Breaking News

KESEHATAN Apa Itu Demam Kelinci? Kasus Penyakit Langka Akibat Gigitan Kutu Dilaporkan di Long Island 04 Aug 2026 21:07

Article image
Tiga kasus tularemia atau 'demam kelinci' yang langka dan ditularkan oleh kutu dilaporkan di Long Island, memicu peringatan dari pejabat kesehatan setempat

JAKARTA IndonesiaSatu.co – Pejabat kesehatan memberikan peringatan kepada warga mengenai penyakit langka yang ditularkan oleh kutu setelah tiga kasus terkonfirmasi dilaporkan di wilayah Long Island, New York.

Tiga warga di Kabupaten Suffolk dikonfirmasi terserang tularemia, yang juga dikenal secara luas sebagai demam kelinci (rabbit fever). Penyakit ini dapat menyebabkan demam tinggi serta kelelahan ekstrem. Para dokter menyatakan bahwa gejala tularemia bisa jauh lebih parah dibandingkan penyakit menular akibat gigitan kutu lainnya yang lebih umum, seperti penyakit Lyme (Lyme disease).

Salah satu pasien, John Detmer yang berusia 9 tahun, terdiagnosis terkena penyakit ini pada awal tahun 2026 setelah gigitan kutu di kepalanya memicu gejala parah yang berlangsung selama berminggu-minggu.

"Rasanya sangat sakit, leher saya rasanya nyeri, begitu pula kaki saya kadang-kadang," ungkap John. "Rasanya sakit sekali saat disentuh."

Ibu dari John, Tracey Detmer, menyampaikan bahwa keluarganya pada awalnya tidak menghubungkan luka di kulit kepala anaknya dengan penyakit tersebut. Ia menyebut kondisi ini sangat jarang ditemui. Dokter spesialis penyakit menular yang menangani anaknya bahkan mengaku baru sekali melihat kasus tularemia sepanjang kariernya.

Pejabat Kabupaten Suffolk menjelaskan bahwa tularemia menyebar melalui kutu yang menggigit kelinci sakit, yang kemudian menularkan bakteri tersebut ke manusia.

Dr. Sharon Nachman dari Rumah Sakit Anak Stony Brook menyebutkan bahwa gejalanya bisa sangat intens dan sering kali memaksa pasien untuk segera mendapatkan perawatan darurat.

"Anda akan mengalami sakit kepala, otot dan sendi terasa nyeri, merasa sangat menderita, dan sering kali harus dibawa ke ruang gawat darurat (IGD)," jelas Dr. Nachman. "Ini bukanlah jenis penyakit di mana Anda hanya bisa berbaring santai di rumah sambil merasa sedikit tidak enak badan."

Dr. Nachman mengimbau masyarakat untuk menghindari area di sekitar kelinci liar yang mati atau tampak sakit. Meski demikian, John mengaku tidak pernah mendekati kelinci dan hanya bermain di halaman belakang rumahnya. Ibunya menegaskan bahwa fokus utama masyarakat harus tertuju pada pencegahan serta pemeriksaan rutin terhadap gigitan kutu pada tubuh.

"Anda tidak bisa mendekati kelinci liar karena mereka pasti lari. Jadi kunci utamanya adalah rutin memeriksa keberadaan kutu di tubuh," kata Detmer.

Pihak keluarga menyatakan bahwa pemberian beberapa tahapan antibiotik akhirnya berhasil menghentikan demam selama 11 hari serta rasa sakit hebat di kulit kepala John, dan kondisinya kini telah membaik.

Pejabat kesehatan menekankan bahwa tularemia dapat disembuhkan dengan antibiotik. Namun, karena sifatnya yang langka, masyarakat imbau untuk mengenali gejala-gejalanya. Siapa pun yang merasa telah digigit kutu dan gigitan tersebut berkembang menjadi luka terbuka dianjurkan untuk segera menghubungi dokter.

--- Stella Josephine

Komentar