Breaking News

NASIONAL SETARA Institute: Meski Jokowi Bukan Lagi Presiden RI, Pembungkaman Pasif Berlanjut 04 Feb 2025 17:31

Article image
Ketua Dewan Nasional SETARA Institute, Hendardi. (Foto: Ist)
Menurut Hendardi, kondisi demokrasi dan kebebasan sipil tidak akan berubah di Era Prabowo Subianto.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Ubaidilah Badrun, aktivis 1998 dan Dosen Universitas Negeri (UIN) Jakarta, dicopot dari jabatannya sebagai Ketua Departemen Sosiologi tanpa alasan yang jelas.

Aktivisme Ubaid yang berulang kali menyasar dugaan korupsi dan nepotisme keluarga mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), diduga menjadi salah satu pemicu utama pencopotannya yang tidak lazim.

Ketua Dewan Nasional SETARA Institute, Hendardi, dalam keterangan pers kepada media ini, Senin (3/2/2025), menilai sekalipun secara normatif Rektor memiliki kewenangan, tetapi tidak ada alasan kuat yang bisa diterima karena selama menjabat Ubaid, justru berkinerja baik dan mebubuhkan sejumlah prestasi bagi program studi yang dipimpinnya.

"Rektor UNJ bisa jadi tidak tahu bahwa Jokowi bukan lagi sebagai Presiden RI, sehingga aktivisme Ubaid yang kritis terhadap keluarga Jokowi, mesti dibungkam. Rektor UNJ masih merasa perlu melayani Jokowi dan keluarganya," kata Hendardi.

SETARA Institute beranggapan, pembungkaman pasif terhadap para akademisi dan aktivis, menjadi cara untuk melemahkan perlawanan, kritisisme dan aktivisme yang dipraktikkan Jokowi saat menjabat.

"Hanya segelintir guru besar dan akademisi yang tetap gigih bersuara meski dihadapkan pada tekanan dan pembungkaman pasif," sebut Hendardi.

Menuutnya, jika pembungkaman aktif dilakukan dengan kriminalisasi kebebasan berpendapat yang banyak menimpa aktivis HAM, aktivis bantuan hukum dan lingkungan, maka pembungkaman pasif umumnya dialamatkan kepada akademisi dan tokoh masyarakat dengan cara menghambat laju karir; misalnya untuk menjadi guru besar, atau mencopot jabatan di dalam kampus.

"Rektor lebih banyak menjadi tangan kekuasaan selama Jokowi menjabat dan selama musim Pemilu dan Pilkada, baik untuk mengendalikan aktivisme kampus maupun menyediakan dalil-dalil pembenaran atas tindakan sebuah rezim," sebutnya.

"Pembungkaman pasif terbaru bagi kalangan kampus adalah iming-iming konsesi tambang, melalui agenda revisi superkilat UU Minerba yang sedang berlangsung," imbuhnya.

Merujuk Indeks HAM SETARA Institute 2024, skor indikator kebebasan berekspresi dan berpendapat adalah 1,1, menurun 0,2 poin dari Indeks HAM 2023 pada skla 1-7.

Sementara Economist Intelligence Unit (EIU) yang merilis Indeks Demokrasi negara-negara di dunia, menempatkan Indonesia pada peringkat 56 dengan skor 6,53 di 2023 turun dua tingkat dari 2022.

Menurut Hendardi, kondisi demokrasi dan kebebasan sipil tidak akan berubah di Era Prabowo Subianto.

"Selain beban pelanggaran hukum dalam meraih kekuasaan dengan mengakali berbagai aturan melalui Mahkamah Konstitusi, Prabowo Subianto juga tidak memiliki imajinasi pemajuan demokrasi dan hak asasi manusia, sebagaimana tergambar pada 100 hari kepemimpinannya," sentil SETARA Institute.

Dijelaskan, tidak ada peta demokrasi yang dirancang, tidak ada agenda HAM disusun dan tidak ada tanda supremasi hukum akan digdaya.

"Alih-alih memperkuat supremasi sipil, Prabowo Subianto justru mendorong supremasi militer dengan melibatkan sebanyak dan seluas-luasnya purnawirawan, pejabat dan anggota TNI aktif dalam urusan-urusan sipil," Hendardi menandaskan.

--- Guche Montero

Komentar