Komisaris Utama menggantikan Joko Murjanto. Jajaran komisaris lainnya adalah Aryanto Sutiadi (Independen), Sumardi, Huhammad Khoerur Roziqin, dan Hediyanto W Husaini.

Andi Gani Nena Wea merupakan anak ketiga almarhum Jacob Nuwa Wea yang tak lain adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Tokoh dari timur ini melejit namanya setelah terpilih sebagai Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dalam Kongres ke VIII KSPSI.

Deviden

Di bagian lain Tumiyana mengaku, RUPST juga menyepakati pembagian dividen ini setara 20% dari perolehan laba bersih perseroan tahun buku 2015 yang sebesar Rp 740 miliar. “Perseroan membayar dividen sebesar Rp148 miliar atau Rp 30,58/saham kepada pemegang saham. Itu sekitar 20% dari laba bersih. Usulan tersebut telah disetujui dan disahkan dalam RUPS, sehingga dapat dibayarkan oleh perseroan pada awal Juni 2016,” ujarnya.

PTPP melaporkan kenaikan pendapatan menjadi Rp 14,21 triliun atau naik 14,4% dibandingkan 2014 yang sebesar Rp 12,42 triliun. Menurut Tumiyana, keberhasilan kinerja perseroan tidak hanya dibuktikan dari melonjaknya laba bersih tahun 2015. Di triwulan I 2016 ini, perseroan kembali berhasil membukukan kinerja positif.

Pada kuartal I 2016, jelas Tumiyana, perusahaan konstruksi pelat merah ini telah membukukan pendapatan usaha Rp 2,59 triliun atau tumbuh 30,57% daripada periode sebelumnya sebesar Rp 1,98 triliun.

“Keberhasilan ini disebabkan telah berjalannya program transformasi bisnis dengan didukung dengan semua lini bisnis perseroan, yaitu konstruksi, properti, EPC, investasi, pra cetak dan peralatan, selain itu program efisiensi juga terus diterapkan oleh perseroan,” ungkapnya.

PT PP mencatatkan perolehan kontrak baru dengan total nilai mencapai Rp 4,98 triliun, hingga akhir April 2016. Perolehan kontrak baru tersebut terdiri dari kontrak baru induk perusahaan sebesar Rp 3,31 triliun, dan anak perusahaan sebesar Rp 1,67 triliun. Perolehan ini memberikan kontribusi pada total kontrak yang digarap perusahaan pelat merah di bidang kontruksi menjadi Rp 43,98 triliun.

Tumiyana merinci, proyek yang berhasil diraih, antara lain pembangunan gedung BNI tower Rp 719 miliar, apartemen Pertamina RU Balikpapan Rp 497 miliar, mobil power plant Rp 447 miliar, Setiabudi Residence di Medan Rp 281 miliar, peningkatan air bersih Angkasa Pura II di Tanggerang Rp 253 miliar, Transmart Depok Rp 247 miliar.

Ada pula kontrak pembangunan Sahid Hotel di Timika Rp 225 miliar, Bank Indonesia di Jayapura Rp 186 miliar, gedung terminal dan parkir Radin Inten di Lampung Rp 169 miliar, Transmart di Rungkut Rp 144 miliar, Manhattan Greenland Rp 120 miliar dan sebagainya.

“Kontrak baru sampai dengan pekan keempat 2016 ini mencapai 16,08% dari target hingga akhir tahun yang sebesar Rp 31 triliun. Kami masih ada kontrak carry over (kontrak berjalan dari tahun sebelumnya,red) sebesar Rp 39 triliun. Jadi total kontrak kami tahun ini Rp 43,98 triliun,” ujar Tumiyana.

Dalam beberapa tahun ini, lanjut Tumiyana, perseroan telah berhasil mengembangkan sayap ke Indonesia Timur dan meraih proyek-proyek besar di wilayah tersebut. Kami dipercaya untuk mengerjakan beberapa proyek di wilayah Indonesia Timur terutama di Provinsi Papua.

--- Sandy Javia

Komentar