NASIONAL Catatan Prof Didik untuk Menteri Jumhur: Ujian Terbesar Seorang Aktivis Ada pada Konsistensinya 28 Apr 2026 10:07
Jumhur sudah pada usia matang dan senior diharapkan tetap tidak akan meninggalkan idealisme, tapi mengubah alat perjuangannya tidak akan lagi frontal.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Keputusan Presiden Prabowo mengangkat Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup menarik disimak karena aktornya adalah Jumhur Hidayat, sang aktivis sepanjang masa dan memiliki DNA pergerakan dalam sepanjang hidupnya.
Juga hadir dalam pelantikan itu sahabat dekatnya sang pendobrak gagasan dan debat publik Rocky Gerung, yang disapa ramah dan senda gurau oleh Presiden.
Bagaimana prediksi kebijakan yang akan diambil oleh Menteri LH yang baru ini? Apakah Jumhur akan tetap sebagai aktivis dengan penuh idealisme atau menjadi Jumhur sang birokrat karena tidak bisa menaklukkan tatanan yang sudah mendarah-daging sejak lama?
Pertanyaan di atas diajukan oleh Prof. Didik J Rachbini, Ph.D., yang merupakan Rektor Universitas Paramadina.
Dalam pandangan, Prof Didik - sebagai sahabat yang sudah saling kenal lebih tiga dekade - sejak tahun 1990-an setelah keluar dari penjara, Jumhur sudah bermetamorfose dalam dua fase.
”Pertama figur Jumhur Hidayat aktivisme konfrontatif (era mahasiswa). Jumhur kerap turun dalam aksi untuk pembelaan hak-hak petani dan menentang penggusuran tanah rakyat seperti dalam kasus tanah Badega, Kacapiring, Cimacan, dan Kedung Ombo tahun 1988. Inilah fase memberontak yang menyebabkannya masuk jeruji besi,” ujar Prof Didik dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Setelah itu, Jumhur masuk dalam aktivisme dan gerakan LSM bersama tokoh Adi Sasono. Prof Didik sempat mengajari Jumhur cara mengenakan dasi yang benar, ketika mengikuti latihan di Malaysia. Jumhur masih ingat sekali peristiwa tersebut sampai sekarang.
Dalam fase ini, kata Didik, sebagai anak ITB, Jumhur mengambil posisi pada isu struktural seperti penggusuran tanah, hak petani (Badega, Kedung Ombo) dan berani menghadapi risiko negara represif (penangkapan, penyiksaan, pemecatan).
”Ini merupakan proses aktivisme frontal yang tidak tunduk dalam tekanan interogasi dan ancaman penjaran. Saya melihat ini merupakan gerakan aktivisme berbasis moral-ekonomi, yakni keberpihakan pada rakyat kecil,” katanya.
Fase kedua adalah fase institusionalisasi gagasan (era kebijakan dan lembaga) yakni Jumhur telah bisa tampil sebagai pejabat. Untuk membaca arah kebijakannya sebagai Menteri Lingkungan Hidup fase ini perlu dilihat dengan membedah pola pikirnya dengan latar belakang yang kuat dari fase sebelumnya.
Jumhur sebelumnya sudah pernah menjabat sebagai Kepala Badan Penempatan dan Perlindungan TKI selama 7 tahun (2007-2014). Fase ini merupakan proses institusionalisasi dari perjalanan hidupnya.
Bahkan sebelumnya, Jumhur bergabung dengan Presiden Habibie melalui Adi Sasono, seniornya di ITB, yang sama-sama dropout kuliah karena denyut gerakan aktivisme yang kuat.
Ketika masuk ke ranah ICMI , Jumhur memimpin CIDES dan terlihat terlihat di sini ada pergeseran dari konfrontasi menjadi mediasi, dari aksi menjadi formulasi kebijakan (CIDES memasok kebijakan kepada Presiden Habibie). Kiprahnya masuk ke dalam kekuasaan, menurut Prof Didik, walaupun tidak di tengah, ada benang merahnya, yakni tetap pro-rakyat, mengembangkan ekonomi kerakyatan dan menjadi jembatan masyarakat–negara.
Sekali lagi Prof Didik melontarkan pertanyaan: apakah Jumhur Menteri LH yang baru akan tetap sebagai aktivis dengan penuh idealisme atau menjadi Jumhur sang birokrat?
”Jawaban saya dan mungkin juga harapan, Jumhur sudah pada usia matang dan senior tetap tidak akan meninggalkan idealisme, tapi mengubah alat perjuangannya tidak akan lagi frontal,” ucapnya.
Situasi di dalam kekuasaan pasti dipahami secara lain yakni dengan ada di kekuasan maka perubahan tetap harus berproses dalam perubahan yang sistematik. Tidak bisa lagi gaya protes seperti fase aktivisme tetapi mulai bermain di wilayah kebijakan (policy design) karena dia memegang kekuasaan dalam bidang Lingkungan Hidup).
”Catatan saya sebagai sahabat, tidak ada lagi ’romantisme aktivisme’ dengan idealisme di atas langit. Sekarang realitas politik lingkungan hidup dengan segala kerumitan dan permasalahannya sudah ada di hadapannya,” ujarnya.
Prof Didik mengatakan bahwa ujian terbesar bagi seorang aktivis adalah konsistensinya. ”Banyak aktivis gagal saat masuk kekuasaan lalu menjual idealismenya dan melakukan kompromi politik, yang dulu ditentangnya,” pungkasnya. *
--- F. Hardiman
Komentar