Breaking News

PARIWISATA Laporan Triwulan I Tahun 2026: Tren Positif Pariwisata Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Nasional 09 May 2026 20:34

Article image
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspasaat menyampaikan "Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata", Jumat (8/5/2026), di Jakarta. (Foto: Humas Kemenpar)
Secara keseluruhan, pencapaian sektor pariwisata pada bulan Maret 2026 merupakan prestasi yang membanggakan dan membuktikan resiliensi pariwisata Indonesia.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Sektor pariwisata kembali menunjukkan kontribusi nyata dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional di Triwulan I Tahun 2026, melalui pertumbuhan aktivitas ekonomi pariwisata yang berhubungan erat dengan kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara.

"Secara keseluruhan, pencapaian sektor pariwisata pada bulan Maret 2026 merupakan prestasi yang membanggakan dan membuktikan resiliensi pariwisata Indonesia," ujar Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana saat menyampaikan "Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata", Jumat (8/5/2026), di Jakarta.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana didampingi Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menjelaskan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada bulan Maret 2026 mencapai 1,09 juta kunjungan atau meningkat 10,50 persen dibandingkan dengan Maret 2025 sebesar 984.769 kunjungan. Secara year-to-date, kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari-Maret 2026 meningkat 8,62 persen dibandingkan Januari-Maret 2025.

Dalam mengantisipasi menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara akibat situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, pariwisata Indonesia menerapkan strategi adaptif. Hasilnya terlihat dari pertumbuhan wisatawan mancanegara asal Oseania yang tumbuh 19,32 persen, Asia Tenggara tumbuh 18,84 persen, dan Asia lainnya yang tumbuh 8,03 persen, pada Maret 2026 secara year-on-year.

Badan Pusat Statistik juga telah merilis rerata pengeluaran wisatawan mancanegara per kunjungan atau Average Spending per Arrival (ASPA) untuk Triwulan I 2026 yakni sebesar 1.345,61 dolar AS atau setara dengan Rp22,87 juta (kurs dolar AS ke Rupiah per 31 Maret 2026: Rp16.992). Angka ini menandai pencapaian yang sangat signifikan dengan pertumbuhan 5,36 persen secara year-on-year.

"Kementerian Pariwisata akan terus mengupayakan pengembangan produk dan paket wisata yang tepat untuk mengembangkan pariwisata berkualitas yang membawa dampak positif secara ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan," kata Menteri Widiyanti melalui siaran pers.

Sementara dari sisi wisatawan nusantara, tercatat adanya 126,34 juta perjalanan pada Maret 2026 yang meningkat 42,10 persen dibandingkan Maret 2025. Peningkatan ini utamanya dipicu momen libur Nyepi dan Idul Fitri di Maret 2026, disertai peningkatan konsumsi masyarakat. Secara kumulatif Januari-Maret 2026, perjalanan wisatawan nusantara mengalami peningkatan sebesar 13,14 persen menjadi 319,51 juta perjalanan.

Kementerian Pariwisata juga memantau perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri atau wisatawan nasional. Sebanyak 793.158 perjalanan wisatawan nasional tercatat pada Maret 2026, meningkat 36,26 persen dibandingkan Maret 2025, kemungkinan dipengaruhi oleh momen libur hari raya keagamaan.

Namun, kunjungan wisatawan mancanegara pada Maret 2026 maupun secara kumulatif Januari–Maret 2026 masih melampaui jumlah perjalanan wisatawan nasional dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025.

Pada Maret 2026 tercatat surplus sebesar 0,30 juta kunjungan, sementara periode Januari–Maret 2026 mencatat surplus 0,94 juta kunjungan. Kondisi ini mendukung pencapaian net devisa pariwisata yang positif bagi Indonesia.

Ekonomi nasional secara keseluruhan di Triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,61 persen (year-on-year) yang menunjukkan momentum pertumbuhan yang solid. 

Dalam capaian positif tersebut, sektor pariwisata memberikan kontribusi sebesar 4,01-5,00 persen, sesuai estimasi BPS (data sementara) dan Office of Chief Economist Bank Mandiri.

Hal ini didukung oleh pertumbuhan lapangan usaha terkait pariwisata yaitu akomodasi dan makan minum sebesar 13,14 persen dengan kontribusi Rp172,7 triliun, jasa lainnya sebesar 9,91 persen dengan kontribusi Rp136,4 triliun, transportasi dan pergudangan sebesar 8,04 persen dan kontribusi Rp378,3 triliun, serta jasa perusahaan mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,91 persen dan kontribusi Rp122 triliun.

 

Sinergitas Kementerian/Lembaga

Sepanjang April 2026, Kementerian Pariwisata terus meningkatkan kolaborasi dengan berbagai Kementerian/Lembaga untuk menyukseskan program pemerintah.

Dalam menghadapi dinamika global, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah memberikan sejumlah arahan yang memiliki implikasi terhadap sektor pariwisata nasional. Arahan tersebut mencakup konektivitas dan harga tiket, penguatan daya tarik dan aksesibilitas, serta stabilitas sektor di tengah dinamika global. Untuk itu, Kementerian Pariwisata sesegera mungkin akan menindaklanjuti arahan tersebut sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan yang dimiliki.

Berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Kementerian Pariwisata menerima 483 skema okupasi nasional dari 34 bidang pariwisata. Skema okupasi ini juga merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Republik Indonesia dalam rangka percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang adaptif, terampil, dan produktif melalui jalur vokasi.

Kementerian Pariwisata juga hadir menyerahkan penghargaan Corporate Social Responsibility (CSR) dan Pengembangan Desa Berkelanjutan Awards 2026 kepada Gubernur Jawa Timur dalam acara Corporate Social Responsibility (CSR) dan Pengembangan Desa Berkelanjutan Awards yang diselenggarakan Indonesian Social Sustainability Forum (ISSF) bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.

 

Program Prioritas Pariwisata

Sebagai tindak lanjut dan dukungan terhadap misi Asta Cita, sepanjang April 2026, Kementerian Pariwisata juga melaksanakan berbagai program prioritas pariwisata.

Terkait upaya peningkatan keselamatan wisata, telah dilakukan upskilling dan reskilling pemandu wisata untuk meningkatkan kesiapsiagaan pencegahan dan penanganan pertama dalam wisata ekstrem melalui pelaksanaan pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi pemandu wisata. Salah satunya melalui program peningkatan keselamatan wisata bahari di Labuan Bajo.

Selanjutnya, dalam mewujudkan pariwisata berkualitas, Kementerian Pariwisata berupaya memanfaatkan minat khusus yaitu gastronomi, marine, wellness, wastra, serta art and design, sebagai daya tarik untuk menarik wisatawan mancanegara berdaya beli tinggi dan meningkatkan pengeluaran. Dalam rangka mendorong terwujudnya pariwisata berkualitas diadakan Wonderful Indonesia Awards sebagai bentuk apresiasi sekaligus upaya untuk mendorong inovasi serta meningkatkan kualitas layanan pariwisata nasional.

Kementerian Pariwisata juga memaksimalkan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat dengan pengembangan program Event by Indonesia. Salah satunya dalam penyelenggaraan Karisma Event Nusantara (KEN) dimana hingga 6 Mei 2026 tercatat 13 event telah terselenggara di 11 provinsi.

Dari 13 event, 10 event telah selesai dilakukan kajian terhadap dampak dan mencatatkan 752,30 ribu pengunjung, transaksi ekonomi sebesar Rp74,25 miliar, melibatkan 3.760 UMKM, 6.950 pekerja seni, dan membuka lapangan kerja bagi 3.260 tenaga kerja.

Kementerian Pariwisata juga menjalin kolaborasi strategis dengan PT MDTV (bagian dari MD Entertainment) melalui Nota Kesepahaman Bersama (MoU) terkait promosi dan publikasi Event by Indonesia.

Dalam rangka pengembangan sumber daya manusia dilaksanakan Rapat Koordinasi Politeknik Pariwisata (Poltekpar), rapat membahas sejumlah agenda strategis, antara lain penguatan kelembagaan pendidikan vokasi, penyusunan rencana strategis (Renstra) Poltekpar, serta penataan organisasi. Forum ini diharapkan mampu merumuskan strategi yang efektif untuk meningkatkan kualitas SDM pariwisata yang terampil, berdaya saing, serta selaras dengan kebutuhan industri.

Dalam pengembangan investasi dan industri pariwisata, Kementerian Pariwisata terus melakukan berbagai upaya penataan perizinan berusaha di sektor akomodasi pariwisata bersama pemerintah daerah, asosiasi, dan online travel agent (OTA) guna memastikan kepatuhan terhadap regulasi usaha. Upaya ini menunjukan hasil yang positif, per 30 April 2026 jumlah akomodasi pariwisata yang telah terdaftar dan memiliki izin berusaha dalam sistem OSS meningkat 43,12 persen.

Dalam promosi pariwisata Indonesia, Kementerian Pariwisata berpartisipasi dalam tiga kegiatan pameran dan satu kegiatan sales mission. Rangkaian kegiatan ini mencatatkan total potensi devisa senilai Rp167,92 miliar, potensi transaksi Rp 1,88 miliar serta jumlah potensi perjalanan sebesar 8.270 pax. Event pemasaran tersebut diantaranya Asia Dive Expo (ADEX) 2026, Macao International Travel Expo (MITE) 2026, Sales Mission Japan 2026, dan Deep & Extreme Indonesia (DXI).

Potensi krisis memiliki dampak yang signifikan terhadap pariwisata nasional. Untuk itu, Kementerian Pariwisata secara berkala melakukan monitoring terhadap potensi krisis yang dapat berdampak pada sektor pariwisata. Kolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait terus dilakukan guna memastikan upaya mitigasi dan penanggulangan bencana dilakukan secara terstruktur dan berkesinambungan.

Salah satu langkah yang dilakukan, Kementerian Pariwisata segera berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk memperoleh klarifikasi saat Kedutaan Besar Republik Korea di Indonesia menerbitkan travel advisory untuk Bali. Guna menjaga Bali sebagai destinasi yang aman dan nyaman, Kementerian Pariwisata mendorong penguatan tata kelola keamanan dan kepatuhan, termasuk pengetatan verifikasi tamu serta pelaporan data WNA yang tertib dan terintegrasi.

"Pencapaian Triwulan I mencerminkan kuatnya industri pariwisata dan kepercayaan global terhadap destinasi pariwisata Indonesia, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia," jelas Menteri Pariwisata. *

--- F. Hardiman

Komentar