PENDIDIKAN Tingkatkan Literasi Anak di Papua, WVI Kampanye "Baca Tanpa Batas" 12 Jul 2023 21:06
Hanya sekitar 36,1% anak kelas 3 SD di Papua yang memiliki keterampilan membaca dengan pemahaman. Di beberapa daerah seperti Asmat, tingkat literasi bahkan hanya mencapai 26,5%.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Wahana Visi Indonesia (WVI), sebuah organisasi yang fokus pada anak-anak, telah meluncurkan kampanye “Baca Tanpa Batas” untuk mengatasi masalah rendahnya tingkat literasi anak di Papua. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan literasi anak-anak melalui pendirian Kampung Literasi dan pelatihan para tutor.
Menurut data survei literasi yang dilakukan oleh WVI di akhir tahun 2022, tingkat literasi anak-anak di Papua masih sangat rendah. Hanya sekitar 36,1% anak kelas 3 SD di Papua yang memiliki keterampilan membaca dengan pemahaman. Di beberapa daerah seperti Asmat, tingkat literasi bahkan hanya mencapai 26,5%.
Salah satu faktor penyebab rendahnya literasi di Papua adalah kurangnya kompetensi guru dalam literasi dasar seperti membacakan buku cerita dan mengajarkan kosakata baru.
Dalam upaya mengatasi masalah ini, kampanye Baca Tanpa Batas mencakup beberapa strategi. Pertama, WVI akan membangun Kampung Literasi yang meliputi pembangunan 3 rumah baca dan 5 motor pustaka.
Selain itu, WVI juga akan menyediakan materi kontekstual dan alat peraga yang dapat meningkatkan minat baca anak-anak. Pendampingan masyarakat dan pemerintah juga menjadi fokus kampanye ini, dengan melibatkan mereka dalam pelatihan tutor dan dukungan terhadap kegiatan literasi.
Kepala Divisi Keterlibatan Publik dan Komunikasi WVI, Yuventa, mengungkapkan bahwa kampanye Baca Tanpa Batas menargetkan sektor pendidikan di Papua, terutama pendidikan anak-anak di tingkat SD.
Menurutnya, membaca pada tahun-tahun pertama sekolah dasar memiliki peran penting dalam mempengaruhi daya ingat dan kesinambungan pendidikan anak di masa depan. Ia juga mengakui potensi luar biasa yang dimiliki anak-anak Papua dalam belajar hal-hal baru, namun terdapat kesenjangan yang signifikan dalam tingkat literasi mereka dibandingkan dengan anak-anak di daerah lain.
“Karena itu, kami mengajak masyarakat luas untuk mewujudkan ekosistem literasi yang baik bagi anak-anak di Papua,” ujarnya di Jakarta, Rabu (12/7).
Marthen S. Sambo, Education Team Leader WVI mengatakan, guru jarang membacakan buku cerita di kelas. Guru juga jarang bertanya pada anak apa yang sedang mereka baca, dan jarang mengajarkan kosa kata baru.
“Anak-anak kelas 3 SD di Asmat hanya bisa membaca 5 kata dengan benar dalam waktu satu menit, sedangkan standarnya murid kelas 3 SD bisa membaca sampai 80 kata per menitnya,” ungkapnya.
Dalam budaya Papua, budaya tutur mendominasi dibandingkan budaya tulis, karena itu isu literasi jadi persoalan turun temurun. Juga masih ditemukan juga guru-guru yang tidak menguasai literasi. Hal ini berdampak pada adanya dorongan untuk anak-anak membaca buku, tapi guru tidak dapat memberi pendampingan.
Lain lagi di Biak. Di sana, ditemukan banyak guru yang sudah tua, sehingga sulit mengikuti inovasi kegiatan belajar-mengajar yang dapat memicu keterampilan murid. Pengawasan sekolah tidak berjalan, sebab semua pengawas di Biak sudah pensiun. Menurut data WVI, hanya 40,9% (tahun 2022) anak kelas 3 SD di Biak terampil membaca dan paham isi bacaannya.
Penyanyi sekaligus Hope Ambassador WVI, Monita Tahalea, yang baru-baru ini berkunjung ke Biak, menyampaikan bahwa dirinya melihat anak-anak di sana masih sulit mengeja nama sendiri.
“Pengenalan akan diri sendiri itu penting. Anak-anak yang mengetahui identitasnya akan punya jiwa kepemimpinan, mereka tidak akan takut bertanya. Lalu, banyak kasus di Papua dimana anak-anak terjebak kasus kekerasan seksual. Ketika keterampilan literasi dimiliki, anak-anak ini bisa paham identitas mereka, punya wawasan luas, tahu hal-hal yang boleh dan tidak boleh, dan juga punya mimpi untuk hidup yang lebih baik,” katanya.
“Ketika ditanya apa harapan masyarakat disana, ada satu orang tua yang angkat tangan dan ngomong dia ingin anak-anaknya, anak-anak disana, bisa maju dan punya daya saing di tempat yang lebih luas lagi. Anak-anak, orang tua, WVI, pemerintah, dan media, mari bekerja sama untuk menghasilkan perubahan yang luar biasa bagi peningkatan literasi anak-anak di Papua,” ujar Gaby Cristy, Penyanyi, Duta Kampanye Baca Tanpa Batas, yang juga berkunjung ke Biak bersama Monita.
Figur publik lainnya yang turut mendukung kampanye ini antara lain Gaby Cristy, Joanna Alexandra, Sidney Mohede, Becky Tumewu, dan Kezia Aletheia, dan Jovial Da Lopez.
“Mimpi saya untuk anak-anak Papua adalah mereka dapat mencapai potensi maksimal mereka. Saat ini mereka belum diberikan kesempatan itu. Tidak penting untuk menyamaratakan mereka dengan anak-anak lain di Pulau Jawa atau negara barat. Itu bukan tujuannya (bagi saya). Bukan untuk disamaratakan, tetapi mereka harus diberikan tempat dan kondisi agar mereka dapat mencapai potensi maksimal mereka,” ujar Jovial Da Lopez.
Kampung Literasi (KL) adalah sebuah intervensi kolaboratif dari WVI bersama para pemangku kepentingan di kampung, mulai dari anak, orang tua/pengasuh, perangkat kampung, institusi keagamaan, masyarakat, dan pemerintah. Tujuannya untuk meningkatkan akses anak pada kegiatan-kegiatan literasi yang berkualitas di kampung di daerah 3T. Dampak akhirnya adalah meningkatnya persentase anak usia sekolah dasar yang mampu membaca dan memahami bacaannya. ***
--- F. Hardiman
Komentar