GAYA HIDUP Jenis Burung dengan Suara Paling Merdu, Berikut Hasil Studi 19 Sep 2026 21:20
Kini, sebuah studi kecil baru telah mengungkapkan bahwa kualitas akustik tertentu dapat membantu menjelaskan mengapa manusia menganggap beberapa kicauan burung lebih menyenangkan daripada yang lain.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Saat burung berkicau, manusia mungkin merasa sedikit lebih tenang. Namun, beberapa suara burung tampaknya sangat menyenangkan telinga manusia — dan para ilmuwan mulai memahami alasannya.
Sepanjang sejarah evolusi kita, suara burung-burung yang beraktivitas mungkin merupakan sinyal yang meyakinkan bahwa lingkungan sekitar aman dari bahaya.
“Ini menunjukkan bahwa kenikmatan mendengarkan kicauan burung terhubung dengan sesuatu yang lebih mendasar daripada sekadar mengetahui apa yang Anda dengarkan,” kata Dr. Nadine Kalb, penulis utama studi yang diterbitkan pada 1 September jurnal Frontiers, dalam sebuah pernyataan.
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kombinasi berbagai fitur akustik penting untuk seberapa besar kita menyukai kicauan burung, dan bahwa kombinasi karakteristik akustik yang berbeda dapat menghasilkan suara yang sangat menyenangkan,” tambah Kalb, seorang ahli biologi di Universitas Tübingen, dalam sebuah email.
Para peneliti mengatakan bahwa temuan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana burung membentuk lingkungan kita — dan pada akhirnya membantu dalam merancang taman, ruang hijau perkotaan, dan tempat-tempat lain di mana orang pergi untuk bersantai.
Mengapa burung jalak hitam biasa meraih penghargaan tertinggi?
Tim peneliti meminta 84 orang untuk mendengarkan rekaman 123 spesies burung liar dan menilai seberapa menyenangkan menurut mereka suara masing-masing burung tersebut.
Bintang survei ini, dengan peringkat rata-rata 4,52 dari 5, adalah burung hitam biasa (atau burung hitam Eurasia). Biasanya terlihat di kebun, taman, dan hutan, Turdus merula adalah pemandangan yang familiar di seluruh Eropa, dengan nyanyian yang kaya, merdu, dan seperti seruling.
“Ketertarikan kami berkembang dari pertanyaan yang lebih luas: mengapa beberapa pertemuan dengan burung terasa sangat positif bagi orang-orang? Dalam penelitian kami sebelumnya, kami telah menemukan bahwa burung dan pengamatan burung dapat berkontribusi pada pemulihan psikologis dan kesejahteraan,” kata Randler dalam sebuah email.
Kali ini, para peneliti ingin mengamati suara itu sendiri lebih dekat — menggabungkan “biologi vokalisasi burung dan psikologi persepsi manusia,” kata Randler.
Setelah meminta orang-orang untuk menilai kicauan burung, para peneliti kemudian mencocokkan peringkat tersebut dengan karakteristik akustik kicauan untuk menentukan fitur mana yang membuat kicauan terdengar lebih merdu.
Salah satu temuan yang paling mengejutkan, kata Randler, adalah bahwa orang cenderung lebih menyukai kicauan burung yang lebih rumit.
“Secara intuitif kita mungkin mengharapkan suara yang sederhana dan berulang lebih mudah dan karenanya lebih menyenangkan, tetapi pola sebaliknya muncul: suara yang lebih kompleks cenderung menerima peringkat kesenangan yang lebih tinggi,” catatnya.
Memerhatikan kicauan burung
Menurut para peneliti, temuan ini pada akhirnya dapat membantu perencana kota dan perancang taman untuk berpikir berbeda tentang tempat-tempat yang bising.
Alih-alih hanya berfokus pada pengurangan kebisingan, para pejabat juga dapat lebih memerhatikan jenis suara yang didengar orang, termasuk suara alami seperti kicauan burung.
“Hal ini mengingatkan kita bahwa suara burung memiliki dimensi penting di luar komunikasi antar burung: suara burung juga membentuk bagian utama dari lanskap suara yang dialami manusia,” kata Randler.
Dr Olga Feher, seorang profesor madya psikologi di Universitas Warwick di Inggris yang mempelajari kicau burung, mengatakan, “Temuan ini menunjukkan bahwa setidaknya ada beberapa faktor biologis dalam preferensi manusia terhadap kicau burung.”
Feher tidak terlibat dalam penelitian baru ini
Feher menunjuk pada penelitian lain yang menunjukkan bahwa beberapa respons kita terhadap suara mungkin memiliki akar evolusi yang dalam.
Sebuah studi bulan Maret menemukan bahwa manusia dan hewan lain cenderung memiliki preferensi yang sama terhadap suara vokal tertentu, sementara sebuah studi tahun 2020 mengungkap bahwa musik manusia dan kicauan burung memiliki pola ritmis tertentu yang sama. ***
--- Simon Leya
Komentar