Breaking News

OPINI Safari Politik Jokowi ke NTT 24 Jul 2026 12:09

Article image
Asumsi spekulatif ini bisa muncul setelah giat safari politik Jokowi sebelumnya di Lampung yang simbolik menjelaskan tentang syahwat politik Jokowi.

Oleh Gabriel Felipe Didinong*

 

Jokowi sekarang bukan lagi presiden, bukan penguasa. Alih alih lengser keprabon, seperti kebiasaannya, Jokowi sebaliknya mengingkari kata katanya sendiri. Ia tegas katakan mau melakukan safari politik alias blusukan keliling Indonesia untuk membesarkan PSI. Habis ke Lampung, belakangan akan ke Kupang, NTT penghujung Juli 2026. Jadi safari politik Jokowi itu semata giat politik praktis mengejar mimpi membangun basis politik dinasti. Dengan demikian partai PSI dapat menjadi partai besar yang mampu menembus parlementary treshold menuju Senayan dan seterusnya.

Cawe cawe safari politik Jokowi untuk membesarkan PSI, partai politik yang dipimpin oleh Kaesang putera Jokowi itu jelas membutuhkam dukungan finansial yang kuat. Entah dari mana dan ada di mana tersimpan biaya politik tersebut. Perilaku kekuasaan Jokowi dahulu yang ditengarahi erat dengan oligarki sangat mungkin menjadi sumber akses logistik. Dalam pertarungan perebutan politik dan kekuasaan, semua upaya tersebut itu lumrah saja. Apalagi, 10 tahun Jokowi berkuasa, tentu masih meninggalkan kaki tangan, relawan pendukung, buzzer yang loyal, penjilat ceperan, termasuk jejaring jastip di berbagai lini kekuasaan. Agaknya giat road show politik ini akan menjadi prioritas Jokowi di tengah indikasi pecah kongsi dengan Prabowo yang semakin menghangat.

Kenapa NTT?

Orang NTT antara lain dikenal memiliki karakteristik loyal dan militan. Wilayah yang hingga kini masih termasuk dalam jajaran provinsi paling miskin, tertinggal dan terkorup ini juga dihuni oleh masyarakat yang memiliki tingkat hospitality yang tinggi kepada tamu. Apalagi kepada pejabat setingkat presiden seperti Jokowi. Karakter lain atau sebentuk mentalitas melodramatik masyarakat NTT adalah fenomena psikologis berupa kecenderungan berpihak dan bersimpati kepada pihak yang lemah atau korban. Suatu upaya pembentukan opini ataupun pencitraan di atas berbagai faktor karakter dan mentalitas tersebut di atas mudah menghasilkan manfaat elektoral dan political advantages lainnya.

Jokowi semasa menjabat presiden RI sering mengunjungi NTT. Ia datang, dan memberi cukup perhatian. Ada beberapa bendungan sebagai bagian dari PSN dibangun di masa itu di NTT. Akselerasi destinasi wisata premium Labuan Bajo Flores terwujud dengan dukungan kebijakan Jokowi. Jokowi juga hadir di saat wilayah NTT diluluhlantakan oleh bencana alam badai Seroja. Tak ayal Jokowi pernah menjadi sosok yang sangat populer di mata kebanyakan masyarakat NTT. Wacana 3 periode Jokowi itu pertama kali digaungkan di NTT. Jokowi sebagai presiden selalu diterima dengan euforia di NTT. Kecintaan masyarakat terhadap sosok Jokowi itu mungkin saja masih tersisa walaupun sekitar masa akhir jabatan bahkan hingga kini mantan walikota Solo itu terus menerus diterpa oleh berbagai isu dan berita kontroversial. Jokowi nampaknya menikmati semua hal itu.

Namun sesungguhnya, jelang safari Jokowi politik ke NTT akhir Juli 2026 ini, belum dapat diprediksi apakah sambutan masyarakat NTT bagi Jokowi akan masif dan sarat euforia seperti dulu ketika ia masih menjabat sebagai presiden. Situasi dan kondisi sudah berbeda. Betul bahwa saat ini di NTT, yaitu kota Kupang dan Maumere dipimpin oleh kader PSI. Tetapi apakah itu akan mampu menggerakkan antusiasme berbagai lapisan masyarakat berjejal menyambut kunjungan Jokowi?  

Maka asumsi yang bisa muncul terkait rencana safari politik Jokowi ke NTT tersebut pertama tama adalah dalam rangka konsolidasi PSI dari sisa sisa popularitas Jokowi. Selanjutnya, asumsi spekulatif juga bisa muncul, berbasis karakter dan kecenderungan psikologis masyarakat NTT. Pihak Jokowi diduga berkepentingan agar kunjungan ke NTT itu dapat berefek pada peningkatan konstelasi dukungan bagi Jokowi (baca : Gibran dan PSI). Asumsi spekulatif ini bisa muncul setelah giat safari politik Jokowi sebelumnya di Lampung yang simbolik menjelaskan tentang syahwat politik Jokowi. Menginjak kepala kerbau itu mudah saja diinterpretasikan sebagai bunyi gong perang yang ditabuh oleh Jokowi sendiri menundukkan dominasi PDIP dan seterusnya.

Spanduk

Tahun 2021, di masa pandemi Covids 19 berkecamuk, Jokowi datang ke Maumere dan menimbulkan kerumunan massa. Peristiwa tersebut dikecam keras oleh BKH, wakil rakyat Flores, NTT di Senayan. Namun akibatnya BKH justru dibully sehabis habisnya oleh berbagai komponen dan elemen masyarakat NTT. Dalam suatu kunjungan lain Jokowi ke Ende Flores, sekelompok mahasiswa di Ende berinisiatif melakukan demonstrasi menghadang Jokowi terkait beberapa isu lokal dan nasional. Alih alih bisa menyampaikan aspirasi kepada Jokowi, para demostran itu justru dihalau oleh masyarakat sendiri. Belum lama ini AHP, seorang wakil rakyat Flores lain di Senayan menyindir rencana safari politik Jokowi ke NTT, dikaitkan dengan isu ijasah palsu. Serta merta, AHP mendapatkan hujatan. Lucu saja, bahwa hari ini serangan balik kepada AHP itu bukan datang dari masyarakat NTT sendiri, melainkan dari para buzzer, termul dan penjilat recehan. Mereka seperti berusaha meyakinkan Jokowi bahwa safari politik ke NTT itu akan efektif dan meriah seperti dulu.

Di masa lalu, kedatangan Jokowi ke NTT pernah dipending beberapa kali karena beberapa alasan dan pertimbangan skala prioritas. Saat ini dalam situasi dan kondisi yang berbeda, ketika belakang layar politik nasional sedang tidak baik baik saja, ketika kongsi politik Prabowo Jokowi terindikasi fragil, dan lain lain, maka rencana safari politik Jokowi ke NTT itu sebaiknya dipertimbangkan kembali oleh Jokowi agar tidak menjadi batu sandungan yang mubazir bagi dirinya sendiri dan keluarga. Satu spanduk kecil di sudut kota Kupang yang mempertanyakan mana ijasah Jokowi, akan langsung men downgrade kualitas relasi Jokowi dengan masyarakat NTT yang selama ini diglorifikasi.

 

* Penulis adalah relawan Jokowi.

Diaspora NTT di Jakarta.

--- Guche Montero

Komentar