Breaking News

SASTRA ENAM JUNI (Puisi) 06 Jun 2026 08:34

Article image
Presiden RI pertama, Ir. Soekarno saat berpidato. (Foto: Ist)

Karya: Valens Daki-Soo

 

Pada pagi enam Juni,

Sebuah solilokui:

 

"Mereka beri label Juni sebagai bulanku

Padahal jiwaku abadi segala waktu dan musim untuk bangsaku.

 

Mereka sebut diri pengagumku

Tapi hidup mereka jauh dari spiritku.

 

Mereka lantang bilang 'Kami nasionalis Soekarnois!'

Tapi hidup mereka jauh dari rakyat di balik kabut egosentris-materialis-hedonis.

 

Mereka berpidato menyinggung-nyungging namaku

Tapi kaki mereka tak berpijak di bumi rakyatku.

 

Mereka gemar memekik 'Merdeka!'

Tapi entahlah mereka paham merdeka itu terutama di jiwa, bukan sekadar kata.

 

Mereka bilang aku Bapak Bangsa

Tapi aku tak bangga karenanya.

Aku bangga jika mereka jaga martabat bangsa dan tak gadaikan sejengkal pun tanah Nusantara.

 

Aku cinta kalian, wahai rakyat Indonesia!"

 

Ah, itu cuma mimpiku tentang Bung Karno,

Pejuang pemimpin yang tak pernah mengaso,

Berakhir derita dalam tikaman sepi di Wisma Yaso,

Wafatnya menyebar duka merobek hati seantero.

 

Negeri ini gagah bagai rajawali dan elok seperti merpati,

Tapi sayapnya terkulai di tengah badai.

Bangkitlah, hei anak-anak negeri,

Kita mesti berdiri tegak dan melangkah pasti.

Kita anak-cucu pejuang pemberani dengan semangat seperti matahari. 

 

Janganlah galau merendam jiwa

Meski negeri masih berkubang derita.

Kata-kata Bung Karno bagai menjitak sukma,

"Jangan jadi bangsa pengeluh, karena itu pertanda kelemahan jiwa!"

 

Bung, aku teriak ini supaya jiwaku sadar dan mereka pun terbangun dari tidur panjang bahwa kita belum sepenuhnya merdeka.

 

Merdekaaaa!!!

 

Kayuputih, 6 Juni 2015

(Pada HUT Kelahiran Bung Karno)

Komentar