INTERNASIONAL Ultimatum Iran, Trump: Harus Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam 22 Mar 2026 17:15
Ultimatum itu disampaikan hanya sehari setelah Trump menyebut sedang berpikir mengakhiri operasi militer di Iran setelah tiga pekan perang.
WASHINGTON DC, IndonesiaSatu.co-- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberikan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz di tengah eskalasi perang Timur Tengah.
Pada Sabtu (21/3/2026), Trump menyatakan, Iran memiliki waktu 48 jam untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Jika tidak, AS mengancam akan menyerang dan menghancurkan infrastruktur energi Iran.
Trump menyampaikan ancaman tersebut melalui platform Truth Social.
Ia menegaskan, AS akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dengan yang terbesar.
Presiden ke-47 AS itu juga menetapkan batas waktu hingga Senin pukul 23.44 GMT (Selasa, 06.44 WIB) sesuai waktu unggahannya.
Ultimatum itu disampaikan hanya sehari setelah Trump menyebut sedang berpikir mengakhiri operasi militer di Iran setelah tiga pekan perang.
Pada saat bersamaan, Selat Hormuz masih tertutup dan ribuan Marinir AS tambahan dilaporkan bergerak menuju Timur Tengah. Menanggapi ancaman Trump, militer Iran menyatakan akan menyerang infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi milik AS serta sekutunya di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor berita Fars.
Di sisi lain, Iran membantah telah menutup selat tersebut secara total.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan, pembatasan hanya berlaku bagi kapal dari negara yang terlibat dalam serangan ke Iran.
Araghchi menegaskan bahwa Iran tetap membuka akses bagi negara lain.
“Kami belum menutup selat tersebut. Selat itu terbuka,” kata Araghchi, dikutip dari kantor berita AFP, melansir Kompas.com
Araghchi juga mengungkapkan, Iran siap membantu kapal dari negara-negara yang tidak terlibat konflik. Contohnya, Iran bersedia membantu kapal-kapal Jepang melintasi Selat Hormuz, yang disampaikan Araghchi dalam wawancara telepon dengan Kyodo News pada Jumat (20/3/2026).
Pernyataan itu penting bagi Tokyo karena Jepang sangat bergantung pada impor minyak mentah dari Timur Tengah.
Sebagian besar pasokan energi Jepang juga melewati Selat Hormuz. Jepang sendiri merupakan negara ekonomi terbesar keempat di dunia. "Negeri Sakura" tercatat sebagai importir minyak terbesar kelima.
Sebanyak 95 persen impor minyak Jepang berasal dari Timur Tengah. Dari jumlah itu, sekitar 70 persen dikirim melalui Selat Hormuz. Tekanan terhadap pasokan energi membuat Pemerintah Jepang mengambil langkah antisipasi.
Pada Senin (16/3/2026), Tokyo mulai melepaskan cadangan minyak strategisnya, salah satu yang terbesar di dunia. Adapun Jepang memiliki cadangan minyak setara dengan kebutuhan konsumsi domestik selama 254 hari.
--- Guche Montero
Komentar