Breaking News

NASIONAL Dorong Inseminasi Buatan, Senator AWK: Sektor Peternakan adalah Masa Depan Indonesia 25 Apr 2026 10:39

Article image
Pimpinan dan Anggota Komite 2 DPD RI saat terlibat langsung dalam kegiatan “Aksi Nyata Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi (PVPV) 2026 di Bale Gede Pakuan, Bandung. (Foto: Dok. Ist)
"Pertama, kita bangun kesadaran bahwa swasembada itu penting. Kedua, kita libatkan masyarakat sebagai aktor utama, bukan sekadar penonton,” tandas AWK.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Angelo Wake Kako (AWK), mendorong percepatan program Inseminasi Buatan (IB) sebagai strategi kunci menuju swasembada daging dan susu. 

Upaya tersebut dikemas dalam gerakan bertajuk “Senator Inseminator” yang kini mulai dijalankan langsung di tengah masyarakat.

Senator AWK yang juga Wakil Ketua Komite II DPD RI itu terlibat langsung dalam kegiatan “Aksi Nyata Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi (PVPV) 2026” yang digelar oleh Kemenko Bidang PMK di Bale Gede Pakuan, Bandung, Rabu (22/4/2026) kemarin. 

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan Sumber Daya Manusia sektor peternakan agar lebih kompeten dan siap kerja.

“Sektor peternakan adalah masa depan Indonesia. Kalau kita serius, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi raksasa baru di bidang ini,” kata Senator AWK kepada media ini, Sabtu (25/4/2026)

Menurutnya, Inseminasi Buatan merupakan instrumen strategis untuk meningkatkan produktivitas ternak secara cepat dan terukur.

Ia menambahkan program ini juga sejalan dengan agenda besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong “revolusi putih”, yakni target swasembada daging dan susu nasional.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Senator AWK mengaku mulai mengimplementasikan program Inseminasi Buatan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia ingin memastikan masyarakat lokal tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam rantai produksi peternakan.

“Konsepnya, kita ingin masyarakat Nusa Tenggara Timur terlibat langsung dalam agenda swasembada pangan, khususnya di sektor peternakan sapi,” imbuhnya.

Melalui gerakan “Senator Inseminator”, Senator AWK berkomitmen untuk aktif turun ke desa-desa guna melakukan sosialisasi sekaligus praktik langsung Inseminasi Buatan. 

Menurutnya, program ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada pembangunan kesadaran (awareness) masyarakat serta pelibatan aktif (to be involved) peternak lokal.

“Pertama, kita bangun kesadaran bahwa swasembada itu penting. Kedua, kita libatkan masyarakat sebagai aktor utama, bukan sekadar penonton,” tandasnya.

Dijelaskan, Inseminasi Buatan memiliki sejumlah keunggulan; mulai dari peningkatan mutu genetik ternak, peningkatan angka kelahiran secara teratur, hingga optimalisasi penggunaan bibit pejantan unggul.

Selain itu, metode ini juga dinilai efektif dalam menekan risiko penularan penyakit pada ternak.

Senator AWK berharap, gerakan ini dapat menjadi model kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dalam mempercepat swasembada daging dan susu.

Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar program tersebut berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal keberpihakan kebijakan dan keterlibatan masyarakat. Kalau semua bergerak bersama, target swasembada bukan hal yang mustahil,” simpulnya.

--- Guche Montero

Komentar