KESEHATAN Princeton University-SMRC: Media Sosial Berakibat Buruk Bagi Kesehatan Mental 15 Mar 2026 21:46
Studi juga menemukan bahwa berhenti menggunakan media sosial secara kolektif bersama keluarga membuat mental lebih sehat.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Sudah banyak perdebatan di dunia tentang pengaruh media sosial (medsos) terhadap kesehatan mental penggunanya. Namun sejauh ini belum ada studi yang meyakinkan secara ilmiah apakah media sosial buruk, netral, atau baik terhadap kesehatan mental penggunanya.
Princeton University bekerja sama dengan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melakukan studi lewat eksperimen untuk melihat hubungan kausal antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental penggunanya.
“Studi ini menemukan bahwa media sosial punya pengaruh buruk terhadap kesehatan mental. Berhenti menggunakan media sosial memulihkan kesehatan mental penggunanya,” ujar Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Minggu (15/3/2026).
Peneliti dari Princeton University, Nicholas Kuipers, menyatakan ”penonaktifan media sosial meningkatkan kesehatan mental secara substansial, terutama pada mereka yang berhenti menggunakan media sosial bersama seluruh anggota rumah tangga”.
Deni Irvani, dalam presentasi temuan survei bertajuk “Efek Media Sosial terhadap Kesehatan Mental” menerangkan bahwa studi ini berdasarkan metode eksperimental terhadap populasi pengguna media sosial di 30 ibu kota provinsi di Indonesia.
Sampel sebanyak 1502 responden dipilih secara acak (stratified multistage random sampling) dan diwawancara online 2 kali dalam bentuk panel.
Wawancara pertama dilakukan ketika responden dalam keadaan biasa beraktivitas dengan medsos mereka.
Kemudian responden-responden tersebut dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok yaitu, pertama, kelompok responden yang diminta untuk menghentikan penggunaan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok T1).
Kedua, kelompok responden yang diminta bersama-sama dengan semua anggota rumah tangga untuk tidak menggunakan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok T2).
Ketiga, kelompok responden yang tetap dipersilakan menggunakan medsos seperti biasa sejak wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok Kontrol).
Selang waktu wawancara 1 dan 2 selama 1 bulan. Wawancara 1 dilakukan pada 17 November – 15 Desember 2025, dan wawancara 2 dilakukan pada 16 Desember – 14 Januari 2026. Studi ini dibiayai oleh Princeton University.
Variabel-variabel studi meliputi afeksi, kepuasan hidup, rasa cemas, depresi, dan kualitas tidur.
Hasil studi menunjukkan bahwa kesehatan mental Kelompok T1 dan T2 setelah periode treatmen selama 1 bulan secara umum menjadi lebih baik dibanding Kelompok Kontrol.
Membuat Mental Jadi Lebih Sehat
Studi juga menemukan bahwa berhenti menggunakan media sosial secara kolektif bersama keluarga membuat mental lebih sehat.
Deni menunjukkan bahwa secara keseluruhan, ada sekitar 1 persen warga memiliki kesehatan mental dan emosional yang sangat buruk (skor di bawah 25 dalam skala 0-100), 9 persen cukup buruk (skor 25-50), 48 persen cukup baik (skor 50-75) dan 42 persen sangat baik (skor 75-100). Dalam skala 0-100, di mana 0 berarti sangat buruk dan 100 berarti sangat baik, rata-rata skor kesehatan mental dan emosional warga adalah 71.2, yang berarti secara umum cukup baik.
Dalam satu bulan periode penelitian, lanjut Deni, skor kesehatan mental dan emosional di kelompok Kontrol cenderung turun dari 71.1 di Survei pertama menjadi 70.4 di Survei kedua. Dalam periode yang sama, skor di kelompok T1 cenderung stabil dari 71.7 menjadi 71.8, sementara skor di kelompok T2 cenderung naik dari 71.3 menjadi 72.2. Selisih skor antara kelompok T1 dan Kontrol berubah dari +0.6 di Survei pertama menjadi +1.4 (naik 0.8 poin) di Survei kedua. Sementara selisih skor antara T2 dan Kontrol berubah dari +0.2 menjadi +1.8 (naik 1.6 poin).
“Data ini menunjukkan deaktivasi media sosial, terutama jika dilakukan bersama seluruh anggota keluarga, terlihat berdampak meningkatkan Kesehatan mental dan emosional,” ungkap Deni.
Istirahat dari Media Sosial Sekeluarga Turunkan Rasa Cemas
Istirahat dari media sosial (Medsos) yang dilakukan bersama keluarga juga menurunkan rasa cemas.
Deni menunjukkan ada sekitar 11 persen warga yang mengaku selalu/sering tidak mampu menghentikan atau mengendalikan rasa khawatir, 46 persen kadang- kadang, 41 persen tidak pernah, dan ada 2 persen yang tidak menjawab.
Sementara itu yang selalu/sering merasa gugup, cemas, atau gelisah ada 10 persen, yang kadang-kadang 53 persen, tidak pernah 35 persen, dan 2 persen tidak menjawab.
Jika kedua item digabung sehingga membentuk skor dengan skala 0-100, dengan 0 berarti sangat tidak cemas dan 100 berarti sangat cemas, rata-rata skor rasa cemas warga adalah 24.5, yang berarti rendah. Mayoritas warga, 93 persen, memiliki rasa cemas yang rendah (skor 0- 50); sedangkan yang memiliki rasa cemas tinggi (skor di atas 50) jumlahnya sekitar 7 persen.
Dalam satu bulan, lanjut Deni, skor rasa cemas di kelompok Kontrol cenderung naik dari 24.3 di Survei pertama menjadi 25.0 di Survei kedua. Dalam periode yang sama, skor di Kelompok T1 cenderung turun dari 25.1 menjadi 23.7, dan skor di kelompok T2 turun dari 24.2 menjadi 22.3. Selisih skor rasa cemas antara kelompok T1 dan Kontrol berubah dari +0.8 di Survei 1 menjadi -1.3 di Survei 2 (turun 2.1 poin). Sementara selisih skor antara T2 dan Kontrol berubah dari -0.1 menjadi -2.7 (turun 2.6 poin).
Deni menyimpulkan bahwa deaktivasi atau istirahat dari media sosial, terutama jika dilakukan bersama semua anggota rumah tangga, terlihat berdampak menurunkan rasa cemas. *
--- F. Hardiman
Komentar