Breaking News

REFLEKSI Neuroplastisitas: Mengubah Hidup Kita dengan Merombak Cara Berpikir 30 Oct 2026 18:55

Article image
Valens Daki-Soo, pengusaha, Pendiri & CEO VDS Group (Foto: Ist)
Otak kita tidak kaku tapi terus beradaptasi. Jadi, jangan pernah berhenti memperbarui diri. Selama kita masih mau belajar, bertumbuh, dan berusaha, selalu ada kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bahagia dan sukses.

Oleh: Valens Daki-Soo*

 

Mesti terlebih dulu saya akui di awal tulisan ini, saya bukanlah pakar sains, terutama neurosains. Tulisan ini lebih merupakan hasil usaha saya mendalami -- lewat bacaan-bacaan dan juga diskusi dengan seorang psikiater (dr. I Kadek Rollandika, Sp.KJ) -- bagaimana cara berpikir (baca: cara kerja otak) kita bisa mempengaruhi dan berdampak pada kehidupan kita.

Pernahkah Anda merasa sulit mengubah kebiasaan buruk, keluar dari pola pikir negatif, atau melepaskan diri dari pengalaman masa lalu? Kita sering menganggap karakter dan cara berpikir seseorang sudah terbentuk secara permanen. Padahal, ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk berubah.

Kemampuan tersebut dikenal dengan istilah neuroplastisitas (neuroplasticity), yakni kemampuan otak untuk membentuk, memperkuat, dan menata ulang koneksi antarsel saraf sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, lingkungan, dan kebiasaan.

Artinya, otak kita tidak kaku. Dia terus beradaptasi sepanjang kehidupan. Apa yang kita pikirkan, pelajari, dan lakukan secara berulang dapat memengaruhi cara kerja otak.

Inilah pesan penting dari neurosains, yaitu kita memiliki kesempatan untuk mengubah kehidupan dengan mulai merombak cara berpikir.

Otak Selalu Bisa Berubah 

Dulu ada anggapan, perkembangan otak hanya berlangsung pada masa kanak-kanak. Namun, penelitian modern membuktikan, otak orang dewasa pun tetap memiliki kemampuan beradaptasi dan membentuk koneksi saraf baru.

Norman Doidge, psikiater sekaligus penulis buku "The Brain That Changes Itself", menjelaskan bagaimana otak manusia dapat mengorganisasi dan mengubah dirinya melalui pembelajaran, latihan, serta pengalaman.

Sementara itu, Michael Merzenich, profesor emeritus University of California, San Francisco, melalui berbagai penelitiannya menunjukkan bahwa latihan dan pengalaman dapat mengubah organisasi serta fungsi jaringan saraf.

Dengan demikian, usia bukan alasan untuk berhenti belajar dan memperbaiki diri. Kita tidak harus menjadi tawanan pola pikir lama hanya karena sudah bertahun-tahun terbiasa berpikir dengan cara tertentu.

Pikiran dan Kebiasaan Membentuk Diri Kita 

Salah satu prinsip populer dalam neurosains adalah "neurons that fire together, wire together." Artinya, sel-sel saraf yang sering aktif secara bersamaan cenderung membentuk hubungan yang semakin kuat.

Prinsip ini membantu menjelaskan mengapa kebiasaan yang terus diulang menjadi semakin otomatis. Jika seseorang terbiasa berpikir negatif, merasa tidak mampu, mudah curiga, atau takut menghadapi tantangan, pola tersebut dapat semakin menguat.

Sebaliknya, kebiasaan berpikir lebih positif dan optimis, bersyukur, percaya diri, serta berani mencoba hal baru dapat membantu membangun pola respons yang lebih sehat.

Tentu, berpikir positif bukan berarti menyangkal kenyataan atau menganggap semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan sugesti. Namun, kita dapat melatih diri agar tidak selalu dikuasai ketakutan, kemarahan, kecemasan, dan pesimisme.

Kita mungkin tidak selalu mampu mengendalikan keadaan, tetapi kita dapat belajar mengendalikan sikap dan respons terhadap keadaan tersebut.

Merombak Pola Pikir, Mengubah Masa Depan 

Dalam psikologi, Carol S. Dweck, profesor psikologi dari Stanford University, memperkenalkan konsep "growth mindset", yaitu keyakinan bahwa kemampuan manusia dapat terus dikembangkan melalui usaha, pembelajaran, strategi, dan ketekunan.

Konsep ini sejalan dengan prinsip neuroplastisitas. Jika otak dapat berubah melalui proses belajar, kegagalan tidak seharusnya dianggap sebagai bukti bahwa seseorang tidak mampu. Kegagalan justru menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki strategi, dan mencoba kembali.

Orang dengan pola pikir berkembang tidak mudah mengatakan, "Saya memang tidak bisa." Dia lebih memilih mengatakan, "Saya belum bisa, tetapi saya bisa belajar."

Karena itu, jangan terlalu cepat memberi label negatif kepada diri sendiri. Jangan terus mengatakan bahwa kita tidak berbakat, tidak mampu, atau tidak mungkin berhasil.

Berikan kesempatan kepada diri sendiri untuk bertumbuh.

Mulailah dengan Kebiasaan Kecil

Neuroplastisitas bukan sekadar teori ilmiah. Prinsip ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Biasakan membaca dan mempelajari hal-hal baru. Bangun kebiasaan positif secara konsisten. Jaga kesehatan otak melalui olahraga, tidur cukup, dan pola makan bergizi. Pilih lingkungan pergaulan yang sehat dan mendukung pertumbuhan diri.

Selain itu, beranilah keluar dari zona nyaman. Jangan takut menghadapi tantangan dan melakukan kesalahan. Luangkan waktu untuk refleksi, meditasi, atau doa agar kita lebih mampu mengenali pikiran, emosi, dan tindakan sendiri.

Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Dibutuhkan pengulangan, disiplin, dan kesabaran. Namun, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan besar.

Neuroplastisitas juga mengajarkan bahwa manusia selalu memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri.

Kita memang tidak dapat menghapus seluruh pengalaman masa lalu. Namun, kita tidak harus membiarkan kegagalan, kekecewaan, dan pengalaman pahit menentukan seluruh masa depan.

Jangan biarkan pikiran negatif menjadi penjara bagi potensi diri. Jangan pula menjadikan usia, latar belakang, pendidikan, atau kegagalan sebagai alasan untuk berhenti bertumbuh.

Ketika kita mengubah cara berpikir, kita membuka kemungkinan untuk mengubah cara bertindak. Ketika tindakan berubah, arah kehidupan pun dapat berubah.

Jangan pernah berhenti memperbarui diri. Selama kita masih mau belajar, bertumbuh, dan berusaha, selalu ada kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Saya akhiri tulisan ini dengan kutipan bagus berikut:

"You are not permanently defined by who you were yesterday. You can become better than you are today." -- Anda tidak secara tetap ditentukan oleh siapa Anda kemarin. Anda bisa menjadi lebih baik daripada Anda hari ini.

 

*) Penulis adalah entrepreneur, peminat filsafat dan psikologi, Pendiri dan CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus"/VDS Law Firm).

Komentar