REFLEKSI Mulanya Saya Penulis dan Wartawan # Secuil Kisah pada Hari Pers Nasional 09 Feb 2026 14:47
Teruslah menulis untuk kebaikan dan kebenaran. Juga, untuk kemajuan dan kesejahteraan Indonesia tercinta.
Oleh Valens Daki-Soo*
Izinkan saya berkisah tentang petualangan saya: dari kampung terpencil di Flores hingga menjadi wartawan, lalu menjadi staf duta besar, dan kemudian staf khusus beberapa jenderal di Jakarta, sebelum akhirnya menjadi entrepreneur.
Semuanya bergerak dari titik start sebagai penulis dan wartawan.
Tatkala duduk di bangku SD di kampung (SD Inpres Nangaroro II/Madambake, SDK Bengga dan SDK Galawea-Ndora), saya sangat gemar membaca. Buku-buku di lemari SD saya lahap, bisa sejak siang hingga malam membayang.
Sebagai anak kampung zaman itu, tidak ada hiburan lain, tak ada TV. Tidak seperti anak-anak sekarang yang doyan main 'game' di Hp. Paling-paling radio transistor milik ayah saya, sang Kepala SDK Bengga, yang tiap pagi dan sore menyiarkan berita dari RRI Jakarta dan Radio Australia (dalam bahasa Indonesia).
Oleh karenanya, buku-buku jadi sasaran pelampiasan saya. Dari buku-buku tentang kisah Mahabharata hingga para pahlawan revolusi. Ya, segala topik dimakan penuh semangat.
Membaca adalah basis utama untuk menjadi penulis yang baik. Saya mulai menulis puisi dan cerpen saat saya kelas VI SDK Galawea-Ndora, dan betapa bangganya, dimuat di majalah anak-anak "Kunang-Kunang", terbitan Ende, Flores.
Prematur menulis cerpen? Bisa jadi. Namun, wajar saja karena saya suka membaca sehingga spektrum imajinasi dan fantasi mulai penuh warna.
Memasuki pendidikan menengah SMP dan SMA di Seminari Todabelu Mataloko, rasanya seperti masuk surga dunia: banyak buku, majalah dan koran. Untuk pertama kalinya saya mengenal Kompas, koran terbesar di Indonesia bahkan konon di Asia Tenggara.
Buku-buku itu ikut membentuk tidak hanya pikiran dan cara berpikir, tapi juga kepribadian kami, para siswa seminari. Buku terbukti menjadi alat paling efektif untuk penyebaran ilmu dan penanaman nilai.
Di Seminari Mataloko saya mulai terbiasa menulis. Ketika di SMP Seminari kami punya majalah dinding, tempat kami mengurai pikiran sambil juga kadang menuang rindu terhadap "anak Kartini", sebutan untuk siswi-siswi SMP Kartini, sebuah sekolah yang hanya dihuni para putri -- mungkin putri-putri terbaik dari segala daerah.
Puisi saya "Pucuk Cemara Tersaput Kabut" sempat dipuji Bapak Guru Mikhael Remi, guru Bahasa Indonesia kami di SMP Seminari. Puisi ini sebenarnya dipersembahkan untuk anak Kartini. Harap maklum, saat itu kami sedang mulai masa puber.
Ah ya, yang bikin kami semangat menulis, majalah dinding kami itu secara teratur "dipinjamkan" ke Asrama SMP Kartini. Harapan saya (mungkin teman-teman juga), nona-nona alias anak Kartini membaca puisi, cerpen dan tulisan kami.
Di SMA Seminari tulisan-tulisan saya makin serius, agak lebih ilmiah dan biasanya dimuat di "Florete", majalah SMA Seminari. Puisi dan prosa mewarnai majalah komunitas kami ini. Rupanya saya mulai menemukan diri sebagai penulis pada era itu.
Masuk Seminari Tinggi SVD Ledalero, saya bersyukur karena ruang akademis-ilmiah dibuka lebar-lebar. Pendek cerita, semua yang kami idamkan ada di sana: buku-buku karya para penulis, filsuf, teolog, psikolog, anthropolog, sosiolog hebat.
Ketika di Ledalero inilah saya mulai menulis di majalah kampus, juga majalah mingguan Katolik "Hidup" (Jakarta) dan "Dian" (Ende). Menulis di dua media ini saya dapat honorarium, sehingga bisa beli jam tangan (arloji) dan pakaian.
Oh ya, saya tidak pernah meminta uang kepada orang tua sejak saya tamat SMA. Selain ingin mandiri dan kami para frater SVD tidak perlu bayar uang kuliah, saya juga pahami situasi ekonomi keluarga. Gaji ayah saya sebagau guru harus diatur sedemikian agar mampu biayai hidup dan sekolah adik-adik saya.
Oleh karena alasan tertentu, saya kemudian mengundurkan diri dari Seminari Tinggi Ledalero. Sebagai eks frater saya terus menulis di majalah Hidup, tidak hanya artikel opini tapi juga berita. Jadilah saya kontributor majalah Hidup dan kemudian menjadi reporter/wartawan pertama Harian "Angkatan Bersenjata" (AB) di Maumere. Dari namanya koran itu diterbitkan Puspen ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).
Saat merantau ke Jakarta, saya menyambung hidup dengan menulis di berbagai media. Puncaknya adalah artikel saya "Urgensi Transformasi Kultural di Indonesia" terbit di Harian Kompas, 1992.
Betapa bangga dan bahagianya saya waktu itu karena saya dengar, betapa sulit sebuah artikel bisa lolos dan dimuat Kompas.
Sebenarnya saya nyaris jadi wartawan Kompas saat itu, namun terhadang kendala ijazah: saya belum meraih S1.
Atas bantuan wartawan senior (dan legendaris) Kompas, Om Valens Doy (Alm), saya direkomendasikan ketemu Brigjen TNI Alex Dinuth, mantan Direktur Komunikasi Bakin/BIN dan Pemred Harian "Berita Yudha", koran milik TNI AD yang didirikan oleh Jenderal Ahmad Yani (Pahlawan Revolusi).
Saat itu, Om Valens Doy dan timnya akan mengambilalih Berita Yudha dan saya diarahkan untuk lebih dulu masuk ke sana.
Lalu apa yang terjadi?
Suatu ketika analisis saya tentang masalah Timor Timur di koran Berita Yudha dibaca oleh Pak FX Lopes da Cruz, Duta Besar Keliling RI dengan Tugas Khusus (Urusan Timor Timur). Beliau mencari saya dan kami ketemu. Pak Lopes lalu mengajak saya menjadi staf beliau di kantor Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jl. Pejambon.
Saat bekerja dengan Pak Lopes itulah saya berkenalan dengan beberapa jenderal: Brigjen TNI (Marinir) Rusdi dari Badan Intelijen ABRI atau BIA (sekarang Bais TNI), Mayjen -- belakangan Letjen -- TNI Kiki Syahnakri (Asisten Operasi KSAD yang kemudian menjadi Panglima Darurat Militer Timor Timur, Pangdam Udayana dan Wakil KSAD) dan Letjen TNI Arie Kumaat (Kepala Bakin/BIN).
Bersama para petinggi ini pekerjaan saya adalah menulis analisis, pidato, makalah dan sebagainya.
Tentu, selalu dengan spirit demi NKRI.
Ketika saya bekerja dengan Pak Kiki Syahnakri, kesempatan baru terbuka untuk mengenal berbagai jenderal, juga kalangam pengusaha.
Pak Kiki adalah seorang "jenderal yang menjadi lebih sipil daripada orang sipil", kata Bang Franky Sahilatua (Alm). Akumulatif 11 tahun bertugas di medan tempur dan teritorial Timor Timur bukan penghambat untuk cepat dan mudah bergaul dengam kalangan sipil dari aktivis mahasiswa, wartawan hingga LSM.
Ketika sejak 2001 menjadi staf Pak Gories Mere (sejak berpangkat Komisaris Besar hingga Komjen Pol) tugas saya pun tidak jauh dari urusan menulis, walau sudah ditambah tugas-tugas lain. Saat menjadi Tenaga Ahli Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen & Keamanan membantu Pak Gories, domain kerja saya adalah menulis plus tugas lainnya.
Jadi, bakat menulis adalah anugerah besar dari Tuhan bagi saya.
Hari ini saya berprofesi sebagai entrepreneur, bukan lagi wartawan. Namun, saya terus menulis, meski menulis yang relatif ringan dan mudah disantap: refleksi ataupun analisis tentang dinamika kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.
Terakhir, bersama Gusti Adi Tetiro, Sandy Romualdus, Fransiskus Herdiman kami mendirikan media online atau portal berita IndonesiaSatu.co. Sejumlah wartawan dan penulis muda lalu bergabung, seperti Santisima Leda (sarjana psikologi yang studi lanjut S2 di Jogya saat itu), Arnold Yansen di Denpasar, Guche Montero (sarjana filsafat IFTK Ledalero dan mantan aktivis PMKRI MAUMERE), Maria Aurelia dan Stella Josephine yang aktif menulis tentang gaya hidup.
Rikard Mosa Dhae (alumnus Sankt Augustin, Jerman) memperkuat bidang luar negeri sehingga berita luar negeri kami banyak bersumber pada media Jerman.
Sejak 1 Desember 2015 media ini terbit di bawah payung PT Veritas Dharma Satya. Namun, karena media online harus diterbitkan badan hukum khusus/tersendiri, saya dirikan PT Veritas Media Bangsa sebagai payung hukumnya.
Pemimpin Redaksi saat ini Simon Leya yang sejak tahun lalu merangkap tugas sebagai Tenaga Ahli Komisi XIII DPR RI.
Penulis Tajuk adalah Redem Kono, sarjana filsafat di IFTK Ledalero dan magister filsafat STF Driyarkara.
Bagi rekan-rekan wartawan, Selamat Hari Pers 9 Februari 2026.
Teruslah menulis untuk kebaikan dan kebenaran.
Juga, untuk kemajuan dan kesejahteraan Indonesia tercinta.
* Penulis adalah entrepreneur, Pendiri & CEO PT Veritas Dharma Satya (VDS Group)
Komentar