Breaking News

INTERNASIONAL Presiden Trump Ancam Bom Iran Jika Tidak Capai Kesepakatan Nuklir 31 Mar 2025 08:50

Article image
-- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Foto: Ist)
Trump bereaksi keras setelah Iran menolak negosiasi langsung dengan Washington minggu lalu.

NEW YORK, IndonesiaSatu.co -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengebom dan memberikan saksi tarif sekunder jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dengan Washington mengenai program nuklirnya. Hal ini disampaikan Trump kepada NBC News, Minggu (30/5/2025).

Trump bereaksi keras setelah Iran menolak negosiasi langsung dengan Washington minggu lalu. Ia menginformasikan kepada NBC News bahwa pejabat AS dan Iran sedang berbicara, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut.

"Jika mereka tidak membuat kesepakatan, akan ada pemboman," kata Trump dalam sebuah wawancara telepon.

"Itu akan menjadi pemboman yang belum pernah mereka lihat sebelumnya."

"Ada kemungkinan bahwa jika mereka tidak membuat kesepakatan, saya akan mengenakan tarif sekunder kepada mereka seperti yang saya lakukan empat tahun lalu," tambahnya.

Iran mengirim tanggapan melalui Oman atas surat dari Trump yang mendesak Teheran untuk mencapai kesepakatan nuklir baru. Iran tidak ingin terlibat dalam negosiasi langsung dengan Amerika Serikat saat mengalami tekanan maksimum dan ancaman militer, ujar Menteri Luar Negeri Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kembali kebijakan tersebut pada hari Minggu (31/3/2025).

"Negosiasi langsung (dengan AS) telah ditolak, tetapi Iran selalu terlibat dalam negosiasi tidak langsung, dan sekarang, Pemimpin Tertinggi telah menekankan bahwa negosiasi tidak langsung masih dapat dilanjutkan," katanya, merujuk pada Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam wawancara NBC, Trump juga mengancam akan memberlakukan apa yang disebut tarif sekunder, yang memengaruhi pembeli barang suatu negara, baik terhadap Rusia maupun Iran. Ia menandatangani perintah eksekutif minggu lalu yang mengesahkan tarif tersebut terhadap pembeli minyak Venezuela.

Trump tidak menguraikan lebih lanjut tentang rencana pemberian tarif tersebut.

Dalam masa jabatan pertamanya 2017-2021, Trump menarik AS keluar dari kesepakatan 2015 antara Iran dan negara-negara besar dunia yang memberlakukan batasan ketat pada aktivitas nuklir Teheran yang disengketakan dengan imbalan keringanan sanksi.

Trump juga memberlakukan kembali sanksi AS yang luas. Sejak saat itu, Republik Islam tersebut telah jauh melampaui batas yang disepakati dalam program pengayaan uraniumnya yang meningkat.

Teheran sejauh ini menolak peringatan Trump untuk membuat kesepakatan atau menghadapi konsekuensi militer.

Negara-negara Barat menuduh Iran memiliki agenda rahasia untuk mengembangkan kemampuan senjata nuklir dengan memperkaya uranium hingga tingkat kemurnian fisil yang tinggi. Hal ini semakin mempertebal kecurigaan terhadap adanya proyek atom Iran.

Teheran membantah tuduhan dengan mengatakan program nuklirnya sepenuhnya untuk tujuan energi sipil.

---R.Kono

Komentar