TEKNOLOGI Lanskap Digital Nasional Alami Perubahan Signifikan, Menkomdigi: Sinyal 4G Lqmpaui 90%, 5G Bertahap 05 Nov 2025 22:35
"Kesenjangan digital harus ditutup bukan hanya dengan jaringan, tetapi juga dengan pengetahuan dan kesempatan," ujarya.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa lanskap digital nasional mengalami perubahan signifikan, termasuk perkembangan 4G dan 5G.
Menteri Meutya menyebutkan, ketersediaan jaringan 4G kini telah melampaui 90% di seluruh pulau besar Indonesia.
Pulau Jawa mencatat tingkat tertinggi yakni sebesar 96,4%, diikuti Bali dan Nusa Tenggara 95,2%, sementara wilayah-wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau seperti Sulawesi dan Maluku, kini juga menembus angka 90%.
"Kinerja jaringan seluler di Indonesia meningkat signifikan. Ini adalah capaian penting bagi pemerataan akses digital di seluruh wilayah nusantara," ujar Meutya dikutip dari website Komdigi, Rabu (5/11/2025).
Komdigi kemudian mengacu pada Data Speedtest Intelligence yang menunjukkan bahwa median kecepatan unduh nasional melonjak dari 17,54 Mbps pada 2022, menjadi 30,5 Mbps pada pertengahan 2025 atau meningkat hampir dua kali lipat.
Kemudian dari sisi peningkatan pada kelompok pengguna dengan koneksi terendah, dari hanya 2,66 Mbps menjadi 5,69 Mbps. Komdigi mengklaim ini bukan hanya kota besar yang merasakan dampak digitalisasi, tetapi juga komunitas pedesaan dan wilayah terpencil.
"Peningkatan di segmen terbawah ini sangat penting. Ia menunjukkan bahwa digitalisasi tidak lagi elitis, tetapi benar-benar menjangkau rakyat di lapisan bawah," kata Meutya.
Wilayah yang sebelumnya tertinggal seperti Maluku Utara, kini mengalami peningkatan kecepatan dari 13,39 Mbps menjadi 20,49 Mbps.
Sementara di Papua, lonjakannya bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat.
Komdigi menjelaskan, peningkatan kualitas internet ini merupakan hasil kombinasi investasi infrastruktur, kemitraan publik-swasta, dan kebijakan pro-pemerataan.
Program Kewajiban Pelayanan Universal (KPU) yang dikelola oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) dinilai memainkan peran penting.
Melalui dana kontribusi operator, pemerintah berhasil menyelesaikan 6.672 menara Base Transceiver Station (BTS) di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dan menghadirkan konektivitas 4G ke sekolah, puskesmas, dan kantor desa.
"Ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi tentang keadilan digital. Kita ingin setiap anak Indonesia, dari Aceh sampai Merauke, memiliki peluang yang sama untuk belajar dan tumbuh," kata Menteri Meutya.
Sementara itu, sejak pertama kali dihadirkan pada pertengahan 2021, kini teknologi 5G berkembang bertahap dan strategis.
Wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencatat ketersediaan tertinggi di angka 17%, berkat fokus penggelaran di kawasan pariwisata dan bisnis.
Meskipun pertumbuhan 5G masih terbatas, Komdigi menyebutkan bahwa pendekatan ini dianggap realistis dengan memastikan kesiapan spektrum, efisiensi biaya, dan keberlanjutan infrastruktur sebelum memperluas cakupan nasional.
"Cita-cita kami jelas. Tidak ada satu pun warga Indonesia yang tertinggal dalam arus digitalisasi. Kesenjangan digital harus ditutup bukan hanya dengan jaringan, tetapi juga dengan pengetahuan dan kesempatan," simpulya.
--- Guche Montero
Komentar