PENDIDIKAN Sekolah Tempat Anak Mengakhiri Hidup Diduga Pungut Sumbangan dan Mengumumkannya 06 Feb 2026 20:31
Diyah mengatakan, selain memungut sumbangan, diduga juga bahwa pihak sekolah mengumumkan anak-anak yang belum membayar sumbangan tersebut.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan bahwa pihak sekolah tempat sang anka yang diberitakan mengakhiri hidup dengan membunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT)ki diduga memungut sumbangan sebesar Rp1 juta per anak.
"Memang ada sumbangan yang senilai Rp1 juta dan itu adalah sumbangan yang disepakati oleh sekolah dan komite. Uang ini uang komite," kata Anggota KPAI Diyah Puspitarini di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Diyah mengatakan, selain memungut sumbangan, diduga juga bahwa pihak sekolah mengumumkan anak-anak yang belum membayar sumbangan tersebut.
Karena itu, KPAI meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengecek kebenaran terkait hal tersebut.
"Meskipun informasi dari sekolah tidak ada pembicaraan (sumbangan) di depan anak, kami meminta Kemendikdasmen untuk mengecek kebenaran itu. Kami juga minta konfirmasi kepada orang tua karena pihak orang tua menyampaikan bahwa ada pengumuman siapa anak yang belum membayar," kata Diyah Puspitarini seperti dikutip Antara.
Sebelumnya, pada Kamis (29/1), YBR (10), seorang siswa kelas 4 SD Negeri di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Dia juga meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya.
Sebelum kejadian, YBS sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pulpen. Namun, permintaan itu tak bisa dikabulkan karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Selama ini korban tinggal bersama neneknya yang berusia lanjut, sementara ibunya berinisial MGT (47) tinggal di kampung lain bersama dua saudara korban. Sementara dua saudara tiri korban sudah berusia dewasa dan merantau ke Papua dan Kalimantan.
Ibu korban menafkahi lima anak, termasuk korban. Korban adalah anak bungsu dari lima bersaudara.
Ayah kandungnya merantau saat korban masih di kandungan ibunya, dan hingga kini tak pernah kembali. *
--- F. Hardiman
Komentar