GAYA HIDUP Burnout di Usia 20-an, Kenapa Semakin Banyak Terjadi? 26 Jul 2026 19:45
Di usia yang sering disebut sebagai masa paling produktif, semakin banyak anak muda justru mengaku merasa lelah secara mental dan emosional.
JAKARTA IndonesiaSatu.co – Memasuki usia 20-an sering kali digambarkan sebagai fase penuh peluang. Banyak anak muda mulai membangun karier, menyelesaikan pendidikan, merintis usaha, hingga mengejar berbagai impian yang selama ini direncanakan. Namun, di balik semangat tersebut, muncul fenomena yang semakin sering dibicarakan, yaitu burnout atau kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat tekanan yang berlangsung dalam waktu lama.
Burnout bukan lagi persoalan yang identik dengan pekerja senior. Kini, banyak individu di usia 20-an mengaku mengalami kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, merasa cepat lelah, hingga mempertanyakan arah hidup dan karier mereka. Fenomena ini menjadi perhatian karena terjadi pada kelompok usia yang justru berada di awal perjalanan profesional.
Salah satu penyebab utama meningkatnya burnout adalah tingginya ekspektasi yang harus dipenuhi. Anak muda masa kini tidak hanya dituntut untuk memiliki pekerjaan yang baik, tetapi juga diharapkan terus mengembangkan keterampilan, membangun personal branding, aktif di media sosial, menjaga kesehatan, memiliki kehidupan sosial yang seimbang, hingga merencanakan masa depan sejak dini. Tanpa disadari, tekanan tersebut menciptakan beban yang terus menumpuk.
Media sosial turut memperkuat kondisi tersebut. Setiap hari, lini masa dipenuhi cerita tentang teman yang baru mendapat promosi, berhasil membangun bisnis, melanjutkan studi ke luar negeri, atau membeli rumah di usia muda. Meski tidak selalu mencerminkan realitas secara utuh, paparan ini sering memicu kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Akibatnya, banyak anak muda merasa tertinggal, meskipun sebenarnya mereka sedang berkembang sesuai jalannya masing-masing.
Di sisi lain, perubahan dunia kerja juga memberikan tantangan baru. Budaya kerja yang serba cepat, target yang tinggi, serta batas antara waktu bekerja dan waktu pribadi yang semakin kabur membuat banyak pekerja sulit benar-benar beristirahat. Teknologi memungkinkan pekerjaan dilakukan kapan saja melalui laptop atau ponsel, sehingga tidak sedikit orang yang tetap membalas pesan pekerjaan di luar jam kerja.
Bagi sebagian orang, burnout juga dipicu oleh tekanan ekonomi. Kenaikan biaya hidup, persaingan mencari pekerjaan, keinginan untuk mandiri secara finansial, hingga kekhawatiran mengenai masa depan membuat banyak anak muda merasa harus terus bekerja tanpa jeda. Mereka khawatir jika berhenti sejenak, kesempatan akan hilang atau karier akan tertinggal.
Psikolog menjelaskan bahwa burnout bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja. Kondisi ini ditandai dengan kelelahan yang berkepanjangan, menurunnya semangat, munculnya sikap sinis terhadap pekerjaan, serta berkurangnya produktivitas. Jika dibiarkan terus-menerus, burnout dapat memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, bahkan kondisi fisik seseorang.
Meski demikian, burnout bukan berarti seseorang lemah atau tidak mampu menghadapi tekanan. Justru, kondisi ini menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk pulih. Mengenali batas kemampuan diri, mengatur beban kerja, menjaga pola istirahat, meluangkan waktu untuk melakukan hobi, hingga mencari dukungan dari keluarga, teman, atau tenaga profesional merupakan langkah penting untuk mencegah burnout semakin parah.
Perusahaan juga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Budaya kerja yang menghargai waktu istirahat, komunikasi yang terbuka, target yang realistis, serta perhatian terhadap kesejahteraan karyawan dapat membantu menurunkan risiko burnout di kalangan pekerja muda.
Pada akhirnya, usia 20-an bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling sukses dalam waktu singkat. Fase ini merupakan masa belajar, mencoba berbagai pengalaman, dan menemukan arah hidup yang sesuai dengan kemampuan serta nilai yang dimiliki masing-masing individu. Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan mengejar pencapaian karier, karena kesuksesan yang berkelanjutan hanya dapat dibangun ketika tubuh dan pikiran berada dalam kondisi yang sehat.
--- Stella Josephine
Komentar