Breaking News

SELEBRITI Berapa Keuntungan HoverLab (Garo Sero Research Institute) dari Video Kim Soo-hyun? 16 Jul 2026 18:33

Article image
Investigasi MBC mengungkap bahwa saluran YouTube kontroversial HoverLab diduga meraup keuntungan hingga ratusan juta rupiah hanya dari konten terkait aktor Kim Soo-hyun

JAKARTA IndonesiaSatu.co – Jumlah uang yang diduga dihasilkan oleh saluran YouTube kontroversial HoverLab (Garo Sero Research Institute) melalui liputan mereka tentang aktor Kim Soo-hyun kini kembali menjadi sorotan tajam setelah adanya laporan investigasi terbaru.

Pada 14 Juli, program investigasi MBC 'PD Note' membedah model pendapatan di balik konten provokatif HoverLab. Mereka menuduh bahwa saluran tersebut menghasilkan pendapatan yang sangat besar dengan memanfaatkan kontroversi para selebritas papan atas.

Pakar: "Mengubah Perundungan Publik Menjadi Model Bisnis"

Para pakar yang hadir di 'PD Note' melontarkan kritik keras terhadap strategi konten Gaseyeon.

Kritikus riset Jeon Ji-yoon berargumen bahwa saluran tersebut meraup untung dengan cara memberi cap buruk kepada individu di depan umum dan mendorong pelecehan massal secara daring. Jeon menjelaskan, "HoverLab menghasilkan keuntungan yang sangat besar melalui proses mencap orang-orang tertentu dan mendorong ejekan kolektif. Mereka secara efektif telah menyajikan model bisnis yang sukses bagi para pembuat konten yang disebut 'cyber wrecker' (perusak siber)."

Berdasarkan laporan keuangan yang dirujuk selama siaran, pendapatan tahunan HoverLab yang dilaporkan terus meningkat dari 1,76 miliar KRW (sekitar Rp19,8 miliar) pada tahun 2019 menjadi 4,35 miliar KRW (sekitar Rp49 miliar) pada tahun 2020, 4,5 miliar KRW (sekitar Rp50,7 miliar) pada tahun 2021, dan mencapai 5 bilion KRW (sekitar Rp56,4 miliar) pada tahun 2022.

Jaksa Mendakwa CEO Gaseyeon

Pada 23 Juni, Divisi Investigasi Kejahatan Perempuan dan Anak 2 dari Kantor Kejaksaan Distrik Pusat Seoul, yang dipimpin oleh Kepala Jaksa Park Ji-na, secara resmi mendakwa CEO Gaseyeon, Kim Se-ui, dalam status penahanan.

Jaksa menuduh bahwa Kim menyebarkan informasi palsu melalui YouTube dan platform lainnya, dengan mengklaim bahwa Kim Soo-hyun pernah mengencani Kim Sae-ron saat aktris tersebut masih di bawah umur, dan bahwa tekanan dari pihak Kim Soo-hyun untuk melunasi utang secara langsung berkontribusi pada kematian sang aktris.

Kim Se-ui juga dituduh menyiarkan foto-foto pribadi Kim Soo-hyun tanpa izin dan mencoba memaksa sang aktor untuk menyampaikan permintaan maaf publik dengan ancaman akan merilis materi pribadi tambahan.

Pihak berwenang menyatakan bahwa mereka terus menyelidiki asal-usul klaim palsu tersebut serta tindakan Kim selama siaran berlangsung.

Informasi Palsu Dapat Berujung pada Tanggung Jawab Pidana dan Perdata

Di bawah Undang-Undang Jaringan Informasi dan Komunikasi Korea Selatan, individu yang menyebarkan informasi palsu secara daring yang merusak reputasi orang lain dapat menghadapi tuntutan pidana.

Undang-undang tersebut memberlakukan hukuman yang lebih berat ketika pernyataan pencemaran nama baik terbukti sengaja dipalsukan, alih-alih berdasarkan fakta yang akurat.

Korban juga dapat mengajukan gugatan perdata untuk menuntut kompensasi finansial. Pengadilan dapat menjatuhkan hukuman ganti rugi jika informasi palsu terbukti telah merugikan reputasi seseorang atau menyebabkan tekanan emosional.

Bahkan ketika subjeknya adalah seorang selebritas atau figur publik, perlindungan hukum terhadap klaim palsu tetap berlaku. Pengadilan umumnya mempertimbangkan kebenaran dari pernyataan tersebut serta apakah pernyataan itu dibuat demi kepentingan publik.

Desakan Aksi Lebih Tegas Terhadap "Cyber Wrecker"

Dalam beberapa tahun terakhir, para anggota parlemen dan pakar hukum di Korea Selatan semakin menyuarakan keprihatinan mereka terhadap apa yang disebut dengan "cyber wrecker"—istilah yang digunakan untuk menggambarkan saluran daring yang mendulang tayangan (views) dan donasi dengan menyebarkan tuduhan sensasional atau klaim yang belum diverifikasi secara cepat.

Para kritikus berpendapat bahwa saluran-saluran ini sering kali mengulang informasi yang tidak terverifikasi atau terlalu fokus pada kehidupan pribadi seseorang, sehingga berkontribusi pada meluasnya pelecehan daring.

Beberapa selebritas, eksekutif bisnis, dan sesama YouTuber mengaku mengalami kerugian emosional dan finansial yang signifikan setelah tuduhan yang tidak terverifikasi menyebar di internet. Alhasil, diskusi terus berjalan mengenai penguatan akuntabilitas platform serta penerapan hukuman yang lebih tegas bagi penyebaran informasi palsu yang disengaja.

--- Stella Josephine

Komentar