Breaking News

REGIONAL Kunker ke Sumba Timur, Gubernur Melki Dorong Sekolah Produktif dan Budaya Belajar 17 Jun 2026 09:06

Article image
Gubernur NTT, Melki Laka Lena meninjau produk NTT Mart by One School One Product (OSOP) di SMK Negeri 1 Waingapu, Sumba Timur. (Foto: Forpimd)
"NTT tidak boleh terus menjadi pasar bagi produk dari luar daerah. Sekolah harus menjadi tempat lahirnya produsen-produsen muda. Inilah semangat yang terus kami dorong dalam berbagai peluncuran NTT Mart di sejumlah daerah selama ini," kata Gubernur Melki

WAINGAPU, IndonesiaSatu.co-- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, melakukan kunjungan kerja ke Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Senin (15/6/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Melki juga meresmikan NTT Mart by One School One Product (OSOP) Di SMK Negeri 1 Waingapu.

Pada kesempatan itu, Gubernur Melki menekankan bahwa Indeks Pembangunan Manusia dan tolok ukur kualitas Sumber Daya Manusia tidak semata diukur dari gedung, kurikulum, dan angka kelulusan, tetapi bagaimana kemampuan siswa menghasilkan karya bernilai ekonomi dan kebiasaan belajar yang tumbuh di rumah.

Oleh karena itu, Gubernur menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT terus mendorong agar setiap elemen dan pemangku kepentingan dapat bersama-sama mengimplementasi Gerakan Jam Belajar Masyarakat melalui Pergub NTT Nomor 24 Tahun 2025.

Menurut Gubernur Melki, kedua program tersebut dirancang sebagai satu kesatuan kebijakan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia NTT dari sisi ekonomi maupun pendidikan.

"Di tengah tantangan rendahnya produktivitas ekonomi dan kualitas pendidikan di sejumlah wilayah NTT, pemerintah daerah mencoba membangun pendekatan yang berbeda. Sekolah tidak lagi diposisikan hanya sebagai tempat belajar teori, melainkan juga sebagai pusat produksi, inovasi, dan kewirausahaan. Sementara rumah didorong kembali menjadi ruang pendidikan pertama bagi anak," kata Gubernur Melki.

Gubernur Melki menerangkan bahwa melalui program OSOP, setiap sekolah didorong untuk memiliki produk unggulan yang dapat dipasarkan secara nyata. 

"NTT Mart terus didorong sebagai etalase sekaligus laboratorium bisnis tempat siswa belajar produksi, pengemasan, pemasaran, pelayanan pelanggan, hingga pengelolaan keuangan. Program ini merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk membangun ekonomi kerakyatan berbasis desa, komunitas, dan sekolah," terangnya.

Bagi Pemerintah Provinsi NTT, lanjut Gubernur, keberhasilan pendidikan tidak lagi hanya diukur dari jumlah lulusan yang mencari pekerjaan, tetapi juga dari banyaknya anak muda yang mampu menciptakan peluang ekonomi baru.

“NTT tidak boleh terus menjadi pasar bagi produk dari luar daerah. Sekolah harus menjadi tempat lahirnya produsen-produsen muda. Inilah semangat yang terus kami dorong dalam berbagai peluncuran NTT Mart di sejumlah daerah selama ini," kata Gubernur.

Gubernur Melki menilai, pendekatan tersebut sangat relevan bagi sekolah kejuruan seperti SMKN 1 Waingapu yang memiliki potensi besar menghasilkan produk olahan pangan, kerajinan, teknologi tepat guna, hingga produk kreatif berbasis potensi lokal Sumba.

"Dengan adanya akses pemasaran yang lebih terstruktur, siswa memperoleh pengalaman langsung tentang bagaimana sebuah produk dikembangkan hingga diterima pasar," ujarnya.

Namun demikian, Gubernur Melki mengingatkan bahwa keterampilan saja tidak cukup. Karena itu, bersamaan dengan penguatan kewirausahaan di sekolah, Pemprov NTT menjalankan Gerakan Jam Belajar Masyarakat yang menempatkan keluarga sebagai mitra utama pendidikan.

"Melalui gerakan ini, setiap hari pada rentang waktu belajar yang telah ditetapkan, anak-anak didorong untuk mengurangi penggunaan gawai, membaca buku, menyelesaikan tugas sekolah, memperkuat literasi, serta membangun interaksi yang lebih intens dengan orang tua. Kebijakan ini lahir dari keyakinan bahwa pendidikan tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi," imbuhnya.

Gubernur menyinggung data dan pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan pendidikan anak.

"Karena itu, Pergub Gerakan Jam Belajar dirancang bukan sebagai tambahan beban bagi orang tua, melainkan sebagai upaya membangun budaya belajar yang konsisten di lingkungan keluarga," ujarnya.

Dalam berbagai kesempatan, Gubernur Melki menegaskan bahwa NTT membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan.

Sementara Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk mendukung implementasi berbagai program strategis Pemprov tersebut. 

"Dukungan pemerintah kabupaten sangat perlu dan penting karena keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh sekolah atau pemerintah provinsi, melainkan juga oleh keterlibatan masyarakat di tingkat desa dan keluarga," kata Bupati Umbu Lili.

Bupati Umbu menambahkan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak cukup dilakukan dengan membangun sekolah yang lebih baik.

Menurutnya, anak-anak membutuhkan rumah yang menghadirkan waktu belajar, ruang dialog, dan keteladanan.

"Pada akhirnya, sekolah yang menghasilkan produk unggulan dan keluarga yang menjaga budaya belajar merupakan dua fondasi yang saling melengkapi. Kita berharap akan lahir generasi NTT yang tidak hanya siap mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan pekerjaan dan membangun masa depan daerahnya sendiri," tandas Bupati Umbu.

--- Guche Montero

Komentar