REGIONAL Minta Sarjana Jangan Malu Pulang Kampung Jadi Petani, Senator Angelo: Masyarakat Perlu Bangga dan Mindset Kita Perlu Diubah 09 Mar 2025 16:21
“Sekolah sampai Sarjana dan jadi petani dianggap sebagai sebuah kegagalan. Pemikiran orang tua bahwa anak sekolah menjadi pegawai. Kita masih terjebak dalam status sosial dan pola pikir sempit soal petani,” kata Angelo.
ENDE, IndonesiaSatu.co-- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Angelius Wake Kako, S.Pd.,M.Si, hadir sebagai pembicara dalam kegiatan bersama Yayasan Tananua Flores bertempat di Desa Tonggo Papa, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Sabtu (8/3/2025).
Pada kesempatan itu, senator Angelo menerangkan bagaimana para petani di desa mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian dengan memanfaatkan teknologi yang ramah lingkungan.
Menurut Angelo, hal itu bisa dilakukan dengan keterlibatan anak-anak muda yang Sarjana dan yang mau kembali ke kampung untuk menjadi petani.
“Saya melihat sarjana yang pulang kampung dan menjadi petani masih menjadi hal yang tabu. Pola pikir ini harus kita ubah, karena anak-anak kita yang Sarjana ini sangat mampu secara pengetahuan, relasi dan jejaring komunikasi untuk mengembangkan potensi pertanian yang ada di desanya,” ungkap Wakil Ketua I Komite II DPD RI itu.
“Sekolah sampai Sarjana dan jadi petani dianggap sebagai sebuah kegagalan. Pemikiran orang tua bahwa anak sekolah menjadi pegawai. Kita masih terjebak dalam status sosial dan pola pikir sempit soal petani,” lanjut Angelo.
Senator Angelo mengatakan bahwa Flores sangat kaya akan sumber daya alam sehingga perlu pengelolaan secara baik dan modern untuk meningkatkan produktivitas setiap masa panen.
Namun di saat yang sama, kata dia, Flores bisa saja kehilangan bonus demografi karena banyak anak yang justru memilih rantau karena tidak nyaman di kampung.
Senator muda itu menyinggung, Gubernur NTT mendorong hilirisasi untuk menciptakan lapangan kerja baru di desa dan kesejahteraan petani.
Menurutnya, hal yang bisa dilakukan adalah mendorong keterlibatan Sarjana di desa untuk berpikir bagaimana hasil pertanian ini tidak dijual dalam bentuk gelondongan tetapi diolah menjadi barang setengah jadi.
"Saya mendorong produk hilirisasi di desa cukup sampai ke produk setengah jadi agar memiliki nilai ekonomi dan bukan nilai sosial. Kita juga tidak ambil semua kerja-kerja kita ini karena masih banyak orang yang juga perlu lapangan kerja. Kita perlu juga berbagi dengan yang lain. Syukur-syukur kalau bisa sampai produk jadi, asal barang produksi kita berkualitas, jumlahnya banyak dan berkelanjutan," ungkap Angelo..
Senator Angelo mengapresiasi Yayasan Tananua Flores yang telah mendampingi para petani untuk menciptakan produk dari potensi di masing-masing desa.
"Yayasan Tananua Flores sudah melakukan gebrakan lebih maju, dan saya pernah menggunakan produk desa dampingan Yayasan Tananua Flores. Saya usul, kita segera atur pertemuan lanjutan sebelum akhir Maret ini bersama perwakilan tiap desa dampingan," ajak Angelo.
Benyamin Gosa dari Yayasan Tananua Flores, menyampaikan berterima kasih atas apresiasi dan respon cepat dari Bapak Angelo.
“Setelah sekian lama kami bergerak dan terlibat melakukan pendampingan kepada petani di desa, hari ini kami sudah menemukan solusi atas persoalan yang kami alami selama ini melalui Bapak Angelo," ujar Bapak Benyamin.
"Kami akan mendata potensi yang ada di semua desa dampingan sebagai bahan presentasi dalam pertemuan lanjutan pada akhir Maret ini," komit Benyamin.
--- Guche Montero
Komentar