UKM Geliat Ekonomi Kreatif, Cherly Rintis Pusat Oleh-Oleh Khas NTT Di Ende 15 Dec 2017 10:01
"Daerah NTT memiliki potensi pangan dan kearifan lokal lain yang belum dikembangkan secara optimal sehingga belum berdampak terhadap nilai jual ekonomis. Sementara arus wisata ke NTT terus meningkat setiap tahun. Diharapkan peluang ini dapat dimanfaatkan
ENDE, IndonesiaSatu.co-- "Peluang usaha selalu ada. Karena begitu banyak potensi ekonomi dari hasil komoditi dan kearifan lokal yang bisa dikembangkan sehingga dapat menghasilkan nilai jual secara ekonomis. Ekonomi kreatif justru berangkat dari kesadaran, mentalitas, keterampilan dan daya juang untuk terus berusaha tanpa putus asa. Meningkatnya arus wisata baik domestik maupun Asing di Flores khususnya dan Nusa Tenggara Timur (NTT) umumnya, memberi peluang strategis bagi para pegiat dan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) guna mendorong penguatan ekonomi kreatif dengan citarasa dan kearifan lokal khas NTT."
Demikian hal itu diutarakan Cherly Yosthimer, penggagas dan pengelola Pusat Oleh-Oleh Khas NTT saat ditemui IndonesiaSatu.co di kediamannya di jalan Gatot Subroto Km 3 (Cabang PLTD depan praktek dr. Agung), Ende, Kamis (14/12/17).
Cherly mengisahkan bahwa sejak awal merintis usahanya setahun yang lalu, dirinya selalu merasa optimis dengan tetap memegang prinsip tidak pernah menyerah dan putus asa.
"Namanya usaha harus tetap optimis. Tentu ada pasang-surut. Prinsipnya terus berusaha dan tidak menyerah apalagi putus asa. Sekarang, saya sedang berkoneksi dengan kelompok-kelompok UKM yang mulai memproduksi hasil komoditi unggulan lokal terutama jenis pangan lokal lokal unggulan seperti kopi juga beberapa jenis tenun ikat khas daerah. Saya yakin, dengan kemasan citarasa lokal, pengembangan ekonomi kreatif akan terus membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat," lanjut Isteri dari Mitchell Augustinus ini.
Cherly menerangkan bahwa beberapa jenis 'oleh-oleh khas NTT' yang sedang disediakannya yakni kopi khas Flores, aneka keripik, snack dan cemilan dari bahan pangan lokal, souvenir serta selendang motif khas daerah NTT.
"Daerah NTT memiliki potensi pangan dan kearifan lokal lain yang belum dikembangkan secara optimal sehingga belum berdampak terhadap nilai jual ekonomis. Sementara arus wisata ke NTT terus meningkat setiap tahun. Diharapkan peluang ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah daerah agar dapat bersinergi dengan setiap kelompok UKM dan berbagai elemen pegiat ekonomi melalui promosi, atraksi dan akses informasi melalui media. Jangan sampai pegiat usaha dan pelaku ekonomi melalui kelompok-kelompok UKM berjuang sendiri mengangkat potensi dan kearifan lokal yang ada," tandasnya.
Menyentil animo gerakan generasi muda sekarang, Ibu dari dua orang anak ini menilai, generasi muda cenderung mengikuti arus perkembangan zaman sehingga berdampak pada gaya hidup dan perilaku sosial yang mengarah ke hal-hal negatif.
"Perlu adanya upaya konkrit dalam mengarahkan kehidupan generasi muda sekarang. Konsep kewirausahaan perlu dijabarkan secara konkrit guna mengasah keterampilan (skill) berusaha, menciptakan ruang inovasi dan etos kerja di kalangan generasi muda. Sekarang, inovasi mulai didorong dari Desa. Kaum muda harus dilibatkan sehingga tidak selalu merasa nyaman dengan situasi yang ada (ikut arus), pasif, tidak kompetitif dan kurang memiliki etos kerja di tengah arus persaingan," nilainya.
Ia mengharapkan agar perlu gerakan kewirausahaan bersama yang melibatkan setiap elemen masyarakat sesuai potensi dan kearifan lokal yang dimiliki.
"Wisata menjadi salah satu pintu masuk dan nnilai jual yang sangat berpotensi dalam meningkatkan sektor ekonomi dan kehidupan masyarakat. Geliat ekonomi kreatif menjadi solusi pemberdayaan dan peningkatan etos kerja sehingga masyarakat dan generasi muda bertindak sebagai pelaku dan pegiat usah bukan sebaliknya menjadi penonton yang pasif," pungkas pemilik Toko Kembar Jaya ini.
--- Guche Montero
Komentar