Breaking News

TEKNOLOGI Bulan Semakin Menjauh dari Bumi, Apakah Berdampak Terhadap Cuaca dan Iklim? 03 Feb 2026 21:18

Article image
Fenomena bulan semakin menjauh dari bumi. (Foto: Humas IPB)
Fenomena bulan menjauh dari bumi tidak berdampak langsung terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya baru terasa melalui mekanisme lain.

BOGOR, IndonesiaSatu.co - Fenomena bulan yang perlahan bergerak menjauh dari bumi kerap memicu berbagai spekulasi, mulai dari perubahan iklim hingga dampak terhadap kehidupan manusia. Namun, benarkah anggapan tersebut?

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menjelaskan fenomena ini berkaitan dengan bentuk lintasan orbit bulan yang elips, bukan lingkaran sempurna.

“Efek bulan menjauh dari bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi bulan terhadap bumi yang berupa elips. Ada saat bulan berada pada jarak terdekat (perigee) dan jarak terjauh (apogee) dalam setiap periode revolusi bulan,” ujarnya melalui pernyataan tertulis. 

Hal serupa juga berlaku pada orbit bumi terhadap matahari, dengan peristiwa perihelion yang terjadi pada Januari dan aphelion pada Juli setiap tahun.

Ia menegaskan bahwa fenomena astronomi ini merupakan proses alamiah dan tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan.

Terkait dampak terhadap manusia, katanya, efeknya tidak bersifat langsung, melainkan melalui mekanisme-mekanisme tertentu di bumi.

Sebagai contoh, pasang surut laut yang merupakan dampak gaya gravitasi bulan. Kenaikan muka laut akibat pasang surut dapat berdampak pada aktivitas nelayan dan wilayah pesisir.

“Fenomena bulan menjauh dari bumi tidak berdampak langsung terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya baru terasa melalui mekanisme lain,” tururnya.

Sementara pada sistem iklim, fenomena ini juga tidak memberikan dampak langsung. “Kalau terhadap sistem iklim tidak secara langsung, karena durasi iklim itu tahunan hingga puluhan tahun,” jelasnya.

Menurutnya, salah satu faktor eksternal yang lebih berpengaruh terhadap iklim terkait dengan orientasi bumi terhadap matahari adalah fluktuasi eksentrisitas orbit bumi, perubahan oblikuitas (kemiringan sumbu) rotasi bumi, dan perubahan presesi sumbu rotasi Bumi. Fluktuasi ketiga orientasi bumi terhadap matahari dikenal sebagai Siklus Milankovitch. 

Masing-masing perubahan komponen ini mempunyai periode. Perubahan eksentrisitas orbit bumi terjadi setiap 100.000 tahun hingga 400.000 tahun, perubahan oblikuitas bumi terjadi setiap 41.000 tahun, dan perubahan presesi bumi terjadi setiap 26.000 tahun. 

“Perubahan orientasi bumi ini menyebabkan perubahan radiasi matahari yang diterima oleh bumi sebagai sumber energi utama iklim bumi sehingga perubahan ini mempengaruhi iklim bumi dalam skala waktu ribuan hingga ratusan ribu tahun,” urainya.

Selain perubahan orientasi bumi terhadap matahari, konstelasi planet dalam tata surya dapat mengubah kondisi atmosfer di bumi. Ketika planet-planet berada dalam posisi konjungsi, resultan gaya gravitasi yang besar dapat memengaruhi kondisi atmosfer bumi.

“Konstelasi planet dalam keadaan konjungsi bisa menyebabkan uap air terangkat, sehingga potensi pembentukan awan meningkat. Karena konjungsi planet terjadi dalam orde ratusan tahun dan efeknya global, hal ini dapat menyebabkan perubahan sistem iklim,” paparnya.*

 

--- F. Hardiman

Komentar