Breaking News

INTERNASIONAL PBB Dukung Seruan Paus Leo XIV Terkait Risiko Besar AI 29 May 2026 09:22

Article image
Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk urusan Hak Asasi Manusia (HAM), Volker Turk. (Foto: Getty Images)
Turk memuji ensiklik Magnifica Humanitas Paus Leo XIV sebagai seruan moral yang krusial untuk menjaga martabat dan keadilan di era kecerdasan buatan.

JENEWA, IndonesiaSatu.co -- Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk urusan Hak Asasi Manusia (HAM), Volker Turk, menyambut seruan Paus Leo XIV dalam dokumen berjudul Magnifica Humanitas yang memperingatkan risiko besar di balik pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Disitir dari DPA, Jumat (29/5/2026), Turk memuji langkah Paus dengan menyebut pernytdo tersebut sebagai imbauan yang krusial untuk menjaga martabat dan keadilan di era kecerdasan buatan.

“Panduan moral kita harus tetap pada kemanusiaan kita bersama. Teknologi harus melayani manusia, bukan menggantikan atau mengendalikan mereka," ungkap Turk seperti dikutip dari DPA.

Dukungan kepada pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu mengalir di tengah masifnya perlombaan teknologi global yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui surat ensiklik bertajuk Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Agung) yang terbit pada Senin (25/5/2026), Paus pertama asal Amerika Serikat (AS) itu menjabarkan sejumlah batasan penting guna meredam dampak negatif teknologi terhadap peradaban modern.

Paus Leo XIV secara khusus memberikan peringatan keras terhadap "perlombaan algoritma yang semakin kuat dan kumpulan data yang lebih besar, yang didorong oleh keinginan untuk mengamankan dominasi geopolitik atau komersial."

Ia juga menegaskan bahwa AI harus segera dibebaskan dari logika yang mengubahnya menjadi instrumen dominasi, pengucilan, dan kematian.

Paus Leo XIV menyerukan gerakan untuk melucuti AI dari fungsi militer, yang berarti membebaskan teknologi ini dari mentalitas persn bersenjata.

Peluncuran ensiklik tersebut dihadiri pula oleh para pakar teknologi, termasuk Christopher Olah yang merupakan salah satu pendiri raksasa AI asal AS, Anthropic.

Keterlibatan Olah menarik perhatian publik mengingat perusahaannya saat ini sedang menghadapi konfrontasi hukum dengan militer AS akibat menolak pengembangan teknologi untuk sistem perang otonom yang mematikan dan pengawasan massal.

Di hadapan otoritas Vatikan, Olah mengakui dilema moral industri dengan menyebut bahwa perusahaan AI sering kali beroperasi dalam serangkaian insentif dan kendala yang terkadang bertentangan dengan tindakan yang benar.

Merespons keterbukaan tersebut, Paus menyatakan menerima ajakan Olah untuk berjalan bersama, mendengarkan, berbicara, serta berkolaborasi dalam menemukan solusi terbaik bagi masa depan umat manusia.

--- Aprilio G.