INTERNASIONAL Gunung Sampah di Filipina Ambruk, 50 Orang Terkubur 10 Jan 2026 20:31
Proses pencarian dan penyelamatan akan terus dilakukan selama beberapa hari ke depan, di tengah kondisi gunung sampah yang labil dan potensi bahaya longsor susulan.
CEBU, IndonesiaSatu.co-- Gunung sampah setinggi gedung 20 lantai di Kota Cebu, Filipina, ambruk pada Kamis (8/1/2026) dan menimpa 50 orang di bawahnya.
Tim penyelamat terus melakukan evakuasi para korban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Binaliw.
Sejauh ini, dari 50 orang yang terkubur, enam korban tewas, 32 hilang, sedangkan 12 orang berhasil diselamatkan.
Menurut anggota Dewan Kota Cebu, Dave Tumulak, tumpukan sampah yang ambruk diperkirakan setinggi 20 lantai.
"Dua jenazah lagi ditemukan hari ini, tetapi kami belum bisa mengevakuasi karena tertimpa balok logam berat," ujar Dave kepada AFP, Sabtu (10/1/2026) melansir Kompas.com.
Dave menjelaskan, proses evakuasi terkendala material logam besar yang menimpa korban. Untuk mempercepat upaya penyelamatan, sebanyak 20 truk dilengkapi derek hidrolik dan alat pemotong khusus telah dikerahkan ke lokasi.
"Tim penyelamat kami kesulitan karena balok-balok logamnya besar. Dengan truk-truk itu, logam bisa diangkat dan tim dapat menavigasi lokasi dengan lebih efisien," ujar Dave.
Ia menegaskan, operasi penyelamatan dilakukan tanpa henti.
"Kami berharap dapat menyelamatkan sebanyak mungkin orang yang masih hidup. Kami berpacu dengan waktu, itulah mengapa pengerahan kami 24/7," ungkapnya.
Hingga kini, 12 pekerja yang ditemukan dalam keadaan hidup telah dirawat di rumah sakit.
Sementara itu, kru penyelamat dari Cebu, Jo Reyes, menyebutkan bahwa operasi pencarian masih berlangsung, tetapi sempat terhenti karena pergerakan sampah berisiko menyebabkan longsor susulan.
"Tempat pembuangan ini terus bergerak, dan membuat operasi berhenti sementara," ujar Reyes.
Keluarga Korban Terus Berharap
Di tengah pencarian yang penuh risiko, puluhan keluarga korban menanti kabar di sekitar lokasi kejadian.
"Kami berharap sepenuh hati dan berdoa untuk keajaiban," ujar anggota dewan kota lainnya, Joel Garganera.
Ia menyebut, kondisi tumpukan sampah di lokasi itu mengkhawatirkan.
Menurutnya, ketinggian sampah bisa mencapai 20 lantai, dan ketika hujan turun, area tersebut semakin rawan longsor. "Sesekali, ketika hujan, terjadi tanah longsor di sekitar Kota Cebu. Betapa lebih berbahayanya (itu) untuk tempat pembuangan sampah atau gunung yang terbuat dari sampah?" ujarnya.
Garganera mengatakan, limbah padat yang menumpuk di sana menyerap air seperti spons, dan membuat struktur semakin tidak stabil.
“Tidak perlu menjadi seorang ahli roket untuk mengatakan bahwa pada akhirnya, insiden itu akan terjadi,” katanya.
Ia juga menyebut, sejumlah pengemudi truk sampah sedari lama mengeluhkan jalan curam menuju puncak yang berbahaya.
Foto-foto yang dirilis kepolisian setempat memperlihatkan tumpukan sampah menjulang di atas perbukitan, tepat di belakang bangunan administrasi.
Menurut Garganera, beberapa korban yang tertimbun tinggal di kompleks perumahan staf di area gunung sampah.
“Ini pukulan ganda bagi Kota Cebu,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa TPA tersebut merupakan satu-satunya fasilitas yang memproses 1.000 ton sampah padat setiap hari untuk Cebu dan sekitarnya.
Hingga kini, operator TPA tersebut, Prime Integrated Waste Solutions, belum memberikan tanggapan atas insiden tersebut.
Seorang operator mesin pemadat, Rita Cogay (49), menjadi salah satu saksi mata saat bencana terjadi.
“Saya pikir ada helikopter yang datang. Terdengar suara benturan keras, tetapi ketika saya menoleh, yang terlihat adalah sampah dan bangunan ambruk," kenang Cogay.
Cogay mengaku selamat dari bencana karena saat itu sedang keluar untuk minum.
Proses pencarian dan penyelamatan akan terus dilakukan selama beberapa hari ke depan, di tengah kondisi gunung sampah yang labil dan potensi bahaya longsor susulan.
--- Guche Montero
Komentar