INTERNASIONAL Mengenang 484 Tahun Penampakan Maria dari Guadalupe 12 Dec 2015 10:55
Setiap tahun, antara 18 – 20 juta peziarah mengunjungi Basilika Guadalupe, membuat tempat ini sebagai gereja yang paling banyak dikunjungi orang.
Oleh Simon Leya
Penganut Gereja Katolik sudah sering mendengar tentang Maria dari Fatima atau Maria dari Lourdes. Tapi, pernahkah mereka mendengar tentang Maria dari Guadalupe, pelindung benua Amerika? Setiap tanggal 12 Desember umat Katolik di benua ini memperingati peristiwa penampakan Bunda Maria kepada seorang petani dari suku Indian. Hari ini, 12 Desember 2015, peristiwa penampakan Bunda Maria di Guadalupe pelindung Benua Amerika genap berumur 484.
Banyak keajaiban dan peristiwa penyembuhan yang dikaitkan dengan Maria Guadalupe. Setiap tahun, antara 18 – 20 juta peziarah mengunjungi Basilika Guadalupe, membuat tempat ini sebagai gereja yang paling banyak dikunjungi orang. Secara keseluruhan ada 25 Paus yang secara resmi menghormati Bunda dari Guadalupe. Paus Yoh Paulus II mengunjungi Basilika Guadalupe sebanyak empat kali: pertama pada kunjungan pertamanya di luar Roma sebagai Paus tahun 1979, kemudian tahun 1990, 1999 dan 2002.
Tahun 1999, Paus Yoh Paulus II pada misa meriah di Basilika Bunda Maria Guadalupe, mengumumkan tanggal 12 Desember sebagai hari suci secara liturgis untuk benua Amerika.
“Kita berdoa agar Bunda kita dari Guadalupe, pelindung Amerika, akan melindungi bangsa-bangsa kita agar selalu berada pada jalan demokrasi, kebenaran, keadilan, dan perdamaian,” demikian Cardinal Damasceno, Kepala Konferensi Uskup-uskup se–Brasilia, kepada Catholik News Agency 12 Desember, empat tahun lalu, usai merayakan misa bersama Paus Benediktus XVI dan Uskup Mexico City, Kardinal Norberto Rivera Carrera di Basilika Bunda Kita dari Guadalupe.
Bunda dari Guadalupe
Pada 1531 Bunda Maria menampakkan diri kepada seorang penduduk asli Amerika Tepeyacac, di sebuah bukit, bagian barat laut Kota Mexico. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Maria Perawan Suci, Ibu dari Allah yang Benar karena-Nya kita hidup, Pencipta segala sesuatu, Tuhan atas langit dan bumi. Bunda Maria minta agar didirikan gereja di atas tempat penampakan.
Cerita lengkap tentang peristiwa penampakan Bunda dari Guadalupe tertulis dalam dokumen Nican Mopohua, dalam bahasa Nahuatl, bahasa asli suku Aztec, karya seorang sarjana Indian bernama Antonio Valeriano sekitar pertengahan abad ke - 16.
Penampakan Pertama
Pada hari Sabtu, dalam perjalanan menuju gereja untuk mengikuti pelajaran katekismus; ketika mencapai kaki bukit Tepeyacac, seorang Indian miskin bernama Juan Diego dari Cuautitlan mendengar nyanyian dari atas bukit, mirip nyanyian burung-burung yang merdu.
Sesekali suara itu hilang. Suara itu sangat merdu, melebihi suara burung coyoltototl dan tzinizcan atau burung bersuara merdu lainnya. Juan Diego berhenti memandang dan berkata dalam hatinya. “…, benarkah saya mendengar suara ini? Jangan-jangan saya mimpi? Apakah saya sadar? Di manakah saya? Barangkali sekarang saya di firdaus seperti yang diceritakan orang-orang tua kepada kita? Barangkali sekarang saya di surga?”
Dia memandang ke Timur di puncak bukit, dari mana datang paduan suara surga; kemudian berhenti, yang ada hanya ketenangan. Dia kemudian mendengar suara menyapa, “Juanito, Juan Dieguito.”
Dia mendaki bukit, untuk melihat sumber suara. Di puncak bukit, dia melihat seorang perempuan, berbicara dan memanggilnya. Dia amat takjub akan keagungan manusia itu; pakaiannya bersinar bagaikan matahari; sinar gemilang itu menembus karang terjal yang menjadi tumpuan kakinya; mirip gelang kaki yang terbuat dari batu mulia; dan bumi tampak berkilau bagaikan pelangi.
Rumput mezquites, nopales, dan rumput liar lainnya yang tumbuh di sana , tampak bagaikan jamrud. Daun-daunan berwarna biru kehijauan seperti batu pirus, dan dahan-dahannya berkilauan bagaikan emas. Dia merunduk di hadapan wanita itu, dan mendengar ucapan wanita yang lembut dan sopan.
Perempuan itu berkata kepadanya, “Ketahuilah dan pahamilah dengan baik, kamu adalah anak yang paling bersahaja, bahwa Aku adalah Maria Perawan Suci, Ibu dari Allah yang Benar bagi-Nya kita hidup, Pencipta segala sesuatu, Tuhan atas langit dan bumi. Saya berharap bahwa sebuah gereja didirikan di sini secepatnya. Karena, di sanalah saya akan menunjukkan dan memberikan segala cinta, kasih, pertolongan, dan perlindungan, karena akulah Ibumu yang penuh kasih kepadamu, dan kepada semua orang di tempat ini dan semua orang yang mencintaiku, yang memohon dan mencurahkan isi hatinya kepadaku…”
Diego merunduk lalu berkata, “Bundaku, saya akan menuruti pesanmu; sekarang saya harus jadi bagian dari dirimu, saya, hambamu yang hina.” Lalu dia merunduk dan berbalik untuk pergi melalui jalan besar menuju Kota Mexico.
Penampakan Kedua
Setelah sampai di kota, dia langsung menuju ke istana uskup Juan de Zumarraga. Bapak uskup berkomentar singkat.
“Kamu akan kembali, anakku, dan saya akan mendengar kamu lagi dengan senang hati. Saya akan pertimbangkan ini dari awal dan saya akan menyatakan pendapat saya tentang hasrat dan keinginanmu untuk datang kemari.”
Dia pergi dan tampak sedih, karena pesannya tidak digubris.
Dia kembali pada hari yang sama, langsung ke puncak bukit, bertemu Bunda Maria yang sedang menunggunya, di titik yang sama di mana dia melihatnya pertama kali. Melihat perempuan itu, dia tak berdaya lalu berkata, “Bunda, saya pergi ke mana kamu mengutus saya agar menuruti perintahmu. Dengan susah payah, saya masuk ke meja kerja bapak uskup. Saya menemuinya dan menyampaikan pesanmu sebagaimana yang telah kamu perintahkan. Dia menerima saya dengan penuh kebajikan dan mendengar dengan saksama. Tetapi ketika dia menjawab, tampaknya dia tidak memercayai saya.”
Bunda Maria menjawab, “Dengarlah, anakku yang terkecil, kamu harus paham bahwa saya memiliki banyak pelayan dan pembawa pesan, kepada siapa saya harus memercayakan pesanku untuk dibawa…, dan dengan rendah hati saya perintahkan, pergi lagi besok menemui bapak uskup. Dan katakan sekali lagi kepadanya bahwa saya, secara pribadi, Maria Perawan yang Kudus, Bunda Allah, mengutus kamu.”
Penampakan Ketiga
Hari berikutnya, Senin, dia meninggalkan rumah untuk menemui bapak uskup. Menjelang jam 10, setelah misa, dengan cepat dia menuju istana. Sambil berlutut di bawah kaki, dengan sedih dia menguraikan pesan Bunda, agar uskup mendirikan gereja di lokasi yang dikehendaki Sang Bunda. Meskipun dia sudah menjelaskan sosok wanita itu dengan lengkap dan segala sesuatu yang sudah dia lihat namun bapak uskup masih meminta bukti dan tanda.
Bapak uskup memerintahkan orang kepercayaannya membuntuti ke mana Juan Diego pergi untuk mencari tahu tentang siapa yang dia lihat dan dengan siapa dia bicara. Ketika menyeberangi jembatan Tepeyacac, sekonyong-konyong Juan Diego hilang dari pandangan mereka. Mereka mencari dia ke mana-mana, tapi tidak ditemukan. Mereka kembali dengan marah. Mereka berusaha meyakinkan bapak uskup agar tidak memercayai kesaksian Juan Diego. Mereka menuduhnya telah berbohong dan curang. Mereka bersekongkol akan menangkap dan menghukumnya.
Juan Diego menyampaikan jawaban bapak uskup. Mendengar itu, Bunda Maria berkata, “Baik, sayangku, kamu akan kembali ke sini esok, karena itu kamu boleh membawa tanda yang diminta bapak uskup. Pergi sekarang. Saya akan menunggumu di sini besok.”
Penampakan Keempat
Pada hari Selasa, 12 Desember, Juan Diego kembali ke bukit. Ketika dia mencapai puncak, dia dibuat takjub dengan begitu banyak bunga mawar Castilian yang indah sekali, seolah-olah sedang berada dalam taman pada musim semi. Padahal bukit itu terdiri dari batu wadas yang hanya ditumbuhi rumput liar dan tumbuhan berduri. Bunga-bunga itu begitu semerbak diliputi tetesan embun malam, yang menyerupai mutiara. Dari atas bukit Sang Bunda berkata, “Petik bunga-bunga itu, kumpulkan, ikat, lalu bawa ke hadapanku.”
Bunda Maria mengambil bunga-bunga itu dengan tangannya dan meletakkan kembali ke dalam mantelnya sambil berkata, “Anakku …, bunga mawar ini adalah bukti dan tanda yang akan kamu bawa kepada uskup...” Diego pun menuju istana uskup dengan membawa bunga mawar dalam mantelnya dengan hati-hati agar tidak ada satu pun yang jatuh dari mantelnya, sambil menikmati harumnya yang semerbak.
Gambar Bunda Maria
Ketik tiba di istana uskup, Juan Diego ditemui kepala rumah tangga uskup dan pelayan lainnya. Mereka tidak mengizinkan, bahkan sama sekali tidak mendengarkan dia. Tapi mereka penasaran dengan sesuatu yang ada dalam mantelnya. Mereka berusaha mengganggu dan menarik mantelnya. Pada saat ditarik, tersingkaplah isi bungkusan mantelnya. Mereka begitu takjub melihat bunga mawar Castila yang indah padahal bukan musimnya. Mereka berusaha merampas dan menarik beberapa tangkai, tapi tidak berhasil. Tiga kali mereka nekat tapi gagal lagi. Karena setiap kali mereka berusaha mengambilnya, mereka tidak bisa melihat bunga yang sesungguhnya. Lalu mereka pergi memberitahu uskup.
Mendengar itu, uskup tersadar bahwa apa yang dibawa orang Indian itu adalah bukti yang dimintanya. Uskup memerintahkan agar orang itu diizinkan masuk. Juan Diego berlutut di hadapan uskup dan menceritakan apa yang telah dialaminya, juga pesan Bunda Maria agar didirikan baginya sebuah gereja di tempat penampakan. Di depan bapak uskup, Juan Diego membentangkan mantel putihnya, lalu menghamburkan bunga mawar Castilla ke lantai. Sesuatu yang ajaib terjadi. Tiba-tiba tampak gambar Bunda Maria terlukis indah pada mantel Juan Diego.
Melihat itu, uskup dan semua yang ada di situ berlutut dan takjub. Bapak uskup, dengan berurai air mata, berdoa dan meminta maaf karena selama ini tidak memenuhi permintaan Sang Bunda. Lalu bapak uskup mengambil gambar itu untuk diletakkan di dalam kapel. Hari berikutnya, bapak uskup berkata kepada Juan Diego, “Baik, tunjukkan kepada kami di mana Bunda Maria menghendaki agar sebuah gereja didirikan untuknya!”
Gambar Bunda Maria tersebut masih terpelihara seperti aslinya sampai sekarang. Padahal, sebuah mantel dari serat kaktus biasanya hanya bertahan paling lama 20 tahun. Mantel Juan Diego masih bertahan selama 484 tahun. Ajaib!!!
Penulis adalah Redaktur Pelaksana IndonesiaSatu.co