Breaking News

EKONOMI BPS Sebut Pertumbuhan Ekonomi di Maluku dan Papua Tertinggi di 2024, Bagaimana dengan NTT? 07 Feb 2025 11:32

Article image
Perekonomian NTT menunjukkan tren positif dengan kontribusi besar dari sektor-sektor unggulan seperti pariwisata, konsumsi rumah tangga, serta administrasi pemerintahan. Hal ini memberikan gambaran optimis tentang potensi pertumbuhan ekonomi daerah ke de

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan Maluku dan Papua merupakan wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada 2024 dengan tingkat pertumbuhan secara kumulatif mencapai 7,81 persen (c-to-c).

Ia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Nusra), Kalimantan, Sulawesi, serta Maluku dan Papua pada tahun lalu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,03 persen (c-to-c).

"Wilayah Pulau Bali dan Nusra tumbuh sebesar 5,04 persen, lalu Pulau Kalimantan tumbuh sebesar 5,52 persen, wilayah Pulau Sulawesi tumbuh sebesar 6,18 persen, dan pertumbuhan tertinggi ada di Pulau Maluku dan Papua yang mencapai 7,81 persen," ucap Amalia di Jakarta, Rabu (5/2/2025).

Ia menuturkan bahwa pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa dan Sumatera berada di bawah tingkat pertumbuhan nasional, yakni masing-masing sebesar 4,92 persen (c-to-c) dan 4,45 persen (c-to-c).

Meskipun begitu, ia mengatakan bahwa wilayah Jawa dan Sumatera memiliki kontribusi terbesar terhadap nilai produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) yang mencapai Rp22.138,96 triliun pada 2024. "Kontribusi pulau Jawa terhadap PDB adalah sebesar 57,02 persen, kemudian diikuti kedua terbesar adalah kontribusi dari Pulau Sumatera yang sebesar 22,12 persen," katanya.

Sementara, kontribusi wilayah Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, serta Maluku dan Papua terhadap PDB tahun lalu masing-masing sebesar 2,81 persen, 8,24 persen, 7,12 persen, serta 2,69 persen.

Amalia menyatakan bahwa lapangan usaha yang menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera dan wilayah Jawa adalah industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi. 

Wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencatatkan lapangan usaha akomodasi dan makan minum, pertambangan, serta perdagangan sebagai sumber utama pertumbuhan. Kemudian, lapangan usaha pertambangan, konstruksi, dan perdagangan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi di wilayah Kalimantan.

Selanjutnya, di wilayah Sulawesi, lapangan usaha industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan adalah sumber utama pertumbuhan.

Sedangkan lapangan usaha yang memberikan dampak pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah Maluku dan Papua adalah industri pengolahan, pertambangan, dan perdagangan.

Terkait pertumbuhan ekonomi per provinsi, Amalia menyampaikan bahwa provinsi dengan pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Papua Barat dengan 2,58 persen (c-to-c) dan provinsi dengan pertumbuhan terendah adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan 0,02 persen (c-to-c).

Ia mengatakan bahwa pencapaian Provinsi Papua Barat tersebut didorong oleh pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan yang tinggi, terutama dari sektor minyak dan gas (migas) karena peningkatan produksi gas alam cair (liquefied natural gas/LNG)

"Kinerja dari ekspor luar negeri Papua Barat juga tumbuh double digit, yaitu sebesar 17,53 persen dengan komoditas utama ekspornya adalah gas," imbuhnya.

Ekonomi NTT

Secara terpisah BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat pertumbuhan ekonomi di NTT pada Triwulan IV Tahun 2024 tumbuh sebesar 3,03 persen year-on-year (y-on-y) dibandingkan pada Triwulan IV tahun 2023. 

"Ekonomi Provinsi NTT Triwulan IV tahun 2024 kalau kita bandingkan dengan Triwulan IV tahun 2023 atas dasar harga konstan tahun 2010 maka ekonomi NTT tumbuh 3,03 persen y-on-y," ujar Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale melalui siaran pers, Rabu (5/2/2025).

Perekonomian NTT, yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), mencapai angka Rp137,28 triliun atas dasar harga berlaku tahun 2024, dan Rp78,04 triliun atas dasar harga konstan tahun 2010. Dalam lapangan usaha, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 13,28 persen.

Hal ini menunjukkan perkembangan signifikan di sektor pariwisata dan kuliner, yang menjadi salah satu sektor unggulan di NTT. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 6,25 persen.

Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi NTT pada triwulan IV-2024 mengalami pertumbuhan sebesar 4,04 persen. Pada aspek lapangan usaha, sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib mencatatkan angka pertumbuhan tertinggi, mencapai 15,40 persen. Di sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 36,63 persen.

Struktur ekonomi NTT pada tahun 2024 masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, yang memberikan kontribusi sebesar 28,87 persen terhadap PDRB. Dari sisi pengeluaran, didominasi oleh sektor pengeluaran konsumsi rumah tangga  dengan kontribusi sebesar 66,70 persen.

Secara keseluruhan, perekonomian NTT menunjukkan tren positif dengan kontribusi besar dari sektor-sektor unggulan seperti pariwisata, konsumsi rumah tangga, serta administrasi pemerintahan. Hal ini memberikan gambaran optimis tentang potensi pertumbuhan ekonomi daerah ke depannya. ***

--- Sandy Javia

Komentar