Breaking News

OPINI Menjaga Roh dan Masa Depan Seminari: Proficiat untuk Romo Stef 07 Mar 2026 14:55

Article image
RD Stef Wolo Itu, Preases Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko

Oleh: P. Felix Baghi, SVD

Hari ini, di Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu, Mataloko, kita tidak sekadar menyaksikan serah terima jabatan Preses. Ini bukan sekadar urusan administratif atau pergantian figur pemimpin. Lebih dalam dari itu, hari ini kita menyaksikan penyerahan tanggung jawab rohani yang luhur: mandat untuk menjaga roh, merawat sejarah, dan menenun masa depan sebuah rumah panggilan.

Peristiwa ini mengingatkan kita kembali bahwa seminari bukanlah deretan bangunan tua yang membisu di tanah Ngada. Ia adalah tanah persemaian rahmat—sebuah ladang kehidupan tempat benih-benih sabda ditabur, panggilan ditumbuhkan, dan api pelayanan dinyalakan. Sejak Pater Cornelisen, SVD meletakkan batu pertamanya, setiap sudut ruang dan setiap derap doa di sini telah membentuk jiwa calon imam, awam Katolik, dan misionaris bagi Gereja serta dunia.

Saat mendengar sambutan Romo Stef melalui Zoom, saya tidak menangkap sekadar rangkaian kata. Saya merasakan gemuruh sejarah yang hidup. Ada jiwa seorang pemimpin yang menimba kekuatan dari memori iman dan ziarah hidup yang mendalam. Narasi yang ia bawa—mulai dari rumah keluarga, kisah sang ayah yang berjalan bersama para perintis, makam pendiri yang menjadi saksi bisu, hingga langkah doa di Todabelu dan kampung halaman Yohanes Berkhmans—bukanlah nostalgia kosong. Itu adalah energi, kekuatan, dan inspirasi untuk melangkah ke depan.

Dari ziarah iman tersebut, muncul pesan yang sederhana namun monumental: rendah hati, siap melayani, dan bergandengan tangan. Bagi hati yang memahami panggilan, kata-kata ini adalah sebuah komitmen hidup yang radikal.

Kita perlu menatap kembali semangat Pater Cornelisen, SVD. Beliau bukan sekadar pendiri, melainkan "Penjaga Api" yang pertama. Ia mendirikan seminari ini sebagai rumah kehidupan, tempat anak-anak belajar bahwa berpikir adalah bersyukur—denken ist danken. Dan kini, api itu berpindah ke tangan Romo Stef.

Romo Stef, engkau menerima warisan roh dan semangat misionaris ini bukan sebagai beban jabatan, melainkan sebagai amanah untuk memastikan bahwa setiap calon imam di Todabelu tidak hanya cakap secara teologis, tetapi juga utuh sebagai manusia: manusia yang mampu berpikir, tekun berdoa, dan siap melayani dunia.

Di tengah dunia modern yang serba cepat dan pragmatis, peran seminari menjadi kian krusial. Saat dunia hanya mengukur segalanya dengan angka dan logika efisiensi, ia sering lupa akan kedalaman rohani. Seminari hadir sebagai "laboratorium roh", tempat calon imam belajar menyentuh hati manusia dan membawa terang di tengah kegelapan.

Tantanganmu, Romo Stef, adalah menjaga agar fisik, kurikulum, dan tradisi tetap relevan, namun yang paling utama adalah menjaga jiwa panggilan itu sendiri. Anak-anak seminari adalah benih yang harus dipupuk dan diarahkan agar tumbuh menjadi pohon kehidupan yang menaungi umat.

Hari ini, kita menyaksikan penyerahan misi hidup. Dengan kerendahan hati dan visi futuristikmu, engkau berdiri di garis depan untuk menyalakan kembali api panggilan tersebut. Masa depan Gereja tidak ditentukan oleh kemegahan gedung, melainkan oleh jiwa-jiwa yang terbentuk di sini—oleh api yang terus menyala dan rahmat yang menembus zaman.

Romo Stef Wolo, proficiat!

Terima kasih atas keberanianmu menerima tanggung jawab suci ini. Semoga Tuhan menyertai setiap langkahmu, menyinari setiap keputusanmu, dan terus menyalakan hati setiap insan yang menapaki Todabelu demi pengabdian bagi Gereja dan dunia.

Mataloko akan terus menjadi tempat api itu menyala. Mari kita berjalan ke depan dengan iman dan pengharapan.

---

Komentar