Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

AGAMA John Prior: Keluarga Sumber Kejujuran dan Kebajikan Nurani 19 Jun 2016 15:20

Article image
Dosen STFK Ledalero Dr. John Mansford Prior, SVD. (Foto: Ist)
Keluarga harus mampu menjadi sumber kabajikan dan kejujuran nurani agar anak bisa bertumbuh dan berkembang menjadi orang baik dan jujur.

MAUMERE, IndonesiaSatu.co---Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Dr. John Mansford Prior, SVD mengatakan, keluarga merupakan tempat awal yang menjadi sumber kebajikan dan kejujuran nurani yang mampu membawa perubahan bagi masa depan bangsa.

“Saya mencoba mengutip bahasa almarhum Chris Siner Key Timu tentang tuna nurani (buta nurani). Keluarga harus mampu menjadi sumber kabajikan dan kejujuran nurani agar anak bisa bertumbuh dan berkembang menjadi orang baik dan jujur,” kata Johon saat membawakan seminar sehari memperingati 45 tahun Paroki Thomas Morus yang bertempat di Aula Uiversitas Nusa Nipa Maumere, Sabtu, 18 Juni 2016.

Dalam pemaparannya, John mengupas secara mendetail tentang kehidupan, karya dan pemikiran Thomas selama hidupnya. Thomas More lahir di London pada tahun 1477 dari pasangan John More dan Ibu Agnes, pada masa pemerintahan Edward IV. “More adalah sosok seorang yang memiliki kepribadian yang baik dan jujur. Tidak semua orang bisa memiliki kepribadian seperti More, demikian kata John.

Lebih lanjut misionaris dan mantan Pastor Paroki Thomas More Keuskupan Maumere ini menggugat peserta diskusi dengan membeberkan fakta kehidupan keluarga di Kabupaten Sikka hari ini.

“Sadar atau tidak, hari ini ada begitu banyak masyarakat Sikka yang tertular penyakit HIV AIDS. Kurang lebih ada sekitar 500an orang mengidap penyakit HIV AIDS. Ada begitu banyak kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam rumah tangga,” kata John. Dari persoalan ini menurutnya,  muncul sebuah pertanyaan, apa yang sudah dibuat oleh keluarga di kabupaten Sikka yang mayoritas Katolik ini?

Sementara itu, Andreas Hugo Parera yang juga menjadi salah satu panelis dalam kegiatan diskusi tersebut melihat Thomas more dari konteks ke-Indonesiaan. Menurut Hugo, Thomas Morus adalah ideal type seorang pejuang pemikir, pemikir pejuang. Karena dalam perjalanan hidup dan karirnya Thomas More mewariskan apa yang disebut dengan satunya pemikiran, kata dan perbuatan sampai akhir hayatnya.

“Bebeapa persoalan dari sekian banyak problem Indonesia hari ini adalah pemerintahan yang korup, minim efektvitas dan kepercayaan, lemahnya penegakan hukum dan ketidak seimbangan pembangunan kota dan desa antara wilayah Jawa dan luar Jawa,” ungkap Hugo.

Hadir juga Ir. Cyrilus Kerong  yang membedah pemikiran dan semangat kerja More dalam kehidupan nyata umat Katolik dewasa ini. Dalam konteks kehidupan keluarga menurut Sirilus, anak adalah produk didikan keluarga. Gambaran keluarga Thomas More lanjutnya, adalah cerminan pembentukkan keluarga Katolik yang hidup berdasarkan cinta kasih. Maka menurut Sirilus, keluarga merupakan bengkel utama pembentuk patriot Katolik,.“Saya melihat Thomas More sebagai inspirator dan motivator dalam melaksanakan karya kerasulan awam gereja,” ujar Sirilus.

 

---Erby Bitan

Komentar