Breaking News

REGIONAL Hembusan Napas Terakhir Sang Panglima Gempa di Balik Tenda Darurat 04 Oct 2026 05:06

Article image
Sebuah ironi yang menyayat hati; Ketua Satuan Tugas Percepatan Penanganan Gempa Flores Kabupaten Nagekeo itu berpulang di jantung panggung bencana yang siang-malam sedang ia urus.

MBAY, IndonesiaSatu.co - Tenda darurat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aeramo, Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi bisu kepergian seorang pelayan masyarakat pada Sabtu (3/10/2026) malam.

Di bawah kanopi terpal sementara—yang terpaksa didirikan karena bangunan utama rumah sakit retak parah diguncang gempa bumi 15 Agustus lalu—Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada (58), mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 20.10 Wita.

Sebuah ironi yang menyayat hati; Ketua Satuan Tugas Percepatan Penanganan Gempa Flores Kabupaten Nagekeo itu berpulang di jantung panggung bencana yang siang-malam sedang ia urus.

Kepergian pria kelahiran 11 April 1968 ini menyentak banyak pihak. Sebelum dilarikan ke RSUD Aeramo, almarhum sempat mendapat pertolongan pertama di Puskesmas Kota di Penginanga dalam kondisi kritis dan tak sadarkan diri.

Direktur RSUD Aeramo, dr. Chandrawati Saragih, yang tengah mengambil cuti di Medan, membenarkan detik-detik upaya penyelamatan sang Wakil Bupati.

"Sempat ditangani dokter anestesi dan dokter penyakit dalam. Kondisinya memang sudah tidak baik, sudah kritis. Tak lama kemudian, beliau dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 20.10 oleh dokter Eric," tutur Chandrawati seperrti diberitakan media setempat.

Di mata warga Nagekeo, Gonzalo bukanlah pejabat yang sekadar berpangku tangan di balik meja birokrasi. Sejak bumi Mbay berguncang hebat sebulan lalu, ia langsung mengambil posisi di garis depan.

Sebagai Ketua Satgas, hari-harinya dihabiskan dengan melongok nasib warga dari satu tenda pengungsian ke tenda lainnya. Ia memimpin rapat penanganan darurat tanpa kenal lelah, memastikan logistik mengalir di posko-posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan menjadi sandaran moral bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Sang pemimpin tak pernah benar-benar beristirahat, hingga tubuhnya sendiri yang memaksanya berhenti. Bahkan, hanya sehari sebelum ajal menjemput, dedikasi itu belum pudar.

Pada hari Jumat, almarhum masih tampak berdiri di Posko BPBD Nagekeo. Ia mendampingi kunjungan kemanusiaan musisi Pasha Ungu, menyapa para pengungsi, dan membagikan semangat lewat senyum khasnya yang meneduhkan. Tidak ada yang menyangka, senyuman ramah di tengah puing gempa itu adalah salam perpisahan dari sang Wakil Bupati.

Sabtu malam, kabar duka itu menjalar menjangkau pelosok desa, bergerak lebih cepat dari getaran gempa itu sendiri. Ratusan warga yang menolak percaya, membludak memadati pelataran RSUD Aeramo. Di bawah pendar lampu-lampu darurat, isak tangis pecah bersahutan.

Suasana haru membumbung tinggi saat sirene ambulans meraung membelah gelap, membawa jenazah almarhum meninggalkan kawasan rumah sakit yang retak itu menuju rumah duka. Rakyat mengantar kepergian pemimpin mereka dengan dada sesak.

Gonzalo Gratianus Muga Sada merajut karir pengabdiannya dari bawah. Politisi senior Partai Perindo ini pernah memanggul amanah sebagai Anggota DPRD Provinsi NTT periode 2019-2024. Jejak karier yang panjang tak pernah mengikis wataknya yang membumi dan rendah hati.

Kini, sembari menunggu Pemerintah Kabupaten Nagekeo mengumumkan jadwal pemakaman resmi, seluruh Nagekeo menundukkan kepala. Sang panglima gempa telah purna tugas. Ia meninggal saat mengurus warganya yang berduka, dan kini warganya ganti menangisinya. Selamat jalan, Pak Wakil Bupati. Istirahatlah dalam Keabadian. ***

--- Sandy Javia

Komentar