Breaking News

BERITA Mendagri dan Menteri PKP Bahas Penanganan Rumah Warga Terdampak Gempa NTT 22 Aug 2026 15:07

Article image
Mendagri Tito Karnavian bersama Menteri PKP Maruarar Sirait membahas penanganan rumah warga yang terdampak gempa di Flores, NTT. (Foto: Ist)
Di samping penanganan rumah, Mendagri menegaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang masih tinggal di tenda juga menjadi prioritas.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait membahas penanganan rumah warga yang terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penanganan kerusakan rumah tersebut melibatkan berbagai pihak terkait, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan para pengembang.

“Khusus untuk masalah perumahan, kita selain dari BNPB, kemudian dari PKP, (bisa dibantu) dengan Bapak-Bapak (developer) sekalian,” kata Mendagri Tito saat menghadiri Rapat Bersama Menteri PKP Maruarar Sirait, di Kantor Kementerian PKP, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Pemerintah terus mendata secara presisi jumlah rumah yang mengalami kerusakan yang dibagi dalam kategori rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan. 

Mendagri Tito menyebut, hampir semua penanganan kerusakan rumah nantinya menggunakan skema in situ, yaitu proses pembangunan rumah yang dilakukan langsung di lahan tempat rumah tersebut terdampak gempa.

Ia mengatakan, terdapat sekitar 8 Kabupaten di NTT yang terdampak gempa. Kerusakan terjadi pada rumah, gedung pemerintah, sekolah, hingga fasilitas publik lainnya, seperti jalan dan jembatan. 

Rekonstruksi rumah belum dapat dilakukan segera karena sejumlah wilayah masih mengalami guncangan. Pembangunan kembali akan dilakukan setelah kondisi dinilai stabil dengan dukungan lintas pihak.

“Kalau perbaikan rumah pun tidak bisa dilakukan sekarang, karena masih dalam kondisi goncang. Nanti mungkin setelah kondisi stabil, baru kemudian bisa dilakukan rekonstruksi,” tuturnya.

Pentingnya Pendataan

Mendagri Tito juga menekankan pentingnya pendataan sebagai dasar penanganan dan rekonstruksi rumah warga terdampak. Pendataan dilakukan secara by name by address dengan melibatkan kepala Desa dan Camat hingga Badan Pusat Statistik (BPS) di daerah. Pendataan juga perlu menggunakan petunjuk teknis dari BNPB mengenai klasifikasi rusak ringan, sedang, dan berat berdasarkan dampak bencana gempa.

“Sekarang inilah waktunya untuk pendataan. Meskipun nanti akan berkembang, karena yang tadinya rusak ringan jadi sekarang sedang atau berat akibat gempa susulan. Jadi terkait pendataan ini harus memanfaatkan para kepala Desa, Camat, dan by name by address,” ungkap Mendagri.

Di samping penanganan rumah, Mendagri menegaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang masih tinggal di tenda juga menjadi prioritas.

Menurutnya, pemerintah perlu memastikan ketersediaan makanan, minuman, tenda, pakaian, selimut, dan obat-obatan, termasuk untuk mengantisipasi kebutuhan pengungsi selama tiga hingga empat minggu ke depan.

“Untuk pintu-pintu masuk, selain jalan-jalan darat tadi, sudah hampir semua terbuka, sehingga mobilitas orang, maupun barang, bantuan lebih cepat masuk,” tandasnya.

Rapat tersebut turut dihadiri oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Realestat Indonesia (REI), serta perwakilan berbagai perusahaan pengembang properti.

--- Guche Montero

Komentar