INTERNASIONAL Penembakan di Gedung Putih, Pelaku Tewas di Tangan Secret Service 24 May 2026 13:11
Pelaku penembakan diidentifikasi sebagai Nasire Best, seorang pria yang sebelumnya pernah berurusan dengan Secret Service.
WASHINGTON DC, IndonesiaSatu.co – Insiden penembakan terhadap petugas terjadi di pos pemeriksaan Gedung Putih, Washington, D.C., Amerika Serikat (AS), pada Sabtu (23/5/2026) petang waktu setempat.
Dilansir DPA, Minggu (24/5/2026), insiden tersebut melukai satu warga sipil, sedangkan pelaku penembakan dinyatakan tewas terkena tembakan balasan satuan khusus Secret Service.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, melalui media sosial “Truth Social”, mengungkapkan pelaku penembakan tersebut memiliki riwayat kekerasan.
Trump juga mengucapkan terima kasih kepada Secret Service dan aparat penegak hukum yang sudah bekerja dengan baik menangani situasi tersebut.
"Terima kasih kepada Secret Service dan Penegak Hukum kita yang hebat atas tindakan cepat dan profesional yang diambil malam ini terhadap seorang pria bersenjata di dekat Gedung Putih, yang memiliki riwayat kekerasan dan kemungkinan obsesi terhadap bangunan paling berharga di negara kita," tulis Trump seperti dikutip dari DPA.
Insiden tersebut terjadi sekitar satu bulan setelah penembakan di acara gala media Gedung Putih.
"Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya bagi semua Presiden di masa depan untuk mendapatkan ruang yang paling aman dan terjamin yang pernah dibangun di Washington D.C. Keamanan Nasional negara kita menuntutnya!" tegasnya.
Sementara itu, pelaku penembakan diidentifikasi sebagai Nasire Best, seorang pria yang sebelumnya pernah beberapa kali berurusan dengan Secret Service.
Pada Juni 2025 Best melakukan aksi menghalangi jalur masuk ke Gedung Putih dan mengklaim dirinya sebagai "Tuhan". Ia ditahan Secret Service dan dibawa ke Psychiatric Institute of Washington untuk evaluasi kesehatan mental.
Pada bulan berikutnya, Juli 2025, Secret Service kembali menangkap Best setelah ia mencoba memasuki jalur kendaraan di kompleks Gedung Putih. Seorang hakim kemudian mengeluarkan perintah yang mewajibkannya menjauhi area Gedung Putih.
Sumber tersebut mengatakan saat menyelidiki kejadian pada tahun lalu penyidik menemukan bahwa Best membuat berbagai pernyataan di media sosial termasuk mengaku sebagai "Osama bin Laden yang asli."
Penyidik juga menemukan setidaknya satu unggahan yang menunjukkan keinginannya menyakiti Presiden Donald Trump.
Dengan kejadian pada Sabtu (23/5/2026) kemarin, Donald Trump setidaknya sudah menjadi target empat dugaan upaya pembunuhan.
Pada 25 April 2026, ia menjadi target upaya pembunuhan dalam sebuah acara gala media yang digelar oleh pihak Gedung Putih di sebuah hotel. Saat itu, seorang pria bersenjata menyerbu pos pemeriksaan keamanan acara. Namun Pria itu tidak dapat mendekati Trump atau tamu lain yang menghadiri acara tersebut.
Pada Juli 2024, Trump menjadi sasaran selama rapat umum kampanye di Butler, Pennsylvania. Seorang pria bersenjata membunuh seorang penonton dan melukai telinga calon presiden saat itu.
Beberapa bulan kemudian, seorang pria bersenjata lainnya ditangkap di lapangan golf West Palm Beach tempat Trump bermain golf.
--- Aprilio G.