Breaking News

OPINI Geotermal Bukan Energi Masa Depan Flores, Tapi Ancaman bagi Rakyat 30 Jul 2026 19:32

Article image
Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD. (Foto: kawali.org)
Sebelum uskup berbicara, masyarakat sudah bicara. Tetapi umumnya suara mereka kurang didengar. Dan sekarang, kami bersama-sama menyuarakan penolakan ini.

Oleh: Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD

(Uskup Keuskupan Agung Ende)

 

SIKAP uskup dan pendamping Keuskupan Agung Ende, juga sikap para uskup Provinsi Gerejawi Ende, sampai sekarang tidak berubah. Kami tetap menolak geotermal sebagai bentuk energi terbarukan yang mau diterapkan di Flores.

Sikap ini kita utarakan pertama kali ketika saya menyampaikannya secara terbuka pada 6 Januari 2025, lalu juga ditulis dalam beberapa surat gembala dan juga para uskup se-Provinsi Gerejawi Ende. Enam uskup -- Uskup Denpasar, Uskup Labuan Bajo, Uskup Ruteng, Uskup Agung Ende, Uskup Maumere, Uskup Larantuka -- juga menyatakan sikap yang sama terhadap geotermal.

Saya perlu tegaskan bahwa dengan sikap ini, bukan berarti kami menolak kemajuan atau juga menolak kebutuhan akan listrik. Kami sangat sadar kita butuh listrik. Juga dengan sikap seperti ini, bukan berarti kita menolak untuk beralih ke energi terbarukan.

Bersama Paus Fransiskus, kami sadar akan kemendesakan untuk beralih dari energi berbasis fosil ke energi terbarukan. Hanya kami menilai bahwa geotermal itu bukan pilihan yang tepat untuk konteks kami di Flores.

Ada beberapa alasan yang bisa saya sampaikan:

Pertama, soal topografi wilayah. Kami, terutama di Keuskupan Agung Ende, punya wilayah yang bergunung-gunung dan berbukit, yang menyisakan lahan yang sangat terbatas untuk pemukiman dan untuk pertanian warga. Sementara titik-titik yang mau diincar untuk pengembangan geotermal ini justru titik-titik seperti itu. Karena itu akan mengambil lahan yang digunakan untuk pemukiman, juga untuk pertanian warga.

Kedua, soal kekurangan air. Geotermal pasti membutuhkan air, sekurang-kurangnya pada fase drilling. Itu butuh air. Sementara masyarakat kita sudah mengeluh kekurangan air. Dua minggu lalu saya ada di Laja. Laja itu tempat dari mana air akan diambil untuk pengembangan geotermal di Mataloko.

Orang-orang sudah mengeluh soal kekurangan air di sana. Walaupun katanya geotermal ini sangat terbatas penggunaan air, tapi tetap sekarang sudah mengeluh kekurangan air. Kalau air yang sudah berkurang itu digunakan lagi untuk geotermal, maka masyarakat yang adalah para petani itu akan sangat menderita. Lalu air di Laja itu digunakan untuk mengairi persawahan warga. Soal kekurangan air adalah masalah yang sangat serius.

Yang ketiga, soal kebudayaan kami di Flores, masyarakat memang hidupnya sangat ditentukan oleh pertanian. Pertanian menentukan semuanya. Menentukan cara orang berinteraksi satu sama lain. Cara orang membagi ketenangan dalam masyarakat. Semuanya terputar sekitar pertanian.

Kalau dengan geotermal ini, yang nanti akan mengambil sebagian dari lahan warga untuk pertanian, maka pasti akan terjadi pergeseran budaya. Bukan berarti kita anti perubahan-perubahan atas budaya, tapi kalau perubahan itu terjadi dalam tempo yang sangat cepat, itu akan sangat sulit. Masyarakat akan kehilangan orientasi budayanya, dan dengan demikian akan kehilangan identitasnya. Itu yang kita tidak mau terjadi di Flores.

Keempat, alasan pengalaman traumatis yang kami miliki dengan satu "site" yang menimbulkan masalah besar yaitu Mataloko. Di Mataloko sekarang ada manifestasi uap panas di banyak tempat dan ini menunjukkan bahwa persoalan mitigasi risiko tidak ditangani dengan baik. 

Untuk mengiyakan, untuk bisa meyakinkan masyarakat tentang baiknya proyek ini harus ditunjukkan dulu bahwa ketika terjadi, ada masalah, orang bisa mengatasinya. Tapi kalau sudah ada masalah tapi belum ditangani dengan baik, lalu bagaimana memaksakan orang menerima pengembangan geotermal internal yang lain?

Untuk ini ada dua hal yang saya kira sangat penting, yaitu soal kemauan dan kemampuan. Apakah ada kemauan untuk membuat mitigasi risiko kalau terjadi sesuatu yang tidak dihendaki dan juga apakah ada kemampuan.

Kemampuan ini berkenaan dengan kemampuan teknis dan kemampuan finansial, apakah ada kemampuan teknis untuk mengatasi risiko ketika terjadi bencana atau terjadi hal yang tidak diinginkan dan apakah ada kemampuan finansial. Mengalihkan yang sudah tidak berjalan ini menjadi geopark, itu bukan bukti ada kemauan dan ada kemampuan untuk menangani risiko.

Dengan konteks seperti ini, maka kami, saya dan para uskup di Flores punya sikap yang sama. Kami tetap menolak geotermal dengan alasan-alasan yang disebutkan tadi, karena kami mempunyai tanggung jawab untuk bersama masyarakat, bersama umat kami yang menjadi korban dari proyek ini.

Kita harus berdiri bersama mereka, ada bersama mereka, bersuara bersama untuk mereka. Masyarakat memang sebagiannya sudah bersuara sebelumnya ya. Sebelum uskup berbicara, masyarakat sudah bicara. Tetapi umumnya suara mereka kurang didengar. Dan sekarang, kami bersama-sama menyuarakan penolakan ini.

Saya mengharapkan supaya ini mendapat tanggapan yang serius dari para pengambil kebijakan karena ini kondisi yang kami alami di sana. Seperti tadi, kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, siapa yang menanggung risiko itu? Kan masyarakat setempat. Para pengambil kebijakan mungkin juga punya tanggung jawab, tapi kan tidak langsung kepada masyarakat setempat dan untuk mereka kami berbicara, persoalannya mereka kami mesti berbicara.***

 

NB: Pandangan ini disampaikan secara lisan oleh Uskup Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD pada media briefing (offline dan online/zoom), digelar pada Rabu (29/7/26) di Kantor JPIC OFM, Jakarta Pusat.

Komentar