REGIONAL Soroti Penggusuran Paksa oleh Bupati Ende di Jalan Irian Jaya, PADMA Indonesia: Pelanggaran Berat HAM dan Pengkhianatan Terhadap Rakyat Kecil 06 May 2026 17:36
"Keadilan untuk rakyat kecil tidak bisa dibungkam oleh arogansi kekuasaan mana pun," tandas Greg.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia, mengutuk dan mengecam keras tindakan penggusuran paksa rumah warga di jalan Irian Jaya, Kelurahan Potulando, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (4/5/2026).
Direktur Advokasi PADMA Indonesia, Greg Retas Daeng, S.H., M.H, dalam keterangan kepada media ini, Rabu (6/5/2026) menilai, eksekusi sewenang-wenang yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Ende atas perintah langsung Bupati Ende ini bukan lagi sekadar arogansi penertiban administratif, melainkan sebuah bentuk nyata pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang merampas ruang hidup masyarakat rentan.
"PADMA Indonesia mengecam keras arogansi Pemda Ende yang secara dingin mengabaikan upaya dialog serta permohonan penundaan eksekusi dari pihak Gereja melaui Provinsial SVD Ende," sorot Greg.
Berdasarkan sumber informasi yang diperoleh PADMA Indonesia, terang Greg, status tanah yang digusur tersebut saat ini masih dalam sengketa sejarah klaim yang belum tuntas berdasarkan bukti dokumen Gambar Situasi (GS) tahun 1924 dan 1932 yang merujuk pada tanah misi (Provinsial SVD Ende).
Greg menegaskan bahwa penggusuran paksa ini mengabaikan prinsip kemanusiaan dan secara telanjang menabrak konstitusi negara.
Ia menyoroti, Negara yang seharusnya hadir sebagai pelindung, justru beralih fungsi menjadi mesin penindas bagi warganya sendiri.
"Tindakan Pemda Ende ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap konstitusi. Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 dan Pasal 28G ayat (1) menjamin hak setiap orang untuk bertempat tinggal dan melindungi harta benda warga negara dari gangguan sewenang-wenang. Dengan mengabaikan proses mediasi yang dialogis, Bupati Ende juga telah menabrak ketentuan Pasal 40 UU HAM No. 39 Tahun 1999 yang memandatkan bahwa pemenuhan hak atas tempat tinggal harus dilakukan dengan cara-cara yang memanusiakan manusia,," urai Greg.
Lebih lanjut, Greg mengatakan bahwa hak dasar warga negara tersebut tidak berdiri di ruang hampa. Sebaliknya, instrumen konstitusi tersebut secara eksplisit menjamin hak setiap warga atas tempat tinggal dan kehidupan yang layak.
Menurut Greg, penggunaan alat negara untuk melegitimasi kekerasan oleh bupati Ende dalam kasus ini adalah bukti nyata telah terjadinya pelanggaran berat HAM yang terstruktur dan sistematis, di mana ujungnya ada korban yang bernama warga negara.
"Bupati Ende itu advokat juga. Harusnya Beliau paham bagaimana prinsip HAM menjadi sumber implementasi hukum dalam kasus ini. Penggusuran tanpa proses dialog yang adil, tanpa relokasi yang memanusiakan manusia, dan dilakukan dengan pendekatan kekerasan adalah pelanggaran berat HAM yang terstruktur dan sistematis. Alasan penataan ruang atau ketertiban umum tidak bisa dan tidak boleh digunakan sebagai alat legitimasi untuk menempatkan warga negara sebagai korban," sorot Greg.
Merespons pelanggaran berat HAM dan tindakan kekerasan oleh Pemda (Bupati Ende, red), di jalan Irian Jaya, PADMA Indonesia menyatakan sikap dan menuntut secara tegas;
Pertama, mendesak Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarnoputri, untuk segera mengevaluasi secara total dan memecat Bupati Ende dari jabatan dan struktur keanggotaan partai.
"Tindakan niretik dan anti-kemanusiaan yang dilakukan Bupati Ende sama sekali mengkhianati dan bertolak belakang dengan marwah, prinsip, serta ideologi PDI Perjuangan yang seharusnya menjadi tameng pembela nasib wong cilik atau rakyat kecil yang terpinggirkan," sorot Greg.
Kedua, mendesak pencopotan Kasat Pol PP Kabupaten Ende dari jabatannya. "Keterlibatan dan cara-cara brutal yang ditunjukkan oleh Kasat Pol PP beserta seluruh bawahannya di lapangan telah menodai institusi dan meruntuhkan citra Pamong Praja yang seharusnya bertindak sebagai pengayom masyarakat yang persuasif dan humanis, bukan sebagai preman berseragam penindas rakyat," tegas Greg.
Ketiga, meminta Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) untuk segera turun tangan mencopot Kapolres Ende atas dugaan kuat pembiaran dan/atau keterlibatan aparat kepolisian dalam tragedi penggusuran ini.
Keempat, mendesak Divisi Propam Polri untuk memeriksa secara etik dan menindak tegas seluruh personel Polres Ende yang berada di lapangan dan terlibat dalam operasi penggusuran paksa tersebut.
"Polri adalah pelindung rakyat, bukan alat kekuasaan," tegasnya.
Kelima, menuntut tanggung jawab penuh Pemda Ende untuk memulihkan hak-hak warga korban penggusuran, termasuk memberikan ganti rugi material dan imaterial, serta menyediakan tempat tinggal pengganti yang layak huni.
Keenam, meminta Komnas HAM RI untuk segera memanggil Bupati Ende dan melakukan investigasi menyeluruh atas tragedi kemanusiaan tersebut.
Greg berkomitmen, PADMA Indonesia akan terus berdiri di garis terdepan bersama warga jalan Irian Jaya yang tergusur dan mengawal kasus ini hingga aktor-aktor intelektual dan pelaku di lapangan dimintai pertanggungjawaban di mata hukum.
"Keadilan untuk rakyat kecil tidak bisa dibungkam oleh arogansi kekuasaan mana pun," tandas Greg.
--- Guche Montero
Komentar