INTERNASIONAL Respon Revolusi AI dan Seruan Pedamaian Global, Paus Leo XIV Siapkan Ensiklik Pertama Vatikan 17 May 2026 22:59
"Apa yang terjadi di Ukraina, Gaza, wilayah Palestina, Lebanon, dan Iran, mengilustrasikan evolusi tidak manusiawi dari hubungan antara perang dan teknologi baru dalam pusaran pemusnahan,” ujar Paus Leo.
VATIKAN, IndonesiaSatu.co-- Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) dan dampaknya terhadap kehidupan manusia, hubungan sosial, hingga perdamaian global, terus menjadi pusat perhatian dunia.
Merespon situasi global dengan kecanggihan teknologi yang terus menggerus peran kemanusiaan, Tahta Suci Vatikan tengah bersiap merilis Ensiklik pertama dari Paus Leo XIV.
Dokumen resmi Gereja Katolik tersebut ditandatangani Paus Leo XIV pada Sabtu (16/5/2026), tepat 135 tahun setelah Paus Leo XIII menerbitkan Ensiklik legendaris "Rerum Novarum" yang membahas hak-hak buruh dan kritik terhadap kapitalisme pada era Revolusi Industri.
Jika Ensiklik Rerum Novarum menjadi tonggak pemikiran sosial Gereja pada abad ke-19, ensiklik terbaru ini dipandang sebagai respon Vatikan terhadap Revolusi AI yang dinilai menghadirkan tantangan moral dan sosial baru bagi umat manusia.
Dalam dokumen tersebut, Vatikan menegaskan bahwa pengembangan AI harus berlandaskan etika dengan menempatkan martabat manusia sebagai prioritas utama. Teknologi dinilai tidak boleh menggantikan peran kemanusiaan ataupun mengorbankan nilai sosial demi kepentingan ekonomi dan militer.
Profesor filsafat moral dan Etika dari Universitas Notre Dame, Meghan Sullivan, menilai Gereja Katolik akan mengambil posisi penting dalam perdebatan global terkait tata kelola AI.
“Gereja Katolik akan bertindak sebagai pihak yang dewasa di dalam ruangan debat mengenai cara kita mengintegrasikan AI ke masyarakat. Paus dipastikan akan menjadi salah satu pembela martabat manusia paling vokal dalam diskusi ini,” kata Sullivan seperti dikutip Associated Press.
Perilisan ensiklik ini diperkirakan memunculkan perbedaan sikap yang semakin tajam antara Vatikan dan pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat.
Pemerintahan Trump diketahui menjadikan pengembangan AI sebagai bagian dari strategi ekonomi dan keamanan nasional, dengan mempercepat implementasi teknologi tersebut serta memangkas sejumlah hambatan regulasi.
Momentum perilisan Ensiklik juga bertepatan dengan kunjungan bisnis Trump ke China yang melibatkan sejumlah tokoh teknologi global, termasuk Elon Musk dan Jensen Huang.
Sejak kemunculan ChatGPT, Vatikan aktif menyerukan agar AI digunakan sebagai alat pendukung manusia, bukan pengganti kecerdasan manusia itu sendiri.
Vatikan juga menyoroti dampak lingkungan dari pusat data AI yang mengonsumsi energi dan air dalam jumlah besar.
Paus Leo XIV, yang dikenal memiliki latar belakang pendidikan matematika dan pemahaman teknologi, secara khusus menaruh perhatian terhadap ancaman deepfake serta manipulasi informasi yang dihasilkan AI generatif.
Di lingkungan internal gereja, Paus Leo bahkan melarang para pastor menggunakan AI untuk menyusun khotbah sebagai upaya menjaga otentisitas pesan spiritual.
Konflik Modern Berbasis AI
Selain persoalan sosial-ekonomi, isu perang berbasis teknologi juga menjadi perhatian utama dalam Ensiklik tersebut. Paus Leo XIV menyoroti penggunaan sistem senjata otomatis berbasis AI dalam konflik modern di Ukraina, Gaza, Lebanon, hingga Iran.
“Apa yang terjadi di Ukraina, Gaza, wilayah Palestina, Lebanon, dan Iran, mengilustrasikan evolusi tidak manusiawi dari hubungan antara perang dan teknologi baru dalam pusaran pemusnahan,” ujar Paus Leo XIV dalam pidatonya di Universitas La Sapienza.
Sikap Vatikan terhadap AI sebenarnya telah dibangun sejak era kepemimpinan Paus Fransiskus.
Pada 2020 lalu, Vatikan menggagas Rome Call for AI Ethics yang melibatkan perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, IBM, dan Cisco untuk menerapkan prinsip transparansi, akuntabilitas, inklusivitas, dan perlindungan privasi dalam pengembangan AI.
Selanjutnya pada 2024, Paus Fransiskus juga menjadi Paus pertama yang menghadiri forum KTT G7 Italia 2024 guna mendesak para pemimpin dunia melarang penggunaan senjata otonom mematikan atau killer robots.
Kini, melalui Ensiklik pertama Paus Leo XIV, Vatikan ingin memperkuat posisi moralnya dalam perdebatan global mengenai regulasi AI internasional.
Dengan jumlah umat Katolik mencapai sekitar 1,5 miliar jiwa di seluruh dunia, dokumen tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu referensi etika paling berpengaruh dalam pembentukan tata kelola AI global di masa depan.
--- Guche Montero
Komentar