Breaking News

AGAMA Safari (3) OMK Wolowaru: Dipanggil untuk Peduli Lingkungan dan Mencintai Bumi 16 Mar 2026 10:54

Article image
Kegiatan Visitasi dan Katekese Orang Muda Katolik di Lingkungan Napuwakaka, Wolowaru, Ende. (Foto: Che/Indonesia Satu)
"Semua upaya perawatan alam adalah bagian dari upaya orang beriman untuk menghormati Tuhan yang menciptakan bumi yang indah ini," demikian seruan Uskup Agung Ende.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Orang Muda Katolik (OMK) Santo Aloysius, Paroki Hati Kudus Yesus Wolowaru, Keuskupan Agung Ende, kembali melakukan visitasi dengan menggelar Katekese dan konsolidasi internal (penjaringan anggota baru).

Kegiatan Katekese bertema "Orang Muda dan Orang Tua Menjadi Pendidik Ekologi bagi Anak" itu berlangsung di rumah Ketua Lingkungan Napuwaka, Bapak Piet Sanggu, Sabtu (14/3/2026).

Pada kesempatan itu, sebanyak 10 orang muda lingkungan Napuwaka bergabung sebagai anggota OMK Wolowaru.

Peduli Lingkungan dan Mencintai Bumi

Dalam sesi Katekese yang dipandu oleh Katarina Yasinta Pili, para peserta dibimbing untuk mendalami bacaan Kitab Suci yang diambil dari Nubuat Nabi Yesaya

menggambarkan penghakiman Tuhan atas bumi yang dahsyat akibat dosa manusia yang melanggar perjanjian abadi.

Para peserta tampak aktif menjawab setiap pertanyaan penuntun, pendalaman teks Kitab Suci, syering pengalaman (iman), hingga rencana tindak lanjut.

Dalam syering pengalaman, Ibu Paulin mengangkat soal realitas di sekitar Wolowaru yang selalu penuh dengan sampah dan bencana banjir setiap musim hujan.

"Kita semua bisa menyaksikan bagaimana kondisi Wolowaru setiap musim hujan. Di jalanan penuh dengan sampah, bencana banjir dan pencemaran udara. Kita harus mulai dengan gerakan kecil dari rumah dan lingkungan sekitar kita. Hal yang luput dari perhatian yakni soal kesadaran membuang sampah pada tempatnya, rasa peduli dan tanggung jawab bersama menjaga lingkungan," kata Ibu Paulin.

Senada dengan Ibu Paulin, Naomi menyinggung soal sampah yang menumpuk di kali Lowomoke setiap kali terjadi banjir.

"Sungguh memprihatinkan setia terjadi banjir. Tumpukan sampah, baik sampah organik maupun non-organik membuat kami yang tinggal di sekitar kali merasa sangat tidak nyaman," ungkap Naomi.

Guche Montero, salah satu pendamping OMK Wolowaru juga menyinggung masalah sampah dan ancaman proyek panas bumi (geothermal) di pulau Flores dengan dampak kerusakan lingkungan yang sangat parah seperti yang terjadi di Sokoria-Ende dan Mataloko-Ngada.

"Masalah sampah di Wolowaru sudah menjadi pemandangan bersama setiap musim hujan. Terkait proyek panas bumi, terdapat ancaman serius terhadap kerusakan lingkungan hingga keberlangsungan hidup masyarakat sekitar. Kita bersyukur, Gereja hingga saat ini masih terus menyuarakan keberpihakan terhadap keutuhan alam dan jeritan masyarakat (umat) yang terdampak," kata Guche.

Kepedulian dan Tanggung Jawab Moral

Pastor Moderator OMK Paroki Wolowaru, RP. Kalixtus Hartono, SVD, pada kesempatan itu mengaku sangat bangga dan memberikan apresiasi untuk semangat dan antusiasme orang muda serta para orang tua di Lingkungan Napuwaka dalam kegiatan tersebut.

Menyinggung tema Katekese, Pater Ixto memberi memotivasi agar para orang tua dan orang muda Napuwaka harus berani mulai dengan hal-hal kecil dari rumah dan lingkungan sekitar sebagai bentuk kepedulian, kecintaan dan tanggung jawab moral terhadap ciptaan Tuhan.

"Saya memberi apresiasi bahwa kita semua memiliki perhatian dan kepedulian terhadap lingkungan. Ada hal lain yang luput dari perhatian kita yakni bagaimana perhatian dan kepedulian kita terhadap mereka yang memiliki gangguan mental; Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sering mendapat stigma sebagai 'sampah' masyarakat," sentil Pater Ixto, berangkat dari pengalamannya melihat beberapa ODGJ yang ada di Wolowaru.

Menurut Pater Ixto, ODGJ juga merupakan sesama ciptaan Tuhan yang harus diperlakukan secara manusiawi tanpa menghakimi atau merendahkan mereka.

"Mari perlakukan mereka (ODGJ) secara manusiawi. Ketika kita memberi perhatian dan penghormatan terhadap hak-hak mereka, maka kita juga akan diperlakukan serupa oleh sesama ciptaan yang lain," ajak Pater Ixto.

Pater Ixto mengajak orang muda dan segenap peserta pada suatu keyakinan bahwa perubahan tidak lahir dari hal-hal luar biasa, namun harus mulai dengan hal-hal kecil dari dalam diri, keluarga, dan lingkungan terdekat.

"Gereja universal dan gereja lokal terus menyerukan pertobatan ekologis, mendorong pemulihan hubungan manusia dengan alam ciptaan, membangkitkan tanggung jawab moral terhadap bumi sebagai rumah kehidupan kita bersama. Kita semua adalah wajah Gereja yang terus dipanggil untuk merawat dan mencintai bumi," kata Pater Ixto.

"Ada Roh Kebaikan yang terus mendorong dan menggerakan kita untuk berbuat yang terbaik bagi diri kita, OMK, umat, dan gereja. Untuk teman-teman yang baru bergabung dan sedang aktif, kalian harus bangga sebagai OMK, bangga dengan jati diri kalian, bangga dengan pilihan kalian. Mari berjalan bersama dan 'jangan hilang' (ma'e lewa) dari OMK," ajak Pater Ixto.

Sebagai rencana tindak lanjut, para orang muda di setiap lingkungan/stasi akan membuat tempat sampah dan mengadakan bakti sosial mingguan atau bulanan.

Sebelum menutup kegiatan Katekese, Ansy Pili merangkum beberapa poin penting sebagaimana sejalan dengan seruan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD dalam Surat Gembala Prapaskah 2026.

Salah satu poin penting yang disuarakan Uskup Agung Ende adalah Gerakan Peduli Anak Usia Dini dalam Hubungan dengan Alam.

Uskup Agung Ende menulis: "orang tua yang peduli adalah juga pendidik ekologi bagi anak. Gerakan orang tua peduli Anak Usia Dini tidak dapat dipisahkan dari isu lingkungan hidup. Orang tua perlu mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam dan lingkungan hidup di sekitar. Semua upaya perawatan alam adalah bagian dari upaya orang beriman untuk menghormati Tuhan yang menciptakan bumi yang indah ini," demikian seruan Uskup Agung Ende.

Beberapa cara praktis pendidikan ekologis yang dapat dilakukan orang tua kepada anak di antaranya: menanamkan pola hidup hemat dan merasa cukup, hidup sederhana dan bijaksana, tidak merusak alam, tidak membuang sampah sembarangan, serta menjaga kebersihan. Jika anak-anak belajar dan menjalankan hal-hal ini sejak dini, maka akan ada satu generasi yang memiliki kesadaran untuk mencintai alam dan penuh tanggung jawab moral dalam hidup.

Ketua Lingkungan Napuwaka, Bapak Piet Sanggu, memberikan dukungan dan apresiasi atas semangat dan komitmen OMK yang mengagendakan visitasi ke setiap lingkungan dan stasi.

"Semoga semangat ini terus dijaga dan dihidupkan untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya. Kami orang tua selalu mendukung jika yang dilakukan itu positif dan membangun," ungkap Bapak Piet. 

Ketua OMK Paroki Wolowaru, Maria Sutriyana, tak lupa menyampaikan terima kasih atas segala bentuk dukungan dan partisipasi Pastor Moderator, Pendamping OMK, pengurus Lingkungan, pengurus KUB, orang tua, serta pengurus dan anggota aktif OMK.

"Terima kasih untuk penerimaan yang hangat, pelayanan yang tulus dan kebersamaan yang terus menguatkan kami. Dukungan bapa/mama dan seluruh umat di lingkungan ini sangat kami harapkan agar OMK Wolowaru bisa tumbuh, berkembang, dan menjadi kebanggaan bersama," pungkas Yana.

Disaksikan media ini, segenap pihak yang mengambil bagian dalam kegiatan tersebut sangat menikmati setiap rangkaian acara dalam suasana persaudaraan dan kekeluargaan.

--- Guche Montero

Komentar