REGIONAL Uskup Agung Ende Tekankan Empat Hal Penting Selama Masa Pemulihan Pascagempa Flores 14 Sep 2026 13:21
Uskup Agung Ende berharap, kerja sama dan dukungan semua umat sangat diperlukan untuk melaksanakan apa yang tertuang dalam Surat Gembala tersebut, terutama terkait penyederhanaan pesta-pesta.
NDONA-ENDE, IndonesiaSatu.co-- Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Ende untuk terus membangun harapan, memperkuat solidaritas, dan bangkit bersama setelah mengalami bencana gempa bumi pada 15 Agustus 2026 lalu dan melewati masa tanggap darurat pascagempa.
Melalui Surat Gembala bertema “Wajah-Mu kucari, ya Tuhan” (Mzm. 27:8) yang dikeluarkan pada 11 September 2026 dan diumumkan di gereja-gereja lewat mimbar Minggu (13/9/2026), Uskup Agung Ende mengajak umat untuk menemukan wajah Tuhan bukan hanya dalam doa, tetapi juga dalam diri mereka yang menderita dan dalam diri orang-orang yang hadir memberikan pertolongan.
"Pada hari Senin tanggal 14 September, Gereja merayakan Pemuliaan Salib Suci. Pesta ini menjadi kesempatan istimewa untuk merenungkan pengalaman kita selama hari-hari bencana gempa bumi dan masa tanggap darurat, serta memberikan kita inspirasi untuk menenun kembali harapan dan merajut masa depan. Kita dituntut untuk terus memelihara kesabaran, ketekunan, solidaritas, dan tanggung jawab bersama dalam memulihkan kehidupan dan membangun kembali harapan," demikian ajakan awal dalam Surat Gemba tersebut.
Mencari Wajah Tuhan
Dalam Surat Gembalanya, Uskup Agung Ende mengatakan bahwa Pesta Pemuliaan Salib Suci mengungkapkan iman kita bahwa Salib bukanlah kutukan, melainkan tempat Tuhan menampakkan wajah-Nya yang sebenarnya.
"Mengenal wajah Tuhan yang berkuasa atas ciptaan, yang mengadakan segala sesuatu dari ketiadaan, yang membangkitkan orang mati dan menyembuhkan orang sakit, justru dalam diri Kristus yang tersalib, bukanlah hal yang mudah. Di dalam Salib, kita berhadapan dengan misteri Kuasa Allah, yang dinyatakan dalam kasih yang rela masuk ke dalam penderitaan manusia.
Dalam hari-hari bencana gempa bumi yang melanda wilayah kita, kita mencari wajah Tuhan. Iman akan Tuhan yang tersalib sebenarnya menegaskan bahwa Allah hadir bersama kita sambil memikul salib-Nya dan Salib kita. Tuhan yang memikul Salib bersama kita adalah juga Allah yang membangkitkan harapan, menyembuhkan luka, dan memulihkan saya juang kita," demikian intisari dari hal tersebut.
Menampakkan Wajah Tuhan
Bencana gempa bukanlah hukuman Tuhan atas kita. Peristiwa ini bukan karena Allah memalingkan wajah-Nya dari kita. Kendagi demikian, kita pun melihat diri secara lebih jujur di tengah peristiwa gempa bumi ini. Kita perlu menjadi Gereja yang semakin menghayati semangat kenosis, yakni mengosongkan diri dari kepentingan dan kenyamanan pribadi untuk hadir dan melayani mereka yang miskin, menderita, dan terdampak bencana. Bangkit dari bencana berarti bangun kembali dengan semangat baru untuk menghayati iman yang ditunjukkan dalam kepekaan terhadap kesulitan dan penderitaan yang dialami orang lain, serentak menghidupi solidaritas dengan kerelaan saling membantu menyalakan kembali api harapan, dan membangun kembali dari reruntuhan.
Uskup Agung Ende menekankan, dengan semakin mencintai Sabda Allah dan menghidupi solidaritas, kita perlahan bangkit kembali, menata lagi kehidupan kita. Pemulihan pascabencana bukan hanya soal memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi terutama memulihkan kehidupan manusia, relasi persaudaraan, penghidupan keluarga, serta keberanian untuk menatap masa depan. Kesederhanaan, kerendahan hati dan keberanian itu mesti terungkap dalam beberapa hal berikut:
Pertama, berkenaan dengan perayaan-perayaan liturgis.
Tempat perayaan liturgis hendaknya disesuaikan dengan kondisi gereja atau kapela. Para pastor paroki/kuasi paroki perlu memutuskan tempat yang tepat dan aman untuk perayaan Ekaristi dan sakramen lainnya. Pelayanan sakramen seperti permandian, Komuni Pertama, pernikahan, dan krisma dapat kembali dilaksanakan di tempat yang dipandang tepat dan aman.
Kedua, berkenaan dengan penerimaan bantuan.
Uskup mengingatkan bahwa kebutuhan para penyintas berbeda-beda sesuai tingkat kehilangan dan kerusakan yang dialami. Karena itu, keadilan tidak selalu berarti semua orang memperoleh bantuan yang sama, tetapi bantuan diberikan berdasarkan kebutuhan dan tingkat penderitaan masing-masing.
Semua pihak yang terlibat dalam pengumpulan maupun pendistribusian bantuan diharapkan melaksanakannya secara adil, jujur, dan transparan, agar bantuan sosial tidak menimbulkan bencana sosial berupa perpecahan dan konflik.
Ketiga, kebiasaan berpesta.
Uskup Agung Ende mengajak umat untuk mensyukuri berbagai anugerah Tuhan melalui perayaan liturgis. Namun, pesta-pesta yang menyertai perayaan gerejani hendaknya disederhanakan atau bahkan ditiadakan.
Perjamuan tidak perlu dipestakan secara berlebihan. Perayaan Komuni Pertama, pernikahan, tahbisan, kaul kekal, peringatan hari ulang tahun tahbisan atau kaul, pemberkatan gereja dan kapela, ulang tahun paroki, serta kegiatan sejenis hendaknya dilaksanakan secara sederhana.
Uskup Agung Ende mengingatkan, kesederhanaan bukan sekadar mengurangi pengeluaran, tetapi merupakan pilihan iman dan tanda solidaritas kepada mereka yang masih berjuang memulihkan kehidupan mereka. Ini adalah bukti solidaritas kita dengan mereka yang menderita, tanggung jawab kita terhadap keluarga kita sendiri, terutama bagi anak-anak kita dan pendidikan mereka, serta kepekaan terhadap orang-orang tua dan sakit yang memerlukan perawatan.
Keempat, berkenaan dengan tahapan pemulihan pascagempa.
Uskup Agung Ende menegaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, tanggung jawab utama penanggulangan bencana berada pada pemerintah. Namun, hal tersebut tidak meniadakan partisipasi umat sebagai warga negara.
Tahap transisi dan pemulihan mencakup pendampingan pastoral dan trauma healing, pemulihan ekonomi, serta perbaikan dan pembangunan kembali hunian warga dan fasilitas umum.
Gereja juga akan berpartisipasi sesuai petunjuk pemerintah dan kemampuan yang dimiliki. Perhatian terutama diarahkan kepada mereka yang kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, sumber penghidupan, serta mereka yang masih mengalami ketakutan dan trauma.
Dalam pembangunan kembali fasilitas Gereja, Uskup menekankan prinsip solidaritas dan subsidiaritas. Bangunan yang dibangun kembali hendaknya tidak sekadar mengembalikan keadaan seperti semula, tetapi menjadi kesempatan belajar dari pengalaman gempa agar lebih aman, layak, sederhana, dan sesuai kebutuhan pastoral.
Pada bagian penutup dari Surat Gembala, Uskup Agung Ende menyampaikan terima kasih kepada para relawan, pemerintah, Caritas Indonesia, keuskupan-keuskupan, organisasi, kelompok masyarakat, biara-biara, dan semua pihak yang telah membantu masyarakat terdampak gempa.
Uskup Agung Ende berharap, kerja sama dan dukungan semua umat sangat diperlukan untuk melaksanakan apa yang tertuang dalam Surat Gembala tersebut, terutama terkait penyederhanaan pesta-pesta.
--- Guche Montero
Komentar