REGIONAL Rayakan HUT RI, Menteri Rini dan Pangdam Pattimura Kunjungi Eks Kantong RMS 19 Aug 2016 09:11
Perjalanan bersama Menteri BUMN ke Desa Aboru menjadi salah satu rangkaian kunjungan kerja dari Mayjen Doni Monardo untuk merangkul masyarakat Maluku.
AMBON, IndonesiaSatu.co – Dalam rangka memperingati HUT RI 71, Menteri BUMN, Rini Soemarno dan Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo mengunjungi Desa Aboru, Pulau Haruku, Maluku Tengah. Di tempat itu, Rini dan Doni mengadakan upacara memperingati HUT RI ke 71. Daerah yang dikunjungi ini sangat tersohor karena menjadi salah satu kantong utama dan pusat pergerakan dari kelompok separatis Republik Maluku Selatan (RMS).
Dalam perayaan itu, hadir pula Dirut PT Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo. PT Bank Mandiri yang difasilitasi oleh Kementerian BUMN dan Kodam Pattimura memberikan sejumlah bantuan. Seperti penyerahan secara seremoni bantuan Bedah Rumah untuk para veteran. Juga bantuan bagi mantan atlet yang mengharumkan nama Maluku dan Maluku Utara.Program CSR Bank Mandiri juga memberikan bantuan untuk pipanisasi saluran air bersih karena di Haruku ternyata masih belum tersedia. Selain itu juga dilakukan pembuatan 10 MCK yang tersebar di desa-desa yang ada di Pulau Haruku.
Kunjungan ini menjadi salah satu wujud dari pendekatan kesejahteraan rakyat (prosperity approach) yang digagas oleh Mayjen Doni Monardo, ketika menggantikan Mayjen TNI Wiyarto setahun yang lalu. Pendekatan dimaksud bertujuan mendekati dan merangkul masyarakat di daerah-daerah konflik untuk turut terlibat dalam gerakan membangun bangsa dan Negara. Doni tidak hanya melihat tugas TNI dalam hal pertahanan negara secara militer tetapi beliau melihatnya juga sebagai bagian dari masyarakat Maluku untuk mengolah dan memberdayaan kekayaan alam, kekayaan budaya, dan kekayaan agama demi kesejahteraan rakyat di tempat-tempat itu.
Perjalanan bersama Menteri BUMN ke Desa Aboru menjadi salah satu rangkaian kunjungan kerja dari Mayjen Doni Monardo untuk merangkul masyarakat Maluku. Rakyat Maluku diharapkan dapat meninggalkan pola relasi konflik SARA. Hidup dan dengan dalam perdamaian akan melahirkan tekad bersama untuk membangun Maluku yang sejahtera lahir dan batin dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Perjalanan ke Aboru
Rini dan Doni menempuh rute perjalanan ke Aboru dengan memakai kapal feri. Harakuru bisa dicapai dalam durasi waktu 1,5 jam. Ketika tiba di Desa Aboru, rombongan harus berjalan kaki selama 15 menit untuk mendapatkan jalan yang bisa dilalui kendaraan menuju tempat upacara. Perjalanan Doni dan Rini akhirnya berujung di Dusun Neira, Desa Aboru sebagai tempat yang dipilih untuk menyelenggarakan upacara.
Sepanjang perjalanan ke tempat upacara, Rini dan Doni sangat terkesan terhadap pemandangan alam dan penyambutan rakyat di Pulau Haraku. Pemandangan desa yang menawan berupa hutan belantara yang indah dan keelokan pantai di sekitar Desa Aboru membuat rombongan berhenti untuk mengabadikan momen tersebut. Beberapa kali Rini meminta rombongan berhenti sejenak untuk berfoto dengan latar belakang pemandangan dan lautan.
Rombongan yang dipimpin Rini dan Doni mendapatkan sambutan yang antusias dari masyarakat Aboru. Ketika tiba di Neira, rombongan disambut oleh lambaian tangan warga, kemeriahan marching band, acungan semangat bendera RI yang dibawa oleh anak-anak sekolah.
Upacara HUT RI dan Penyerahan Bantuan
Para PNS, Guru, personel TNI/POLRI, dan rakyat sangat bergembira atas kehadiran rombongan Rini dan Doni sehingga mengikuti upacara hari kemerdekaan dengan khidmat. Pasukan Paskibra dari SMA 3 Pulau Haruku mempertontonkan keahlian mereka berbaris mengibarkan bendera dengan tegas dan penuh hormat. Para siswa Taman Kanak-Kanak tidak ketinggalan mengikuti jalannya upacara. Anak-anak kecil yang berduyun-duyun menghadiri upacara kemerdekaan ditempatkan di tenda karena cuaca yang agak panas. Masyarakat yang hadir tetap bersemangat mengikuti upacara dan kegiatan-kegiatan setelah upacara.
Seusai upacara, para siswa SD menyajikan tarian daerah Maluku yang dipadukan dengan pianika yang merdu. Selain itu, perayaan hari kemerdekaan turut dimeriahkan dengan lomba-lomba seperti panjat pinang, tarik tambang dan lain-lain. Rini dan Doni juga dengan penuh keramahan mengundang masyarakat yang hadir dalam acara makan siang bersama dalam situasi persaudaraan dan keramahan.
Direktur Utama PT Bank Mandiri juga memberikan bantuan CSR kepada masyarakat berupa Bedah Rumah untuk para veteran perang, dan juga para atlet berprestasi yang pernah mengharumkan Provindi Maluku dan Maluku Utara. Program CSR BUMN juga memberikan bantuan pengadaan sarana dan prasarana saluran air bersih, pembangunan 10 MCK yang disebarkan di seluruh daerah pulau. Selain itu, setiap pasukan pengibar bendera mendapatkan penghargaan sebesar 5 juta rupiah.
“Program kami Bedah Rumah veteran itu bermanfaat. Kami ingin coba lebih banyak lagi karena masih banyak sekali veteran yang belum mendapatkan rumah yang layak”, kata Rini saat menyerahkan bantuan.
Rini dalam kesempatan itu menekankan komitmen pemerintah untuk membangun di seluruh pelosok tanah air, terutama daerag-daerah terpencil. “Kita sekarang mencoba ke daerah-daerah yang mungkin sebelumnya tidak terlalu terjangkau,” kata Rini. Karena itu, Rini mengaku sangat senang ketika merayakan hari kemerdekaan RI di Desa Aboru. Perayaan hari kemerdekaan jauh dari perkotaan itu membuat Rini lebih memaknai makna kemerdekaan.
“Tapi justru dari daerah-daerah seperti ini, saya mendapat masukan dari Pak Pangdam perlu sentuhan untuk bisa merasakan arti kemerdekaan itu”, ujar Rini.
Pangdam dan Pendekatan Kesejahteraan
Mayjen Doni Monardo, Pangdam XVI/Pattimura memang sudah mengunjungi wilayah-wilayah konflik di Maluku untuk merangkul dan mengajak masyarakat untuk bekerja sama dalam pembangunan. Beliau keluar masuk desa, hutan, dan pulau untuk mengunjungi masyarakat. Beliau berusaha merangkul masyarakat yang memiliki potensi konflik yang cukup besar dengan melakukan pembinaan dan bimbingan.
“Saya rasa sukacita karena selama ini dengan adanya Bapak Pangdam, sudah jelas sekali perhatiannya. Selama ini negeri ini tidak pernah didatangi bapak-bapak ini. Dari Kodam sekarang juga sering datang beri kami bantuan,” kata Josias Sinay (50), seorang penari cakalele yang pernah menjadi prajurit RMS. Josias sekarang sudah meninggalkan RMS, karena hidup bersama RMS mendatangkan banyak penderitaan dan kemiskinan. Ia dipenjara, sehingga keluarganya menjadi kurang harmonis.
Menurut Josias, alasan masuk RMS itu karena persoalan keadilan yang tidak merata karena kurangnya perhatian dari pemerintah. Namun, bimbingan, pembinaan dan bantuan fisik yang ditunjukkan oleh pemerintah dalam wujud kunjungan menteri dan pangdam itu mulai menghapus masalah keadilan itu. Karena itu, Josias sangat mengharapkan perhatian yang lebih intensif dari pemerintah.
“Pemerintah jangan lupakan negeri kami. Agar anak-anak saya, generasi mereka lebih bagus. Cukup saya saja yang gagal. Saya harap jangan cuma Aboru yang diperhatikan, tetapi juga di desa-desa tetangga kami supaya tidak ada kecemburuan dan kecurigaan”, harap Josias. Perhatian pemerintah membuat Josias dan teman-teman RMS lebih memaknai kemerdekaan. Hari kemerdekaan ini, diartikan sebagai kembali pada pangkuan Ibu Pertiwi.
--- Simon Leya
Komentar