REFLEKSI Makna Penderitaan? Tidak! (Menjadi Pribadi Bermakna-5) 22 Dec 2015 08:17
Penderitaan tidak bermakna. Penderitaan bukan untuk dinikmati atau dimaknai. Kita bisa mengambil sikap atas penderitaan
PSIKOLOG Austria Viktor Emil Frankl mengatakan bahwa kapanpun seseorang dihadapkan dengan sebuah situasi yang tak dapat dihindari, seperti penderitaan dan kematian, di situ dia mesti menghadapi situasi penderitaan itu sebagai situasi yang tidak dapat diubah tetapi mesti dihadapi dan disikapi.
Penderitaan adalah sebuah pengalaman yang sangat manusiawi. Setiap manusia bisa menderita karena manusia adalah makhluk yang terbatas. “Penderitaan adalah apa yang dialami oleh subjek karena adanya malum” (Paul Budi Kleden)
Penderitaan bersifat kontras terhadap apa yang dianggap sebagai hak atau apa yang sudah diterima sebagai kewajiban. Orang tidak hanya menderita karena haknya tidak terwujud, tetapi juga karena ketidakmampuan memenuhi kewajiban tertentu. Penderitaan dialami oleh subjek sebagai sesuatu yang menyakitkan.
Penderitaan dialami karena ketidakadilan, tekanan, kekerasan, atau karena kehilangan sesuatu yang telah dialami sebagai sesuatu yang berarti, seperti kesehatan, harta benda, harga diri, dan pribadi lain. Penderitaan juga dialami karena orang tidak dapat menjalankan kewajiban sosial dan pribadinya. Penderitaan terjadi bukan hanya karena sebab dari luar seperti tertimpa bencana alam, tetapi juga karena kesalahan sendiri, misalnya orang menderita karena perbuatannya atau sebagai akibat tindakannya yang mengecewakan dirinya dan atau orang lain, atau karena kegagalan mencapai sesuatu.
Menurut Frankl, pada saat penderitaan itulah seseorang sebenarnya diberi kesempatan terakhir untuk mengaktualisir nilai tertinggi dan mengisi makna terdalam dari eksistensinya, yaitu makna kehidupan yang ditemukan dalam penderitaan.
Pengambilan suatu sikap positif terhadap penderitaan dalam kehidupan dapat dibuat melalui suatu pengubahan cara pandang. Dalam pembicaraannya tentang ketakbermaknaan seorang manusia yang ditandai dengan neurosis, Fankl berbicara tentang ciri-cirinya misalnya malas tahu, kompromistis, kolektivistik dan lain-lain. Hal ini dikarenakan oleh tidak kreatifnya manusia dalam pengambilan sikap dalam situasi penderitaan.
Lebih jauh, logoterapi tidak pernah mengajarkan manusia untuk mewajibkan atau mencari-cari penderitaan dalam hidupnya, pencarian kenikmatan atas penderitaan atau menjadi masokis dengan cara menikmati dan merayakan penderitaan dan bencana. Logoterapi juga tidak mengajarkan sikap untuk menutup mata dan menghindari penderitaan. Sesungguhnya, logoterapi mengajarkan manusia untuk berani menghadapi penderitaan secara manusiawi, dengan kepenuhan martabat manusiawi agar manusia mampu melihat makna kehidupan dalam penderitaannya. Logoterapi mengajarkan manusia untuk selalu berjuang mempertahankan kemanusiaannya dalam situasi apapun.
Viktor Frankl mengatakan bahwa penderitaan sebenarnya adalah ujian yang paling baik dan yang paling berkualitas untuk pematangan diri dalam menjawabi pertanyaan tentang makna kehidupan seorang manusia. Dengan penderitaan dan kematian, seseorang ditantang untuk mematangkan eksistensinya. Keberanian untuk menghadapi penderitaan ini adalah sebuah keutamaan yang sekaligus adalah sebuah kecerdasan. Ini adalah sebuah kecerdasan untuk mengubah derita menjadi peluang, dan mengubah bencana menjadi kesempatan terutama untuk mematangkan eksistensi. Makna kehidupan bukanlah sesuatu yang dapat dikondisikan dan dimanipulasi, sebab ia berada di luar diri, tetapi adalah tugas seorang pribadi untuk keluar dari diri, mengatasi dirinya dan berani mengambil sikap terhadap penderitaan.
Pengambilan sikap positif terhadap penderitaan mengandung arti pemaknaan paling mendalam terhadap eksistensi manusia dan sikap yang positif terhadap penderitaan selalu mempunyai nilai dan makna yang dapat digapai. Beberapa nilai yang dapat ditarik bila manusia mampu menghadapi penderitaan adalah disiplin, pertumbuhan, panjang akal, pengertian, keyakinan, suka menolong.
Lebih jauh, pengambilan sikap yang positif terhadap penderitaan itu selalu mengandaikan adanya alasan memadai untuk melanjutkan kehidupan di masa depan. Hanya dengan melihat ke depan pada tugas dan pada orang-orang yang tercinta, penderitaan dapat dimaknai dan dihadapi dengan penuh martabat, secara manusiawi.
Pada titik ini, kita perlu memberikan satu catatan atas konsep penderitaan menurut Frankl. Mesti dengan tegas kita katakan, tidak pernah ada makna dalam penderitaan. Tidak ada penderitaan yang bermakna. Sebagai malum, penderitaan adalah sesuatu yang harus ditolak, tidak diinginkan, dan tidak boleh dinikmati.
Bahwa akan ada penderitaan yang tidak bisa dihindari bukan berarti untuk dinikmati. Pribadi yang sehat mengambil sikap atas penderitaan. Dan sikap itu tegas: keluar dari penderitaan, melampaui dalam arti bukan untuk menjadi pribadi masokistis. Hal itu hanya bisa terjadi jika seorang pribadi masih mempunyai harapan. (bersambung...)
---