PENDIDIKAN Akademisi Binus: Kasus Bundir Anak SD di NTT Bukti Nyata Gagalnya Sistem Pendidikan dan Perlindungan Sosial 05 Feb 2026 11:26
Orang tua perlu memperhatikan kondisi emosional anak dan membangun komunikasi pengasuhan yang lebih empatik dan demokratis di dalam keluarga agar tekanan psikologis tidak berujung fatal.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Tragedi meninggalnya seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang ditemukan bunuh diri pada 29 Januari 2026, sangat membuat dunia Pendidikan NTT terpukul.
Korban sebelumnya dilaporkan beberapa media sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen, namun tidak dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat sulit.
Doktor Frederikus Fios, filsuf dan dosen Character Building Doktor Frederikus Fios dari Bina Nusantara (Binus) University menilai, tragedi bunuh diri siswa berusia 10 tahun di Ngada tersebut kembali menyoroti kondisi sistem pendidikan, pengasuhan dan perlindungan sosial terhadap anak-anak di NTT khususnya di daerah pelosok.
“Meski pihak kepolisian kemudian menyatakan bahwa aksi tragis tersebut tidak semata-mata dipicu kebutuhan alat tulis, melainkan terkait tekanan psikologis akibat sering dinasihati orang tua, kasus ini tetap menunjukkan rapuhnya dukungan emosional dan sosial terhadap anak di lingkungan rentan. Bahkan secara umum hal ini menunjukkan gagalnya sistem Pendidikan, pengasuhan dan perlindungan sosial terhadap anak,” jelas akademisi yang akrab dipanggil Fritz tersebut.
Fritz lanjut menilai peristiwa ini sebagai eksplisitasi gagalnya sistem pendidikan dan kemiskinan struktural di NTT. Apalagi keluarga korban telah lama hidup dalam keterbatasan, minim pendampingan, dan kurang akses terhadap kebutuhan pendidikan. Secara khusus untuk negara harus memperhatikan ketersediaan kebutuhan pendidikan anak-anak sebagai suatu hak daripada beban.
“Negara perlu lebih serius memperhatikan fasilitas pendidikan agar ke depan tidak terjadi kasus-kasus serupa lain lagi yang terjadi di seantero tanah air Indonesia ini. Saatnya tanggung jawab kolektif semua pihak perlu disinergikan dengan lebih riil: pemerintah, dunia Pendidikan, orang tua, tokoh agama dan seluruh tokoh masyarakat,” tegas Doktor lulusan alumni Universitas Indonesia tersebut.
Tragedi ini merupakan suatu seruan moral agar pemerintah memperkuat kebijakan pendidikan inklusif, pemerataan alat belajar bagi anak di daerah miskin, serta penyediaan layanan konseling dan pembentukan karakter yang kuat di sekolah.
“Selain itu juga orang tua perlu memperhatikan kondisi emosional anak dan membangun komunikasi pengasuhan yang lebih empatik dan demokratis di dalam keluarga agar tekanan psikologis tidak berujung fatal pada anak-anak di NTT,”tutupnya.
---Hendrik Penu
Komentar