PERTAHANAN Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana (Kilas Balik Korps Pasukan Khas AU) 17 Oct 2016 15:11
Moto Korpaskhas “Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana” yang berarti “Kerjakanlah Tugasmu Dengan Rasa Tanggung Jawab tanpa menghitung-hitung Untung Rugi, Tanpa Tanya-tanya Apa Nanti Akibatnya”.
Oleh Simon Leya
DENTUMAN mesin pesawat memecah keheningan langit Maguwo, Yogyakarta dini hari pukul 02.30, 17 Oktober 1947. Pesawat Dakota RI-002 yang diawaki Kapten pilot Bob Freeberg dan kopilot Opsir Udara III Makmur Suhodo dan operator penerjun Opsir Muda Udara III Amir Hamzah Makmur Suhodo serta pemandu jalan Mayor Tjilik Riwoet lepas landas menyeberangi lautan dan menelusuri belantara Kalimantan menuju Kotawaringin, Kalimantan Tengah sebagai daerah sasaran penerjunan.
Tepat pukul 05.30 WIB, pesawat yang membawa 13 pejuang prajurit AURI berada di atas sasaran. Tjilik Riwoet sempat ragu, tetapi setelah yakin bahwa mereka sudah ada di atas daerah Sepanbiha, maka para pemuda itu pun mulai melakukan penerjunan. Djarni batal meloncat karena takut. Adapun ke–13 anggota pasukan payung yang berhasil mendarat dengan selamat adalah Hari Hadisumantri, Achmad Kosasih, (Mangkahulu), Iskandar, Ali Akbar (Balikpapan), Mica Amiruddin, Emmanuel (Kahayanhulu), C. Williams (Kuala Kapuas), Morawi (Rantau Pulut), Bachri (Barabai), Darius (Kadingan), M. Dachlan (Sampit), J. Bitak (Kepala Baru), dan Suyoto.
Beberapa orang tersangkut pohon-pohon tinggi rimba raya. Hebatnya, mereka semua bisa mendarat tanpa cacat. Baru pada hari ketiga mereka berkumpul. Ternyata mereka tidak mendarat di Sepanbiha, tetapi dekat Kampung Sambi, di antara Sungai Seruyan di barat laut Rantau Pulut, Kotawaringin. Tidak semua parasut dapat ditemukan kembali, demikian juga persediaan amunisi, bahan makanan, alat perkemahan dan veldbed.
Malang tak bisa ditolak. Pada hari ke-35, tepatnya pada 23 Nopember 1947, akibat pengkhianatan oleh Albert Rosing, Lurah Kampung Mayang, yang menginformasikan keberadaan mereka, para pejuang dihujani peluru oleh sepasukan tentara Belanda yang menyerang dari tiga jurusan ketika sedang tidur nyenyak, di sebuah ladang tepi Sungai Koleh (anak Sungai Seruyan). Letnan Udara II Iskandar, Sersan Mayor Udara Achmad Kosasih, dan Kapten Udara Anumerta Hari Hadisumantri gugur seketika. Suyoto tertawan. Sedangkan Dachlan yang mengalami luka berat di leher, bersama Bachri, Ali Akbar, Mica Amiruddin dan yang lain sempat meloloskan diri. Dengan tabah, sisa rombongan melanjutkan bergerilya, tetapi pengepungan pasukan NICA begitu ketatnya, sehingga akhirnya dua bulan kemudian mereka semua tertangkap.
Operasi penerjunan pasukan payung ini sebagaimana dikutip dari tni-au.mil.id merupakan Operasi Lintas Udara (Linud) pertama bagi Tentara Nasional Indonesia. Meskipun tugas operasi Kalimantan itu gagal, tetapi kisah paratroop tersebut merupakan suatu peristiwa gemilang. Ini membuktikan bahwa para pejuang kemerdekaan dalam keadaan serba darurat dapat membina kekuatan yang tidak boleh dianggap remeh. Peristiwa inilah yang kemudian diperingati sebagai hari Pasukan Khas Angkatan Udara.
Tugas yang dibebankan kepada 13 peterjun tersebut adalah membentuk dan menyusun gerilyawan, membantu perjuangan rakyat Kalimantan, membuat stasiun radio untuk perhubungan Yogyakarta – Kalimantan serta mengusahakan dan menyempurnakan daerah penerjunan untuk dijadikan daerah penerjunan selanjutnya.
Peristiwa penerjunan yang dilakukan oleh 13 prajurit AURI di Kalimantan tersebut sebagaimana dilansir paskhas.mil.id merupakan peristiwa yang menandai lahirnya satuan tempur Pasukan Khas TNI Angkatan Udara yang dikukuhkan 20 tahun kemudian berdasarkan keputusan Men/Pangau nomor 54 tahun 1967, tanggal 12 Oktober 1967 yang menetapkan tanggal 17 Oktober 1947 sebagai hari jadi Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) .
Dalam perjalanan sejarahnya dan dengan dinamika penyempurnaan organisasi serta pemanatapan satuan-satuan TNI maka berdasarkan keputusan Kasau nomor kep/22/iii/1985, tanggal 11 Maret 1985, Kopasgat berubah nama menjadi Pusat Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Puspaskhas).
Melihat perkembangan tugas, peran, fungsi dan eksistensi satuan-satuan Paskhas dalam operasi gabungan TNI maupun sistem operasi udara diyakini semakin nyata dan sangat relevan, serta seiring dengan penyempurnaan organisasi TNI dan TNI AU maka status Puspaskhas ditingkatkan dari Badan Pelaksana Pusat menjadi Komando Utama Pembinaan sehingga sebutan Puspaskhas berubah menjadi Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) sesuai Kep Pangab nomor kep/09/VII/1997 pada 7 Juli 1997.
Pasukan Khas TNI Angkatan Udara merupakan satuan tempur yang memiliki kemampuan tiga matra, yaitu darat, laut dan udara. Dalam operasinya, tugas dan tanggung jawab Paskhas lebih ditujukan untuk merebut dan mempertahankan pangkalan udara dari serangan musuh, menyiapkan dan mengamankan lokasi bagi pendaratan pesawat kawan, serta operasi pembentukan dan pengoperasian pangkalan udara depan atau OP3UD, membantu demi lancarnya pelaksanaan operasi udara seperti operasi udara strategis, operasi lawan udara ofensif, operasi dukungan udara, operasi pertahanan udara serta operasi informasi.
Untuk itu setiap prajurit Paskhas diharuskan minimal memiliki kualifikasi para komando untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional. Ditambah dengan kualifikasi khusus kematraudaraan sesuai dengan spesialisasinya, antara lain memiliki kemampuan dan keterampilan sebagai pengaturan lalu-lintas udara atau air traffic controller, menguasai bidang meteorologi, dan penguasaan radio telekomunikasi.
Sejak kelahirannya hingga sekarang Korpaskhas konsisten dengan motonya, moto yang diberikan oleh Presiden Soekarno sendiri, “Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana” yang berarti “Kerjakanlah Tugasmu Dengan Rasa Tanggung Jawab tanpa menghitung-hitung Untung Rugi, Tanpa Tanya-tanya Apa Nanti Akibatnya”
Korpaskhas telah mendarmabaktikan dirinya di berbagai medan operasi militer baik di dalam maupun luar negeri serta tugas-tugas lain di bidang kegiatan sosial kemasyarakatan dalam upaya menyejahterakan dan mengatasi kesulitan yang dialami bangsa Indonesia guna mensukseskan cita-cita nasional yaitu masyarakat adil dan makmur.
Motto tersebut senantiasa selalu melekat dalam jiwa prajurit Korpaskhas dalam pelaksanaan tugas di manapun dan kapanpun mereka berada, berkorban demi kejayaan dan kesatuan negara dan bangsa tercinta, Republik Indonesia.
Dirgahayu ke-69 Korpaskhas TNI AU..
Komentar