BUDAYA Peringati HUT PBH Wuamesu Indonesia ke-8, Masyarakat Ende-Lio Diaspora Jabodetabek Gelar Ritual 03 Jul 2023 01:00
"Ritual ini mengandung filosofi mendalam tentang nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kepemimpinan, keterwakilan, dan keadilan sosial," kata Yosef Badeoda.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Organisasi Diaspora Ende-Lio, Nusa Tenggara Timur (NTT), Perkumpulan Wuamesu Indonesia di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) menggelar ritual "GAWI SIA".
Kegiatan bernuansa budaya tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Perkumpulan Badan Hukum Wuamesu Indonesia ke-8 dan HUT Provinsi NTT ke-65 bertempat di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (1/7/2023).
Kegiatan dalam rangka memperkuat jati diri Budaya Ende Lio-Flores tersebut turut dihadiri oleh 1000 masyarakat Diaspora Ende-Lio se-Jabodetabek.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Perwakilan Provinsi NTT di Jakarta, didampingi oleh perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Selain itu, hadir juga perwakilan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan tokoh-tokoh dari Provinsi NTT di Jabodetabek.
Ketua Umum Wuamesu Indonesia, Yosef Badeoda, dalam sambutannya mengatakan bahwa tandak (Gawi) merupakan ritual adat yang memiliki peran penting dalam komunitas masyarakat Ende-Lio dan menjadi titik sentral kebudayaan Ende-Lio secara umum.
"Ritual Gawi mencerminkan seluruh aspek kehidupan masyarakat penganutnya. Ritual ini mengandung filosofi mendalam tentang nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kepemimpinan, keterwakilan, dan keadilan sosial," kata Yosef melansir korantimor.com
Nilai-nilai dalam Gawi, terang Yosef, juga menjadi inspirasi bagi Soekarno (Bung Karno) dalam menggali ide dan gagasan tentang butir-butir Pancasila, saat menjalani masa-masa pengasingan di Ende. Hal itulah yang menjadikan kota Ende dijuluki sebagai kota Pancasila.
Yosef mengingatkan, seiring dengan dinamika dan perkembangan kehidupan masyarakat penganutnya, nilai-nilai Gawi mulai tergerus oleh sikap masa bodoh dan profanis yang muncul pada generasi baru.
"Gawi hanya menjadi sebuah tarian yang dilakukan tanpa makna dalam setiap kegiatan masyarakat Ende-Lio. Untuk itu, masyarakat Ende-Lio di Jabodetabek berusaha memelihara dan melestarikan budaya bernilai tinggi ini ke generasi berikutnya, agar Gawi tetap menjadi falsafah hidup masyarakat Ende-Lio," tandasnya.
Selain ritual budaya GAWI SIA, acara tersebut juga dimeriahkan oleh penampilan tarian khas Ende-Lio yang dibawakan oleh anggota Wuamesu Indonesia, termasuk tarian daerah Nggo Wani, Tarian Todopare, Tarian Anafua, dan Tarian Woge.
Selain atraksi bernuansas budaya khas Ende-Lio, panitia juga menyajikan berbagai makanan khas daerah Ende-Lio kepada para tamu dan undangan yang hadir pada acara tersebut.
Wuamesu Indonesia berkomitmen untuk menyelenggarakan acara ritual budaya ini secara rutin setiap tahun. Sebab,acara tersebut tidak hanya menjadi sebuah kebanggaan semata, tetapi juga merupakan aktualisasi dari adat dan budaya Ende-Lio.
--- Guche Montero
Komentar