Breaking News

REFLEKSI “Flexing” di Medsos: Jangan Pamer Uang Tapi Hal yang Inspiratif dan Motivasional Seperti Gaya Hidup Sehat 25 Oct 2026 13:47

Article image
Valens Daki-Soo, pengusaha, Pendiri & CEO VDS Group (Foto: Ist)
Menginspirasi orang lain untuk hidup lebih sehat adalah bentuk kekayaan yang manfaatnya dapat melampaui diri kita sendiri.

Oleh Valens Daki-Soo*

 

DI era media sosial, "flexing" atau memamerkan sesuatu yang dianggap sebagai simbol kesuksesan telah menjadi fenomena yang lumrah. Ada yang bangga memamerkan mobil mewah, tas bermerek, jam tangan mahal, rumah megah, hingga gaya hidup serba glamor.

Sering kali ketika saya menyimak 'postingan' di medsos, ada kesan seolah-olah nilai seseorang ditentukan oleh seberapa banyak kekayaan yang bisa dipertontonkan kepada publik.

Padahal, kesuksesan tidak selalu harus diukur dari apa yang kita miliki, melainkan juga dari bagaimana kita menjalani hidup.

Kekayaan memang layak disyukuri, tetapi ada kemewahan yang jauh lebih berharga daripada uang dan barang bermerek. Contohnya, tubuh yang sehat, pikiran yang tenang, hati yang bahagia, dan energi untuk menikmati kehidupan.

Oleh karena itu, boleh saja flexing, tetapi mengapa tidak mengubah apa yang kita pamerkan? Daripada berlomba-lomba menunjukkan isi rekening atau barang mewah, bukankah lebih inspiratif jika kita memamerkan gaya hidup sehat, disiplin berolahraga, kebiasaan bermeditasi, pola makan yang baik, serta semangat untuk menjalani hidup dengan penuh energi?

Hemat saya, sehat adalah kemewahan yang sejati dan sesungguhnya.

 

Mengubah Standar Kemewahan

Coba kita renungkan. Apa gunanya memiliki mobil mewah jika tubuh terlalu lemah untuk menikmati perjalanan? Apa artinya memiliki rumah megah jika pikiran selalu gelisah dan tidur tidak nyenyak? Apa gunanya rekening bank yang berlimpah jika kesehatan terus merosot akibat pola hidup yang buruk?

Tentu, uang tetap penting. Uang dapat membantu kita memperoleh makanan bergizi, akses pelayanan kesehatan, lingkungan tempat tinggal yang baik, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih nyaman.

Namun, uang tidak selalu bisa membeli kesehatan, ketenangan batin, atau waktu yang telah berlalu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan kesehatan sebagai bagian penting dari kesejahteraan fisik, mental, dan sosial manusia. Artinya, hidup sehat tidak cukup hanya dengan terbebas dari penyakit. Kita juga perlu menjaga keseimbangan mental, membangun hubungan sosial yang baik, serta memiliki kualitas hidup yang bermakna.

Dengan demikian, tubuh yang bugar, pikiran yang jernih, dan kemampuan menikmati kehidupan merupakan kekayaan yang patut disyukuri sekaligus dirawat.

 

Filosofi Hidup Sehat: Investasi untuk Diri Sendiri

Filsuf Stoik, Epictetus, mengajarkan pentingnya membedakan hal-hal yang berada dalam kendali kita dan yang berada di luar kendali kita. Kita tidak selalu bisa mengendalikan keadaan, usia, atau berbagai peristiwa kehidupan.

Namun, kata Epictetus, kita dapat berusaha mengendalikan kebiasaan, respons, dan keputusan sehari-hari.

Prinsip ini relevan dengan gaya hidup sehat. Kita mungkin tidak bisa menjamin bahwa tubuh akan selalu bebas dari penyakit. Namun, kita dapat mengambil langkah-langkah yang mendukung kesehatan, seperti berolahraga secara teratur, menjaga pola makan, tidur cukup, dan mengelola stres.

Sementara itu, filsuf Aristoteles menekankan pentingnya kebiasaan dalam membentuk karakter. Kebiasaan baik yang dilakukan berulang kali akan membentuk kualitas hidup seseorang.

Dalam konteks kesehatan, keberhasilan bukan semata-mata ditentukan oleh olahraga berat sesekali, melainkan oleh konsistensi melakukan hal-hal sederhana setiap hari.

Mulailah dengan berjalan kaki, mengonsumsi lebih banyak buah dan sayuran, mengurangi makanan yang kurang sehat, menjaga waktu tidur, dan menyediakan waktu untuk menenangkan pikiran melalui meditasi atau refleksi diri.

Kita tidak harus langsung menjadi atlet, memiliki tubuh kekar-perkasa, atau mengikuti tren kebugaran yang mahal. Yang terpenting adalah mengenali kebutuhan tubuh sendiri dan membangun kebiasaan sehat sesuai kemampuan.

 

Pikiran Sehat, Hidup Lebih Berkualitas

Psikolog Martin Seligman, salah satu tokoh penting psikologi positif, mengembangkan pendekatan yang menekankan kesejahteraan manusia, kekuatan karakter, relasi yang positif, dan kehidupan yang bermakna.

Pandangan ini mengingatkan kita bahwa hidup yang baik bukan hanya tentang mengejar kesenangan sesaat atau mengumpulkan simbol status. Kita juga membutuhkan kesehatan mental, hubungan yang berkualitas, rasa syukur, serta tujuan hidup yang memberi makna.

Meditasi, misalnya, dapat menjadi salah satu cara untuk melatih perhatian dan membantu sebagian orang mengelola stres. Demikian pula, aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur dapat mendukung kesehatan fisik sekaligus kesejahteraan mental.

Tentu, olahraga dan meditasi bukan obat untuk segala persoalan. Namun, keduanya dapat menjadi bagian dari upaya merawat diri agar kita lebih siap menghadapi tekanan dan tantangan kehidupan.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kemampuan berhenti sejenak, menarik napas, menikmati makanan sehat, dan mensyukuri kehidupan merupakan bentuk kemewahan yang sering kita abaikan.

 

Jadikan Media Sosial sebagai Ruang Inspirasi

Media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Persoalannya terletak pada bagaimana kita menggunakannya.

Jika setiap hari kita hanya menyaksikan perlombaan memamerkan kekayaan, harta material-finansial, dan status sosial, kita berisiko terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Padahal, apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang.

Mengapa kita tidak menjadikan media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan inspirasi?

Pamerkan kebiasaan berjalan kaki setiap pagi. Bagikan pengalaman memulai olahraga setelah lama bermalas-malasan. Ceritakan manfaat mengurangi gula, memperbaiki pola tidur, membaca buku, atau meluangkan waktu untuk meditasi.

Mari tunjukkan bahwa merawat kesehatan adalah proses yang membutuhkan komitmen, bukan sekadar penampilan untuk memperoleh pujian.

Tentu, tidak perlu berpura-pura sempurna. Tidak perlu pula menjadikan tubuh ideal sebagai standar untuk menilai orang lain. Setiap orang memiliki kondisi fisik, kemampuan, usia, dan tantangan yang berbeda.

Yang patut dibagikan adalah semangat untuk menjadi lebih sehat, bukan kesombongan karena merasa lebih sehat daripada orang lain.

Sebab, inspirasi yang baik bukan membuat orang lain merasa rendah diri, melainkan mendorong mereka mengambil langkah positif bagi kehidupannya sendiri.

 

Flexing yang Menggerakkan, Bukan Merendahkan

Memang, kita tidak perlu menghakimi setiap orang yang memamerkan kekayaan. Ada orang yang berbagi pencapaian sebagai bentuk syukur, dokumentasi perjalanan hidup, atau motivasi bagi orang lain.

Namun, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apa pesan yang ingin kita sampaikan melalui apa yang kita tampilkan?
Apakah kita hanya ingin dikagumi, atau ingin memberikan manfaat? Apakah kita ingin membuat orang lain iri, atau justru membantu mereka menemukan inspirasi?

Mari menggeser standar flexing zaman sekarang. Bukan lagi semata-mata tas bermerek, jam tangan mewah, atau mobil mahal yang kita ekspos ke area publik.

Akan jauh lebih inspiratif jika kita bangga karena mampu menjaga kesehatan, memiliki tubuh yang lebih sehat, rutin berolahraga sesuai kemampuan, membiasakan diri mengonsumsi buah, bermeditasi, dan tetap memiliki energi serta gairah untuk menikmati kehidupan.

Kita boleh memamerkan kemajuan diri, selama tidak merendahkan orang lain. Kita boleh membagikan gaya hidup sehat, selama tidak menjadikannya alat untuk menghakimi mereka yang sedang sakit atau memiliki keterbatasan.

Kesehatan bukan sekadar penampilan. Kesehatan adalah modal untuk bekerja, mencintai keluarga, membantu sesama, berkarya, dan menikmati waktu yang masih diberikan kepada kita.

Jadi, jika ingin flexing, pamerkanlah sesuatu yang membuat orang lain terinspirasi untuk hidup lebih baik. Pamerkan disiplin, kebiasaan sehat, pikiran positif, dan rasa syukur.

Kemewahan sejati bukan hanya tentang seberapa mahal barang yang kita miliki, melainkan seberapa baik kita mampu menjalani kehidupan.

Sehat itu "true luxury" alias kemewahan sejati. Merawat diri adalah investasi. Menginspirasi orang lain untuk hidup lebih sehat adalah bentuk kekayaan yang manfaatnya dapat melampaui diri kita sendiri. ***

 

*) Penulis adalah entrepreneur; peminat filsafat dan psikologi; Pendiri dan CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, dan Firma Hukum Veritas Dignitas Salus/VDS Law Firm)

Komentar