Breaking News

OPINI NTT Bukan Bumper Politik Jokowi 31 Jul 2026 16:10

Article image
Gabriel Felipe Didinong. (Foto: Ist)
Oleh Gabriel Felipe Didinong
 
Beberapa tahun lalu, ketika Gemufamire  atau Tabola Bale berkumandang di Istana Negara dan Jokowi berbusana adat ala  NTT, dada orang NTT saat itu serasa membuncah ingin pecah, penuh dengan spirit patriotisme. Diakui. Kita juga ada, terhitung di negeri  Palapa ini walau kita cuma segelintir di republik ini. Ada kebanggaan,  biarpun,  bumi NTT itu tetap termiskin, tertinggal,  dan terkorup! 
 
Jokowi seperti sudah tahu betul mental dan karakter orang NTT. Masyarakat NTT itu tuan rumah yang ramah, setia dan militan. Lalu, ia seperti mulai memainkan ilmu huruf Jawa dipangku mati kepada masyarakat NTT.  Ia sendiri larut dan nikmat dalam euforia penyambutan massa. Penting tak penting, ia rajin saja datang menyambangi wilayah yang tak punya tambang tak ada industri besar itu.  Ia juga pernah bagikan sekedar kue PSN yang bikin orang NTT kala itu termehek mehek, makin cinta padanya. 
 
Namun  kenyataannya NTT  itu tetap bergeming. Kesejahteraan tak kunjung tiba. Tetap miskin, tertinggal dan terkorup. Kualitas pendidikan merosot. Human trafficking dan pergi melarat tetap terjadi. Pelayanan kesehatan mahal dan sering morat marit ketiadaan tenaga ahli. Bukan rahasia lagi bahwa NTT itu menjadi daerah buangan bagi  APH bermasalah di tempat lain. Lalu mereka ini menimbulkan masalah baru lagi di NTT. Konon nilai tawar NTT itu juga  lemah dalam  politik anggaran di tingkat pusat jadi sering diabaikan saja. Sebuah contoh lain yang bikin miris saja, bahkan jatah taruna akpol dan akmil untuk anak anak  NTT pun bisa direbut oleh pihak lain. Sementara itu, di berbagai kota besar, terutama di Jawa, para pemuda NTT seperti  orang bagian timur Indonesia lainnya, sering mengalami berbagai tindakan rasis dan diskriminatif. Terlalu panjang untuk menyusun litani penderitaan orang NTT itu.
 
Jadi sesungguhnya,  sensasi apa yang diperoleh  Jokowi dengan melakukan safari politik ke NTT  akhir Juli 2026 ini?
 
Tidak Ada Makan Siang Gratis
 
Pernah Gibran, putera sulung Jokowi datang ke Kupang, ketika umat kristiani di sana sedang merayakan Paskah.  Saat itu, Gibran tidak  membawa bantuan infrastukrtur dan lain lain atau hendak meresmikan suatu proyek pembangunan tertentu. Berita yang viral adalah Gibran ikut dalam prosesi Paskah.  Ia bahkan sempat ikut panggul salib paskah. Luar biasa. Entah bagaimana penjelasan matematika politiknya ketika PSI yang dipimpin Kaesang sang adik itu konon mulai bergeser ke kanan.
 
Maka benang merah bagi safari politik  Jokowi ke NTT adalah sintesa dari paranoia romantisme dengan mental karakter melodramatik yang berujung pada efek elektoral.
Jokowi patut diduga mungkin saja berharap  bahwa euforia masyarakat di NTT itu nanti akan berefek pada  konstelasi politik. Lu lihat ni...rakyat masih mengelu-elukan gua ni...
 
OK.  Bapa datang saja. Sebagian masyarakat di Kupang mungkin masih suka melihatmu. Apalagi kalau berbayar, tentu akan lebih ramai lagi.
 
Namun, masyarakat NTT itu  perlu juga melakukan refleksi kritis atas rencana kunjungan safari politik Jokowi itu. Sepertinya masyarakat dan wilayah NTT ini memang penting sehingga Jokowi, mantan presiden itu merasa perlu datang mula mula. Dengan demikian, kedatangan Jokowi ke NTT itu jangan hanya menjadi sekedar momentum euforia, ramai ramai  dan heboh saja atau bermaksud memperluas kandang termul di NTT.
 
Ada kepentingan yang  lebih substansial. Sejumlah tantangan  bisa saja dihadapkan kepada Jokowi. Misalnya, bagaimana gagasan Jokowi yang konon dekat pihak parcok dan beberapa menteri di kabinet itu  untuk mengatasi masalah korupsi, dan lain lain terkait litani penderitaan masyarakat  NTT  tersebut di atas itu. 
 
Mudah2an Jokowi nanti tidak menjawab...Loh koq tanya saya?
 
 
Penulis adalah Diaspora NTT di Jakarta
 
 
 

 

Komentar