Breaking News

NASIONAL In Memoriam Agus Widjojo, Didik J Rachbini: Militer dalam Sosial Politik Lemahkan Profesionalisme TNI 09 Feb 2026 12:06

Article image
Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Filipina Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo wafat pada Minggu (8/2/2026) malam. (Foto: Ist)
Pendek kata intelektualisme Agus Widjojo lengkap dan komprehensif, yang belum tentu ada penggantinya”.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co  - Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Filipina Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo wafat pada Minggu (8/2/2026) malam.

Mantan Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) periode 2016-2022 itu mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto sekitar pukul 20.15 WIB. Rencananya, Agus akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Berikut, sekelumit kenangan sekaligus pemikiran Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini tentang sosok Jenderal (purn.) Agus Widjojo, seorang perwira intelektual karena posisinya sebagai elit militer dan perwira tinggi TNI, sekaligus pemikir strategis yang konsisten mendorong demokratisasi.

“Saya mengenal Jenderal (purn.) Agus Widjojo sejak awal 1990-an ketika diajak Dipo Alam untuk merancang dan melaksanakan seminar Angkatan Darat kedua di Bandung. Saya baru menyelesaikan kuliah doktor dan pemikiran tentang ekonomi politik yang masih hangat di kepala. 

Pertemuan yang berhari-hari dengannya memberi kesan bahwa Agus Widjojo merupakan jenderal intelektual yang fasih pemikiran politik dan militer dalam konteks perubahan jaman. Setelah itu saya sering bertemu hanya dalam seminar dan juga berkomunikasi lewat media sosial karena mempunyai group WA yang sama.

Kalangan intelektual sipil seperti saya dan banyak kawan-kawan yang lain nyaman bertukar pikiran dengan Agus Widjojo. Selain santun dan ramah, pemikirannya sangat bernas dan menjunjung pemikiran profesionalisme TNI dan sekaligus suppremasi sipil. Karena memang begitulah sejatinya masyarakat modern. 

Agus Widjojo sering disebut “tentara intelektual atau perwira intelektual” karena posisinya yang khusus dan unik, yakni sebagai elit militer dan perwira tinggi TNI, tetapi sekaligus pemikir strategis yang konsisten mendorong demokratisasi.

Pemikirannya tentang profesionalisme militer dan supremasi sipil tidak lain untuk tujuan yang dipikirkannya, demokrasi modern dimana masyarakat madani seimbang dalam trias politika, eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pemikirannya di bidang politik dan militer sangat berpengaruh terutama pada masa transisi Reformasi.

Agus Widjojo adalah salah satu arsitek intelektual yang menutup era Dwifungsi ABRI. Agus Widjojo berpandangan bahwa militer yang profesional, kuat dan paham peranan sejatinya sebagai benteng tanah air justru lahir dari demokrasi, bukan dari kekuasaan politik pragmatis di lapangan. Keterlibatan militer dalam dalam kehidupan sosial politik praktis justru melemahkan profesionalisme TNI.

Bagi Agus kekuasaan politik harus sepenuhnya berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis. Institusi militer mesti tunduk pada konstitusi dan hukum, bukan “penjaga kekuasaan”, melainkan alat negara untuk pertahanan.

Di kalangan perwira senior banyak yang pemikiran dan wawasannya sangat luas dalam bidang sosial politik dan tepat disebut sosok perwira intelektual.

Selain Agus Widjojo, kita kenal almarhum Jenderal Sajidiman Suryohadiprodjo, SBY, ZA Maulani dan Jenderal Prabowo sendiri. Kita kenal pemikiran SBY dan think tank yang didirikannya, yakni Brighten Institute dan sekarang The Yudhoyono Institute. Sementara Prabowo dan kawan-kawan (Din Syamsuddin, Fadli Zon, dkk) pernah mendirikan lembaga Think Tankl CPDS (Center for Policy and Development Studies). Namun di kalangan jenderal dan perwira sekarang kita sulit mengenali tentara intelektual seperti Agus widjojo dan kawan-kawan

Agus Widjojo termasuk golongan tentara intelektual, yang pemikirannya tumpah di lembaga strategi Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional). Di lembaga ini fungsi intelektual dan strategisnya terus berjalan menyebar ke kalangan elit pemimpin pemerintahan. 

Lemhanas yang dipimpinnya adalah dapur pemikiran negara (state strategic thinking), yang membentuk  cara pandang elit memahami dinamika sistem modern, civil societym, geoekonomi dan geopolitik. Pendek kata intelektualisme Agus Widjojo lengkap dan komprehensif, yang belum tentu ada penggantinya”.

Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Filipina Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo meninggal dunia pada Minggu (8/2/2026) malam.

Eks Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) periode 2016-2022 itu mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto sekitar pukul 20.15 WIB. Agus rencananya akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

 

Profil Agus Widjojo

Agus Widjojo lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 8 Juni 1947. Ia merupakan anak dari salah satu Pahlawan Revolusi, Mayjen TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo, yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Agus merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) pada tahun 1970. Sepanjang kariernya, ia juga mengantongi sejumlah gelar akademik internasional, di antaranya Master of Military Art and Science dari US Army Command and General Staff College.

Selain itu, Agus menempuh studi bidang keamanan nasional (National Security) di US National Defense University serta bidang kebijakan publik dan administrasi publik (Public Policy) di George Washington University.

Agus juga pernah menduduki sejumlah posisi strategis, antara lain: Asisten Operasi (Asops) Kasdam III/Siliwangi, Kepala Staf Kodam Jaya, Wakil Asisten Perencanaan Umum (Waasrenum) ABRI, Asisten Perencanaan (Asrena) KSAD, hingga Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI (Dansesko ABRI).

Ia juga dipercaya mengemban jabatan sebagai Kepala Staf Panglima TNI, serta Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi TNI/Polri pada periode 2001–2003.

Agus pernah menjabat sebagai Deputi Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program dan Reformasi (UKP3R) serta Komisioner Komisi Kebenaran dan Persahabatan Indonesia–Timor Leste.

Agus mulai bertugas sebagai Dubes RI untuk Filipina sejak Januari 2022 hingga wafat. Penunjukan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4/P Tahun 2022 tentang Pengangkatan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo. *

--- F. Hardiman

Komentar