REFLEKSI Bukan Jatuh Cinta, Tetapi "Meng-Ada" dalam Cinta 06 Sep 2016 10:08
Cinta adalah sikap kesalingan: memberi dan menerima dalam kesetaraan dan respek sejati. Tidak ada cinta tanpa sikap saling menghormati.
Oleh Valens Daki-Soo
Pagi ini, sebutir embun jatuh lembut di daun jendela jiwaku:
"The more you love and forgive, the more you water your inner garden."
Ya, semakin besar daya cinta dan kemampuan Anda mengampuni sesama, semakin Anda menyiram taman bunga di hati Anda sehingga indah semerbak.
Kondisi batin ini disebut "bahagia".
Cinta adalah napas kehidupan. Cinta adalah 'oksigen' bagi kebahagiaan.
Jika ada yang membenci Anda atau sebaliknya, kirimlah doa dan "rasa" cinta Anda.
Maka aroma mawar akan melingkupi jiwanya dan mengindahkan hari hidupmu.
Cinta mengangkat Anda dalam keagungan sikap rendah hati dan kesediaan mengampuni.
Inilah energi terbesar kehidupan: cinta.
Apa itu cinta?
Kerelaan untuk memberi dan memperkaya kehidupan.
Segala kotbah dan renungan sesungguhnya dapat diikat dengan satu kata: cinta.
Mengutip John D Caputo, semesta kita disatukan dalam "Agama Cinta": agama yang mencintai, menghormati dan melindungi kemanusiaan.
Lalu, apa itu cinta?
Berbagi kebaikan untuk sesama dan semesta dengan tulus hati.
Segala agama dan keyakinan religius atau humanis pun mesti bermuara di sini.
Jadi, apa itu cinta?
Cinta adalah pemberian diri.
Filsuf Erich Fromm menggambarkan cinta sebagai suatu kegiatan yang aktif. Oleh karenanya, cinta memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Mencintai berarti memberikan kebebasan atau "ruang gerak" demi pertumbuhan dari subyek (orang/pihak) yang dicintai.
Cinta selalu mengandaikan kepercayaan dan meminggirkan segala prasangka.
Jadi, kalau kita merujuk pada pandangan Fromm, cinta bukanlah "kata benda" melainkan "kata kerja". Jika Anda mencintai seseorang, Anda niscaya bergerak ke arah dirinya, masuk dalam kehidupannya. Anda menyelami cinta dalam atmosfir saling memberi dan menerima dengan hati dan jiwa.
Jelaslah, cinta bukanlah suatu tindakan atau posisi pasif. Anda tidak mencintai seseorang, jika Anda hanya menonton tatkala dia menderita, sakit atau butuh pertolongan. Aktus mencintai itu menuntut kerelaan berkorban dan keberanian untuk bersikap aktif 'mendatangi dan terlibat' dalam hidup pihak yang dicintai.
Oleh karena cinta selalu mempersyaratkan pengorbanan, maka dalam dan melalui cinta Anda dapat mencintai hingga terluka. Maksudnya, ketika mencintai Anda pun membuka diri bagi kelemahan dan kesalahan orang yang dicintai, yang bisa saja mencederai perasaan Anda.
Kalau begitu, cinta sejati itu sesungguhnya "standing in" (tetap tegak di dalam) bukan "falling for" (Jatuh untuk).
Saya sepakat dengan Fromm bahwa cinta adalah suatu kegiatan atau tindakan aktif. Dia bukanlah benda melainkan lebih berupa kerja, aktivitas, orientasi dan partisipasi.
Dalam konteks ini, cinta bukankah komoditas barang yang dapat dibarter dan diperjualbelikan apalagi dipaksakan oleh orang lain. Cinta tidak bisa ditukar dengan kegagahan fisik atau kemolekan ragawi.
Cinta selalu berusaha melampaui batasan-batasan demi komitmen pada dirinya sendiri.
Fondasi cinta adalah pilihan bebas yang diberikan secara sukarela berdasarkan kemauan sendiri dan dengan sikap rasional. Anda bisa mencintai orang lain dan sebaliknya, jika relasi itu didasari kesadaran untuk memilih dan menentukan diri disertai kematangan berpikir.
Ekspresi cinta yang benar tidaklah berupa sikap mendominasi atau menguasai. Cinta adalah sikap kesalingan: memberi dan menerima dalam kesetaraan dan respek sejati. Tidak ada cinta tanpa sikap saling menghormati.
Cinta sejati itu bukan sekadar jatuh cinta (falling in love), melainkan pengalaman meng-ada dalam cinta (being in love) atau berdiri dalam cinta (standing in love).
Dalam kesejatian cinta, Anda mengalami keindahan hidup yang sesungguhnya.
Penulis adalah penikmat psikologi, entrepreneur, Chairman PT Veritas Dharma Satya, Pendiri & Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co
Komentar